Setayaga Family Murders
Pembunuhan Keluarga Setayaga
---[Kisah nyata]
---
[Setayaga, Tokyo, Jepang, 2000]
Di Jepang, keluarga suburban (pinggiran kota—Tokyo) biasanya mulai tidur antara pukul 10–11 malam, terutama orang tua yang bekerja full time.
Keluarga Miyazawa juga demikian begitu. Di malam yang diselimuti kabut tipis, dingin yang merayap masuk sampai ke lantai dua, dan bulan yang menyelip di balik awan bersama lenguhan burung gagak di kejauhan, empat anggota ini tampak masih terjaga—bersiap tidur setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tersisa.
Mikio Miyazawa—sang ayah (44 tahun)—duduk di sofa ruang tamu, menatap layar TV yang redup sambil memeriksa beberapa dokumen kerja yang menumpuk. Ada beberapa hal yang perlu ia selesaikan malam ini, jadi ia tampak serius.
Yumi Miyazawa—sang ibu (41 tahun)—pergi menuju dapur untuk menata beberapa barang, seperti uang tunai yang baru saja diambil dari bank, beberapa peralatan kecil, dan kunci rumah yang selalu ia simpan di tempat yang sama.
Di lantai atas, Natsumi—sang putri (8 tahun)—dan Ren—adik laki-lakinya (6 tahun)—sudah berada di kamar mereka.
Natsumi menyelimuti dirinya di dalam selimut, membaca buku cerita dengan lampu kecil yang menerangi wajahnya. Di sampingnya, Ren setengah terlelap, sesekali menutup dan membuka matanya karena suara langkah kaki ibunya yang mondar-mandir di lantai bawah.
• • • • •
Malam hampir mencapai puncaknya, nyaris menelan daerah pinggiran Tokyo dengan gelapnya yang sangat pekat.
Semua orang telah berdiam diri di rumah masing-masing, sibuk dengan urusan pribadi.
Seorang pria dewasa dengan jaket tudung hitam dan topi pun juga demikian begitu. Dia tengah mengerjakan urusannya yang belum selesai, yakni mengamati rumah Keluarga Miyazawa.
Dari tempatnya berdiri, ia dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana. Suara TV menyala, keributan kecil sang ibu saat merapikan barang-barang, serta lampu kamar di lantai atas.
Setelah waktu yang ditunggunya tiba, dia tidak perlu lagi bersembunyi. Dia berjalan memasuki halaman, menuju teras kecil. Langkahnya ringan, tenang, bahkan sesekali ia bersenandung menikmati udara dingin yang menyapu wajahnya.
Kini dia berdiri persis di depan pintu.
Ckleek..!
Itu bukan suara ketukan pintu selayaknya tamu datang berkunjung, melainkan suara gagang pintu ditekan.
Tidak terbuka. Itu terkunci.
Tapi tidak apa-apa. Masih ada pintu lain di rumah ini.
Yakni ... pintu belakang.
• • • • •
[31 Desember 2000]
Setsuko—ibu Yumi—datang berkunjung. Di tangannya, dia membawa sebuah keranjang rotan berisikan makanan dan beberapa hadiah kecil. Kebetulan dia baru pulang dari pasar, jadi pikirnya sekalian saja mampir menemui anak perempuan dan dua cucunya yang masih kecil. Melewati jalanan perumahan yang lenggang, ia pun tiba di rumah Keluarga Miyazawa. Tidak seperti tamu lainnya, dia memiliki perlakuan khusus dengan tidak perlu menekan bel untuk memberitahukan kedatangannya. Dia hanya perlu menggeser pagar sedikit, lalu masuk dengan langkah santai tanpa dicurigai.
Setsuko meletakkan sandalnya di teras, sebelum kemudian ia menyadari akan adanya sesuatu yang tampak berbeda di sana.
Pintu belakang ... bergoyang akibat angin bertiup, pertanda bahwa dibiarkan dalam keadaan tidak dikunci.
