Malam Minggu di Lembang seharusnya menjadi simfoni tawa dan aroma ketan bakar yang hangat. Namun, bagi Ismaya, malam itu perlahan berubah menjadi jeritan sunyi yang tersangkut di tenggorokan. Mobil melaju menembus kabut yang semakin tebal, seolah-olah aspal di bawah ban mereka sedang menuntun keluarga itu masuk ke dalam mulut raksasa yang lapar. Di kursi belakang, istri Ismaya memeluk kedua anak mereka yang mulai gelisah. Cahaya lampu dasbor yang remang memantulkan gurat kecemasan di wajah Ismaya yang kaku.
"Ismaya, kamu yakin ini jalannya? GPS-nya terus-terusan bilang recalculating," bisik istrinya, suaranya gemetar tertelan suara mesin yang tiba-tiba terdengar lebih parau.
Ismaya tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan. Jalanan pemukiman warga yang mereka lewati tampak mati. Tidak ada lampu teras yang menyala. Tidak ada suara televisi atau tawa dari balik tembok-tembok rumah. Yang ada hanyalah deretan bangunan bisu dengan pintu-pintu yang digembok dari luar. Seolah-olah seluruh warga desa telah melarikan diri sebelum mereka datang.
Mobil berbelok ke sebuah gang buntu yang dijepit oleh pohon-pohon pinus tinggi yang meliuk ditiup angin, menyerupai jemari hitam yang berusaha menggapai langit. Di ujung jalan itu, sebuah bangunan berdiri angkuh. Itu bukan villa. Itu adalah sebuah monumen penderitaan. Temboknya yang putih kini dipenuhi lumut kerak berwarna merah kecokelatan yang tampak seperti rembesan darah kering. Dan di pagar besi yang sudah keropos dimakan karat, sebuah papan kayu tergantung miring dengan tulisan yang digoreskan secara kasar: RUMAH INI DIJUAL.
Ismaya menghentikan mobil. Jam menunjukkan pukul delapan malam tepat. Begitu mesin mati, kesunyian yang luar biasa pekat langsung menyergap. Sunyi yang begitu tajam hingga terasa menyakitkan di telinga. Tidak ada jangkrik. Tidak ada embusan angin. Hanya ada suara detak jantung mereka sendiri yang berpacu liar.
"Aneh... ini sangat sepi, padahal ini malam Minggu," gumam Ismaya. Ia menurunkan kaca jendela hanya beberapa sentimeter. Seketika, bau busuk yang sangat menyengat—perpaduan antara daging busuk dan melati yang layu—merangsek masuk ke dalam kabin. Bau itu seolah memiliki berat, menekan dada mereka hingga sesak.
Tiba-tiba, lampu depan mobil yang masih menyala menyorot ke arah pintu utama rumah tersebut. Pintu itu perlahan terbuka. Hanya beberapa sentimeter. Dari celah kegelapan di dalam rumah, muncul sebuah wajah. Bukan wajah manusia utuh. Itu adalah wajah yang kulitnya tampak seperti ditarik paksa, dengan mata yang melotot lebar tanpa kelopak, menatap lurus ke arah Ismaya. Seringainya melebar, menembus batas pipinya, memperlihatkan deretan gigi yang hitam dan runcing.
"Yah, itu apa?!" anak tertua Ismaya menjerit sambil menunjuk ke arah jendela lantai dua.
Ismaya mendongak. Di sana, di balik kaca yang berdebu, puluhan tangan pucat dan kecil menempel pada kaca. Tangan-tangan anak kecil yang membiru, seolah-olah mereka sedang berusaha mendobrak keluar dari dalam ruang hampa udara. Suara ketukan mulai terdengar. Tok... Tok... Tok... Pelan pada awalnya, lalu berubah menjadi gedoran keras yang mengguncang seluruh badan mobil. BRAK! BRAK! BRAK!
"Puter balik, Ismaya! Sekarang!" teriak istrinya histeris.
Ismaya dengan panik memutar kunci kontak. Mesin mobil hanya terbatuk. Uhuk... Uhuk... Ia mencoba lagi. Gedoran di kaca mobil semakin liar. Di spion kiri, Ismaya melihat sosok wanita dengan baju putih yang sudah compang-camping dan basah kuyup berdiri tepat di samping pintu istrinya. Wanita itu menunduk, rambutnya yang panjang menutupi wajah, namun air yang menetes dari gaunnya bukan air bening—itu adalah cairan kental berwarna merah kehitaman yang mengeluarkan asap tipis saat menyentuh aspal.
"Ayo! Nyala!" Ismaya meraung, keringat dingin membanjiri wajahnya.
Tiba-tiba, dari kegelapan di depan mobil, sosok pria tinggi besar—hampir tiga meter—muncul entah dari mana. Kulitnya hitam legam seperti arang yang terbakar, matanya merah menyala bak bara api yang ditiup angin. Sosok itu menyeringai, menunjukkan taring-taring yang masih menyisakan sisa daging segar. Ia mengangkat tangannya yang besar dan menghantam kap mobil. DUM! Logam mobil itu penyok seketika.
Dalam keputusasaan yang murni, Ismaya menginjak gas sedalam mungkin sambil memutar kunci dengan sentakan kasar. Mesin mobil meraung, memuntahkan asap hitam, dan akhirnya hidup. Ismaya membanting setir ke kiri, melibas tanaman liar dan menabrak pagar kayu rumah tersebut hingga hancur. Ia tidak berani menoleh ke belakang, namun di spion tengah, ia melihat rumah itu mendadak terang benderang oleh cahaya merah darah, dan puluhan sosok hitam berdiri di halaman, melambai dengan gerakan patah-patah ke arah mereka.
Begitu sampai di jalan raya yang mulai ramai, Ismaya menghentikan mobil di bawah lampu jalan yang terang. Napasnya tersengal-sengal. Tangannya masih gemetar hebat saat ia mengambil ponsel untuk membatalkan pesanan.
Nada sambung terdengar. Suara di seberang sana sangat pelan, diselingi suara tawa anak-anak yang tadi ia lihat di jendela.
"Halo? Ismaya?" suara pria di seberang telepon itu terdengar sangat akrab.
"Siapa ini?! Saya mau refund! Villa itu berhantu! Ada mayat di sana!" teriak Ismaya.
Hening sejenak. Lalu suara itu tertawa pelan. "Ismaya... kamu tidak melihat papan itu dengan jelas ya? Di bawah tulisan 'Rumah Ini Dijual', ada tulisan kecil dengan tinta darah..."
Ismaya terdiam. Ingatannya kembali ke papan kayu di pagar tadi.
"Tulisannya berbunyi: 'Hanya Untuk Ditukar dengan Nyawa'. Ismaya, lihat ke kursi belakangmu. Apa kamu yakin yang kamu bawa pulang itu benar-benar anak-anakmu?"
Ismaya membeku. Perlahan, dengan leher yang terasa kaku seperti kayu tua, ia melirik ke spion tengah. Di kursi belakang, kedua anaknya duduk tegak dengan punggung yang sangat lurus. Mereka perlahan menoleh ke arah Ismaya. Wajah mereka tidak lagi memiliki mata, hanya lubang hitam yang dalam, dan dari mulut mereka, keluar suara tawa yang sama persis dengan yang ia dengar di telepon tadi.
"Ayah... kenapa kita pulang?" tanya mereka serempak dengan suara parau yang bukan milik anak kecil.
Ismaya ingin berteriak, namun suaranya hilang. Di luar mobil, kabut Lembang kembali turun, menyelimuti mereka dalam kegelapan yang abadi.