Mata Asyifa selalu berbeda. Sejak kecil, dunianya tidak pernah sepi, tidak pernah benar-benar gelap. Ada lapisan tipis di atas realitas yang hanya bisa dilihatnya; warna-warni aura yang memancar dari makhluk hidup dan... yang pernah hidup. Baginya, rumah kosong bukanlah ruang hampa yang berdebu. Itu adalah kanvas yang penuh sesak.
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas perumahan tua di pinggiran kota. Asyifa berdiri di depan pagar besi yang sudah berkarat parah, dililit tanaman merambat yang tampak putus asa. Di belakangnya, sebuah rumah bergaya kolonial berdiri angkuh namun menyedihkan. Catnya mengelupas seperti kulit mati, jendela-jendelanya pecah, menyerupai mata-mata hitam yang melotot.
"Kamu yakin mau masuk, Syif?" tanya Bima, temannya yang skeptis namun penakut, suaranya bergetar. "Kata orang sini, rumah ini... 'sakit'."
Asyifa tidak menjawab. Matanya terpaku pada pintu kayu jati besar di depan. Aura yang memancar dari sana bukan sekadar negatif; itu adalah kabut hitam pekat yang berdenyut, dingin yang mencekam yang bahkan terasa sampai ke seberang jalan. Hitam yang menyerap cahaya, menyerap harapan.
"Ini bukan sekadar 'sakit', Bim," bisik Asyifa, suaranya datar, tanpa emosi, sebuah mekanisme pertahanan diri yang sudah lama ia bangun. "Ini sarang."
Asyifa melangkah maju, tangannya menyentuh pagar. Dinginnya baja berkarat itu menjalar cepat, tapi rasa dingin yang sesungguhnya berasal dari dalam sana. Di mata Indigo-nya, rumah itu tidak kosong. Setiap sudut, setiap celah, penuh sesak. Mereka berdesakan, bertumpuk, menempati setiap ruang yang ada karena rumah ini sudah terlalu lama dibiarkan tanpa penghuni manusia.
Dia mendorong pagar. Suara gesekan logam yang memilukan memecah keheningan sore, terdengar seperti jeritan yang tertahan. Bima menelan ludah, langkahnya tertahan di belakang. "Aku... aku tunggu di sini aja ya, Syif."
Asyifa mengangguk pelan dan melangkah masuk ke halaman. Rumput liar setinggi pinggang bergoyang tanpa angin. Aura di sini terasa kental, basah, dan berbau busuk. Di mata normal, halaman itu berantakan. Di mata Asyifa, itu adalah taman bermain yang mengerikan. Puluhan sosok anak kecil—beberapa kurus kering dengan mata cekung, yang lain bengkak air dengan kulit membiru—berlarian di antara rumput liar. Mereka saling berkejaran, melompat, tertawa... tapi tidak ada suara. Hanya gerakan senyap yang memuakkan. Mereka tidak melihat ke arah Asyifa, mereka terlalu sibuk dengan permainan abadi mereka. Aura mereka kelabu kotor, penuh kesedihan yang tak terucap.
Asyifa terus berjalan menuju pintu utama. Pintu itu tertutup rapat, tapi kunci dan gagangnya sudah lama hilang. Dan di sana, tepat di depan pintu, berdiri sosok yang paling dominan di area depan.
Dia sangat besar, tinggi hampir menyentuh atap teras, lebar tubuhnya memenuhi lebar pintu. Hitam. Lebih hitam dari malam paling gelap di hutan. Bulu-bulu kasar menutupi seluruh tubuhnya yang legam. Kepalanya menunduk, matanya melotot merah darah, sebesar bola tenis, menatap lurus ke arah Asyifa. Bibirnya robek, menyeringai lebar menampilkan deretan gigi kuning yang tumpul dan gusi yang menghitam. Sosok 'Wowo' itu tidak bergerak, hanya berdiri seperti penjaga gerbang neraka. Seringainya permanen, dingin, dan penuh ancaman.
Aura di sekitar Wowo itu berdenyut dengan warna hitam dan merah tua yang pekat, rasa benci dan dominasi yang murni. Asyifa bisa merasakan tekanan fisiknya, seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Tapi dia tidak berhenti. Dia tahu aturan mereka.
"Assalamu'alaikum..." Asyifa berbisik pelan, hampir tidak terdengar, namun matanya menatap lurus ke mata merah di depannya.
Seringai Wowo itu tidak berubah, tapi matanya berkedip sekali. Pelan. Asyifa merasakan tekanan itu sedikit mengendur. Dia melewatinya. Bau apak dan anyir segera menyerang penciumannya saat dia melangkah masuk ke ruang tamu.
Di dalam, kegelapan lebih pekat. Hanya sedikit cahaya sore yang berhasil menembus jendela-jendela kotor. Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi, tapi Asyifa merasa tercekik. Aura hitam yang tadi dilihatnya dari luar kini mengepungnya dari segala penjuru. Ribuan pasang mata—tak kasat mata bagi orang biasa—menatapnya dari balik bayang-bayang, dari sela-sela atap yang bocor, dari sudut-sudut ruangan yang gelap. Mereka berbisik, bergumam, suara-suara tanpa bentuk yang tumpang tindih menjadi dengungan yang memusingkan.