Ah, mungkin saja itu ulah cucunya yang pelupa. Ren yang masih berusia 6 tahun memang kadang-kadang suka berbuat sesuka hati. Kalau tidak ada yang memperhatikannya, dia bisa berbuat apa pun tanpa diketahui bahkan oleh kakak perempuannya yang dikenal galak.
Setsuko mengangkat bahu, tak mengindahkan pikirannya perihal pintu belakang itu. Ditepisnya perasaan yang tidak-tidak, lantas segera ia berjalan masuk melewati pintu depan. Dipijaknya lantai kayu dengan langkah perlahan, supaya kedatangannya menjadi kejutan yang istimewa.
Pada ambilan langkah kelima, Setsuko berhenti. Dia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, merasa asing akan adanya bau aneh yang tercium oleh hidungnya. Begitu pandangannya dihadapkan ke depan, ia baru menyadari ... saat ini ... di rumah Keluarga Miyazawa ... lampu mati dan jendela tidak dibuka seperti rutinitas yang dilakukan biasanya.
Jantungnya berdebar kencang. Muncul firasat buruk di kepalanya. Sekeras apa pun ia hendak menepisnya, ia tetap tidak bisa berpura-pura tak mempedulikannya. Segera ia berlari masuk. Sekarang tujuan pertamamya adalah menemukan semua orang—anak perempuannya yang manis, menantunya yang baik hati, serta dua cucunya yang menggemaskan.
"Yumi.. Yumi.. Kau ada di rumah?" Karena kecemasannya yang melonjak drastis, barang-barang bawaan Setsuko terjatuh. Keranjang rotan itu terlepas dari genggaman tangan keriputnya, alhasil buah segar serta hadiah kecil yang dibelinya dengan sangat hati-hati menggelinding dan memantul di atas lantai kayu.
Sembari ia memunguti satu demi satu barang-barang tersebut, ia kembali menyerukan nama-nama keluarganya, "Mikio.. Kau mendengar suaraku? Yumi tidak menjawabku. Sepertinya dia sedang sibuk di dapur, ya? Mikio.. Rumah kalian sangat sepi, sangat gelap. Di mana kalian semua? Natsumi-ku yang cantik.. apa kau sedang bersama Ren? Natsumi.. Siapa pun... Tolong jawab aku jika—"
Buah kesemek di kedua tangan Setsuko jatuh ke lantai, memantul sebentar sebelum akhirnya menggelinding ke sembarang arah. Ujung-ujung jarinya gemetar, begitu juga dengan kakinya yang mendadak kehilangan tenaganya.
"Masato!!"
Pria yang dipanggil namanya itu tengah duduk di sofa. Tubuhnya terlihat agak aneh, dengan posisi miring sedikit ke arah kanan, hampir seperti orang yang sedang berbaring saat sedang mengetik di depan laptopnya. Namun bagian yang paling membuat Setsuko terperanjat histeris sampai tidak bisa bisa bergerak adalah .... belasan luka tikam di perut dan dadanya. Kacamata Mikio tergeletak jauh di dekat kaki lemari, sementara bantal sofa dan peralatan pekerjaannya berhamburan di mana-mana. Setsuko mencoba berjalan mendekatinya, namun yang ia dapati hanyalah tubuh tak bernyawa dan noda darah yang membanjiri lantai kayu.
Dalam keadaan panik luar biasa, ia langsung teringat akan putrinya. Segera ia pun pergi menuju tempat yang paling sering didatangi Yumi; dapur. Tiba di sana, Setsuko memang bertemu dengan putrinya, namun ia sudah dalam keadaan terkapar di lantai. Tubuhnya menghadap lantai, mulai menampakkan warna keunguan samar di antara darah segar berbau anyir.
Setsuko tak bisa menahan keseimbangannya, akhirnya jatuh lemas di lantai. Dia berteriak memanggil nama putrinya berkali-kali, namun tak satu pun panggilannya terjawab selain suara napasnya sendiri.
