Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak bernama Arka. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam, tetapi selalu memperhatikan segala hal di sekitarnya. Suatu hari, ia melihat seorang kakek duduk di bawah pohon tua, memandangi jalan setapak yang panjang dan berliku.
Arka mendekat dan bertanya,
“Kenapa kakek selalu duduk di sini setiap sore?”
Kakek itu tersenyum tipis.
“Karena di jalan ini, banyak orang lewat. Tapi tidak semua tahu ke mana mereka pergi.”
Arka mengernyit. “Maksudnya?”
Kakek menunjuk ke jalan itu.
“Banyak orang berjalan cepat, seolah-olah mereka tahu tujuan. Padahal, mereka hanya mengikuti langkah orang lain. Sedangkan yang benar-benar tahu tujuan, seringkali berjalan pelan… karena mereka menikmati setiap langkah.”
Sejak hari itu, Arka mulai memperhatikan hidupnya sendiri. Ia tidak lagi terburu-buru ingin seperti orang lain. Ia mulai belajar, mencoba, gagal, dan bangkit lagi.
Suatu sore, Arka kembali menemui kakek itu.
“Kek, aku masih belum tahu mau jadi apa nanti.”
Kakek tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Bahkan orang dewasa pun banyak yang belum tahu.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
Kakek menatap Arka dengan penuh arti.
“Teruslah berjalan. Karena hidup bukan tentang seberapa cepat kamu sampai, tapi tentang seberapa banyak kamu belajar di perjalanan.”
Arka tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu takut tersesat.
Karena ia tahu, selama ia terus berjalan dan belajar, jalan itu akan menemukan arahnya sendiri.