Pada tahun 2056, ingatan manusia bisa dicadangkan ke sebuah cloud. Namun, ada satu aturan ketat di pusat data: memori yang sudah dihapus oleh pemiliknya tidak boleh dipulihkan.
Perkenalkan, namaku Cassandra, seorang kurator di gudang data atau biasa disebut "Limbah Memori". Tugas aku sederhana: memastikan semua data yang dibuang benar-benar hancur tak tersisa.
Suatu malam, aku menemukan sebuah file tanpa nama yang tersangkut di sistem. Biasanya, file sampah hanya berisi potongan gambar buram atau suara bising. Tapi yang satu ini berbeda. Saat aku membukanya, layar monitorku tidak menampilkan gambar, melainkan hanya baris demi baris puisi.
Puisi itu sangat sederhana, tentang seseorang yang memandangi langit senja dari jendela keretanya. Namun, ada getaran aneh dalam kodenya. Puisi ini tidak ditulis oleh AI; ia mengandung jejak emosi manusia yang sangat dalam, seperti seseorang yang sedang menggenggam rahasia dengan tangan gemetar.
Di saat aku mulai menatap layar monitor yang bertuliskan: [HAPUS PERMANEN?] atau [BATALKAN?], aku sempat berpikir untuk beberapa saat, setelah memperhatikan bait demi bait yang terpampang di layar monitorku. Seketika jariku tertahan kala itu.
Ketika aku teringat bahwa di luar sana, semua orang ingin memamerkan segala pencapaian mereka. Orang-orang membagikan setiap detik hidup mereka ke media sosial hingga tak ada lagi yang tersisa untuk diri sendiri. Tapi penulis puisi ini berbeda. Dia memilih menghapus karyanya agar tidak ada satu orang pun di dunia yang bisa membacanya. Dia ingin keindahan itu mati bersamanya.
Aku melihat tulisan hapus di layar sekali lagi. Jika aku menekannya, kerahasiaan penulisnya akan terjaga selamanya. Namun, jika aku menyimpannya, keindahan itu akan tetap ada, meski hanya aku yang tahu.
Akhirnya, aku tidak menekan tombol hapus. Aku juga tidak menyimpannya di server. Aku mengambil selembar kertas, yang menjadi benda langka di zaman ini, dan menyalin puisi itu dengan pena. Setelah selesai, aku menghapus file digitalnya secara permanen.
Kini, puisi itu hanya ada di tanganku, di atas kertas yang bisa terbakar, di dunia nyata yang tidak terhubung ke internet. Aku memenuhi keinginan penulisnya: puisi itu tetap menjadi rahasia, tak tersentuh oleh publik, dan hanya berpindah dari satu hati ke hati yang lain