"Natsumi..! Ren..!" Kini Setsuko bergantian memanggil nama cucunya. Dia menaiki tangga, pergi menuju kamar mereka di lantai dua.
Lagi dan lagi, seperti anak dan menantunya, ia mendapati Natsumi telah tertidur dengan banyak luka tikaman di perut. Darah masih menyembur keluar sedikit, membasahi seluruh pakaian dan sprai ranjang bermotif karakter. Di kamar sebelahnya, Ren yang masih kecil tidak memiliki luka serupa, tetapi sangat jelas bahwa cucu kecilnya itu dicekik sampai akhir. Tubuhnya telah berubah menjadi putih pucat, dengan otot leher dan wajah yang tampak menegang sebagai bentuk pertahanan.
• • • • •
Sinar matahari pagi menembus kabut tipis yang masih menggantung rendah di jalan-jalan distrik Setagaya. Udara terasa dingin dan lembap, meninggalkan aroma tanah basah dari gerimis semalam. Rumah Miyazawa dipagari pita kuning, sementara para petugas berjalan mondar-mandir, mengamati setiap sudut yang kini berubah sunyi setelah malam yang brutal itu.
Para penyidik menyisir seluruh area rumah dengan teliti. Jaket hitam, kemeja, sarung tangan, dan tas yang tertinggal dikumpulkan sebagai bukti. Darah dari lebih dari sepuluh titik rumah diambil untuk profil DNA. Sidik jari di pintu belakang, pegangan, dan jendela dianalisis, namun tak ada yang cocok dengan database kriminal—menunjukkan pelaku belum pernah masuk catatan polisi sebelumnya.
Jejak kaki di halaman belakang mengungkap jalur masuk dan keluar pelaku, sementara analisis tanah pada sol sepatu memberi petunjuk kemungkinan asal daerah. Masing-masing bukti disusun rapi, membentuk potret seorang pelaku yang teliti, terencana, dan misterius, namun tetap berhasil meninggalkan tanda yang bisa dibaca oleh penyidik terampil.
• • • • •
Bulan dan tahun silih berganti, kini telah genap mencapai 26 tahun sejak kejadian mengerikan itu.
Polisi masih terus menelusuri jejak-jejak lama, seperti DNA, sidik jari, dan jejak kaki, namun tak satu pun cocok dengan catatan kriminal yang ada. Profil pelaku tetap samar: pria dewasa, terencana, berhati-hati, dan kemungkinan besar kejahatan itu adalah yang pertama baginya.
Setiap laporan dari masyarakat diperiksa, setiap informasi baru ditindaklanjuti, namun selama bertahun-tahun tak ada yang membuahkan hasil. Warga Setagaya mulai perlahan melupakan tragedi itu, dan bahkan rumah yang kini dikelilingi pagar dan rerumputan liar menjadi simbol sunyi dari kejahatan yang tak terpecahkan
.
Jejak darah, pakaian, dan barang-barang pelaku tetap tersimpan di laboratorium, menunggu teknologi atau keberuntungan yang bisa mengungkap identitasnya. Dan sementara waktu terus berjalan, misteri malam itu tetap membayang: satu keluarga hancur, satu pelaku tak tertangkap, dan Setagaya menyimpan rahasia yang bahkan pengalaman dan kecerdikan polisi pun belum mampu menyingkap sepenuhnya.
• • • • •
Pembunuhan Keluarga Miyazawa
Ayah: Masato Miyazawa
Ibu: Yasuko Miyazawa
Kakak perempuan: Niina Miyazawa
Adik laki-laki: Rei Miyazawa
Status kasus: Belum terpecahkan
**Harusnya kan data penduduk kesimpen semua di database, kaya sidik jari, sampel jaringan, dll. Sebenernya ga perlu liat catatan para kriminal, tp aneh ga sih kalo sampe bener² gaada hasilnya?
Jejaknya ada, tapi orangnya gapernah diketahui.
Kenapa bisa gitu?
Ada yg tau?