Asyifa terus berjalan, mengikuti lorong gelap menuju bagian belakang rumah. Di dinding-dinding lorong, dia melihat bayangan-bayangan yang bergerak, sosok-sosok tanpa bentuk yang merayap seperti kecoa raksasa. Mereka tidak mendekat, hanya mengamati, rasa ingin tahu yang dingin memancar dari aura kelabu mereka. Mereka adalah makhluk-makhluk lemah yang hanya berani bersembunyi di kegelapan.
Dia sampai di dapur, yang runtuh sebagian. Bau busuk di sini lebih menyengat. Dan di sudut, pintu kamar mandi yang rapuh setengah terbuka.
Asyifa berhenti. Dingin di sini berbeda. Bukan dingin yang mengancam seperti Wowo, melainkan dingin yang putus asa, yang basah. Dia melihat ke dalam.
Seorang wanita berdiri membelakangi pintu. Dia mengenakan gaun putih panjang yang kotor, sobek di sana-sini, dan... basah. Rambut hitamnya yang sangat panjang, kusut, dan berminyak menjuntai sampai ke lantai. Di mata Asyifa, rambut itu tidak hanya basah oleh air. Darah tua mengering, membuat helai-helai rambut itu menempel satu sama lain, berwarna merah tua kecokelatan yang menjijikkan. Gaun putihnya di bagian punggung dipenuhi noda darah yang mengeras, seperti seseorang telah menikamnya berulang kali dari belakang.
Dia tidak bergerak, hanya berdiri diam, menghadap ke dinding kamar mandi yang berlumut. Asyifa bisa merasakan aura kesedihan yang luar biasa pekat memancar darinya, berwarna biru tua yang hampir hitam, dingin seperti es di dasar sumur. Itu adalah aura Kuntil anak, sosok yang lahir dari rasa sakit dan pengkhianatan.
Tiba-tiba, suara tawa anak-anak terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Dua sosok anak kecil berlari keluar dari kamar mandi, melewati Asyifa, mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Tawa mereka senyap, tapi ekspresi mereka—wajah-wajah pucat dengan mata yang hilang, digantikan oleh lubang hitam—membuat perut Asyifa mual. Mereka berlari mengelilingi Kuntil anak yang diam itu, seolah wanita itu adalah tiang, tanpa rasa takut.
Asyifa menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Dia tahu, aura mereka negatif, pekat, dan mengerikan. Tapi dia juga tahu aturan dasarnya: mereka menetap karena rumah ini kosong. Mereka baik, dalam artian mereka tidak cocok untuk mengganggu manusia secara aktif. Mereka hanya ingin ada, di tempat yang tidak ada yang menginginkannya.
"Assalamu'alaikum..." Asyifa berbisik lagi, lebih pelan, ke arah wanita yang diam itu.
Kutil anak itu tidak bergerak. Tapi suara tangisan pelan, seperti angin yang merintih melalui celah sempit, mulai terdengar di dalam kamar mandi. Tangisan yang memilukan, yang bisa menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Asyifa mundur perlahan. Dia sudah melihat cukup banyak. Dia berbalik dan berjalan kembali melalui lorong gelap, melewati bayangan-bayangan yang merayap, melewati ruang tamu yang penuh sesak oleh mata, dan akhirnya sampai di pintu depan. Wowo itu masih di sana, menyeringai dengan mata melotot, seperti tidak pernah bergerak sedikit pun selama seratus tahun.
Asyifa melangkah keluar ke halaman, ke udara sore yang mendung namun terasa jauh lebih ringan. Bima masih berdiri di dekat pagar, wajahnya pucat pasi, matanya melotot.
"G-gimana, Syif? Apa yang kamu lihat?" tanya Bima, suaranya putus-putus.
Asyifa menatap Bima, lalu melihat kembali ke rumah itu. Anak-anak kecil masih berlarian di halaman, Wowo masih menjaga pintu, dan dia tahu Kuntil anak itu masih menangis diam-diam di kamar mandi yang basah.
"Mereka baik, Bim," kata Asyifa, suaranya datar namun tegas. "Aura mereka negatif sekali, pekat, dan mengerikan. Tapi mereka baik. Mereka cuma numpang tinggal."
Bima menatap Asyifa dengan tatapan tidak percaya. "Baik? Kamu bercanda? Aura negatif, rumah penuh setan, dan kamu bilang 'baik'?"
Asyifa menepuk bahu Bima perlahan. "Mereka cuma 'menempati' rumah kosong, Bim. Selama kita gak ganggu, mereka gak akan ganggu. Mereka gak cocok buat gangguin manusia..." Asyifa menjeda, matanya Indigo-nya bersinar sedikit lebih terang saat dia menatap Bima. "...karena kalau mereka cocok, mereka gak akan cuma diam di sini. Mereka bisa... datang kerumah stecu stecu."
Asyifa berjalan melewati Bima, meninggalkan temannya yang mematung dengan tatapan horor, tidak berani melihat kembali ke arah Rumah Tanpa Pintu Belakang itu, di mana kegelapan murni baru saja berkedip pelan ke arahnya.