Di bawah langit Ansan yang selalu tampak abu-abu di musim gugur, Santi Irmasari sering kali berdiri di depan jendela kaca pabrik otomotif tempatnya bekerja, menatap daun-daun mapel yang berguguran. Baginya, Korea bukan sekadar drama romantis dengan latar musik balada yang mendayu; Korea adalah deru mesin, aroma oli, dan dingin yang menusuk tulang. Sebagai gadis asal pedesaan Jawa Barat yang kental dengan adat Sunda, Santi membawa serta doa ibunya dalam tiap langkah. Ia adalah sosok yang teguh; jilbabnya selalu rapi meski ia harus bergelut dengan alat pelindung diri, dan suaranya selalu lembut namun tegas saat bicara soal prinsip. Di tengah hiruk-pikuk produktivitas Korea yang menuntut kecepatan, Santi adalah titik tenang yang menarik perhatian Kim Jong Hwan.
Kim Jong Hwan bukan sekadar atasan di divisinya. Ia adalah manajer muda yang dikenal dingin dan perfeksionis. Bagi Jong Hwan, hidup adalah garis lurus antara rumah dan pabrik. Namun, garis itu mulai berbelok sejak Santi datang. Ia memperhatikan bagaimana Santi selalu menyisihkan waktu di tengah istirahat yang sempit untuk membasuh wajah dan bersujud di pojok gudang yang bersih. Ia memperhatikan bagaimana Santi menolak dengan sopan saat diajak minum soju bersama tim, namun tetap hadir untuk menghargai kebersamaan dengan meminum teh jagung. Keteguhan Santi pada norma agama dan akar budayanya membuat Jong Hwan yang selama ini hidup dalam kekosongan spiritual mulai merasa penasaran.
Pertemuan-pertemuan kecil di koridor pabrik berubah menjadi percakapan panjang di kedai kopi saat jam kerja usai. Suatu sore, di bawah pohon ginkgo yang daunnya mulai menguning keemasan, mereka duduk berhadapan. Jong Hwan menyesap kopinya, matanya menatap lekat pada jemari Santi yang memutar-mutar gelas teh.
"Santi," panggil Jong Hwan pelan. Suaranya berat, namun penuh kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada bawahannya yang lain. "Di Korea, kami diajarkan bahwa waktu adalah uang. Palli-palli, cepat-cepat. Tapi sejak melihatmu, aku merasa waktu adalah pencuri. Ia mencuri saat-saat tenang yang seharusnya aku miliki untuk mengenal jiwaku sendiri."
Santi tersenyum tipis, sorot matanya teduh. "Di tempat saya, Pak, waktu itu seperti menanam padi. Ada saatnya membajak, ada saatnya menanti, dan ada saatnya memanen. Kita tidak bisa memaksa padi menguning hanya karena kita sedang terburu-buru."
Jong Hwan tertegun. Kalimat-kalimat sederhana itu terasa seperti semilir angin yang meruntuhkan tembok dingin di hatinya. Ia mulai belajar memahami mengapa Santi tidak bisa disentuh sembarangan, mengapa ia harus pulang ke Indonesia suatu hari nanti, dan mengapa bagi Santi, uang bukan segalanya. Ia sangat menghargai batasan yang dibuat Santi. Tidak ada sentuhan fisik, tidak ada rayuan murahan. Jong Hwan mencintai Santi dengan cara menjaga jarak yang terhormat, sebuah bentuk cinta yang bahkan jarang ditemui Santi di tanah airnya sendiri.
Keinginan Jong Hwan untuk menikahi Santi bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ia serius. Ia bahkan mulai mengunjungi masjid di Seoul, mempelajari gerakan salat, dan membaca terjemahan Al-Qur'an. Ia nyaris menjadi mualaf, bukan hanya karena ingin memiliki Santi, tapi karena ia menemukan kedamaian dalam cara Santi memandang hidup. Namun, di sinilah benturan itu terjadi. Santi, meski hatinya bergetar setiap kali melihat tatapan tulus Jong Hwan, memiliki logika yang tak bisa didebat. Ia ingat petuah di kampung halamannya; setinggi apa pun burung terbang, ia akan kembali ke sarang.
Puncaknya terjadi di tepi Sungai Han, ketika lampu-lampu kota Seoul mulai menyala, memantul di permukaan air yang tenang namun dingin. Jong Hwan menggenggam sebuah kotak kecil, namun ia tidak membukanya. Ia tahu, jawaban Santi lebih berharga daripada cincin apa pun.
"Santi, aku sudah belajar banyak. Tentang Tuhanmu, tentang caramu berdoa. Aku ingin menjadi bagian dari itu. Menikahlah denganku. Aku akan membangunkan rumah yang paling nyaman untukmu di sini. Kau tak perlu lagi bekerja di pabrik. Kau hanya perlu menjadi alasan bagiku untuk pulang setiap hari," ucap Jong Hwan dengan nada memohon yang menyayat hati.
Santi menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap Jong Hwan dengan kasih yang tulus, namun ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana.
"Jong Hwan-ssi, tahukah Anda mengapa saya berada di sini? Saya bekerja untuk masa depan di tempat di mana suara azan terdengar dari jendela kamar saya, bukan dari aplikasi ponsel. Di sini, hidup adalah kerja dan kerja. Tapi saya merindukan hidup di mana tetangga saling mengetuk pintu untuk berbagi makanan, di mana sore hari dihabiskan dengan duduk di teras melihat sawah tanpa harus mengejar target produksi."
"Aku bisa memberikanmu segalanya di sini, Santi," potong Jong Hwan cepat.
"Anda bisa memberikan saya kemewahan, tapi Anda tidak bisa memberikan saya 'rumah'. Di Korea, saya adalah tamu. Selamanya akan menjadi tamu. Saya ingin hidup di tanah di mana akar saya tertanam, di mana saya tidak perlu menjelaskan mengapa saya memakai jilbab atau mengapa saya tidak minum alkohol. Hidup di sini enak untuk mencari modal usaha, tapi untuk hidup selamanya, hati saya sudah menetap di Indonesia."
Air mata akhirnya jatuh di pipi Santi. "Cinta Anda adalah hal terindah yang saya temukan di negeri yang dingin ini. Tapi jika saya tinggal, saya akan kehilangan diri saya sendiri. Dan jika saya kehilangan diri saya, saya tidak akan bisa mencintai Anda dengan benar."
Jong Hwan terdiam seribu bahasa. Ia menatap wajah wanita di hadapannya, menyadari bahwa mencintai Santi berarti harus menerima bahwa ia adalah bagian dari tanah yang jauh. Ia sadar bahwa ia tidak bisa mencabut akar yang sudah begitu dalam tertanam hanya untuk dipindahkan ke pot emas yang beku.
Bulan-bulan terakhir kontrak kerja Santi menjadi masa paling melankolis dalam hidup mereka. Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan berdampingan tanpa bersentuhan, hanya saling melemper senyum yang penuh luka. Jong Hwan membantu Santi mengemas barang-barangnya, memastikan semua tabungan Santi aman untuk modal usahanya nanti di tanah Sunda.
Hari keberangkatan itu tiba di Bandara Incheon. Salju pertama mulai turun, tipis dan menyakitkan, seolah langit pun ikut merasakan perpisahan mereka. Jong Hwan berdiri di balik garis pembatas, memegang sebuah tasbih kayu yang ia beli saat mereka berkunjung ke sebuah toko kerajinan.
"Pulanglah, Santi. Bangunlah mimpimu di sana," kata Jong Hwan dengan suara parau yang hampir hilang ditelan bising bandara. "Jangan pernah merasa bersalah karena telah memilih rumahmu. Aku akan tetap di sini, menjaga doa-doa yang kau ajarkan padaku."
Santi terisak, tangannya gemetar memegang paspor. "Terima kasih telah menghargai saya, Jong Hwan-ssi. Terima kasih telah mencintai saya tanpa memaksa saya berubah."
Santi melangkah pergi, melewati gerbang keberangkatan. Saat ia menoleh untuk terakhir kalinya, ia melihat Jong Hwan melakukan gerakan hormat yang sangat dalam—sebuah bow yang sangat lama—sebagai tanda penghormatan tertinggi bagi wanita yang telah mengajarinya arti martabat dan keteguhan hati.
Setahun berlalu di sebuah desa di Jawa Barat. Santi sukses membuka toko grosir dan penggilingan padi dari hasil keringatnya di Korea. Hidupnya nyaman, dikelilingi keluarga dan udara desa yang segar. Namun, setiap kali hujan turun, ia akan duduk di teras, menatap ke arah utara. Ia menerima kabar dari seorang rekan kerja bahwa Jong Hwan akhirnya benar-benar masuk Islam. Namun, Jong Hwan memilih untuk tetap sendiri. Ia tidak menikah. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bekerja, namun kini tujuannya berbeda; ia banyak menyumbang untuk pembangunan masjid dan sekolah di daerah-daerah terpencil, atas nama seorang wanita yang pernah singgah di hatinya.
Mereka mencintai satu sama lain melampaui batas negara dan keyakinan, namun mereka dipisahkan oleh satu kenyataan pahit: bahwa terkadang, cinta sejati tidak harus memiliki, dan rumah bukan tentang siapa yang kita peluk, melainkan di mana jiwa kita merasa paling utuh. Di bawah salju Korea yang membeku, Jong Hwan menjaga cintanya dalam sujud. Di bawah matahari Indonesia yang hangat, Santi menjaga kenangannya dalam setiap tarikan napas. Mereka abadi dalam ketiadaan, menyisakan sesak yang indah namun mematikan.