Aroma minyak goreng panas dan uap gurih dari butiran bakso yang menyentuh wajan selalu membawa Satria kembali ke masa itu. Masa di mana definisi "cukup" adalah angka tiga ratus ribu rupiah yang tertera di layar mesin ATM setiap awal bulan. Bagi sebagian teman kampusnya, angka itu mungkin hanya setara dengan dua kali nongkrong di kafe estetik atau sekali membeli sepatu bermerek saat diskon. Namun bagi Satria, angka itu adalah napas yang dipaksa bertahan selama tiga puluh hari.
Tahun kedua kuliah adalah puncak dari segala ujian kesabaran. Satria masih ingat betul bagaimana ia duduk di pojok kamar kos sempitnya, menghitung lembaran uang kumal yang tersisa. Ayahnya di kampung, seorang buruh tani yang punggungnya sudah melengkung dimakan usia, selalu mengirimkan pesan singkat yang sama setiap bulan: "Sudah bapak kirim, Le. Maaf cuma bisa segitu. Sehat-sehat di sana." Kalimat itu selalu sukses membuat tenggorokan Satria tercekat. Ada rasa syukur yang beradu dengan perih. Ia tahu, tiga ratus ribu itu bukan sekadar angka; itu adalah tetes keringat, jatah makan siang bapak yang dikurangi, dan mungkin obat pegal linu yang urung dibeli.
Satu sore, saat perutnya hanya terisi segelas air putih sejak pagi, Satria berdiri di depan kantin kampus. Ia melihat teman-temannya tertawa, membahas rencana liburan semester ke Bali atau sekadar memamerkan ponsel keluaran terbaru. Ada jarak yang lebar di sana. Bukan jarak fisik, melainkan jarak realitas. Di saat mereka fokus memikirkan bagaimana cara menghabiskan waktu, Satria terjepit dalam pikiran bagaimana cara menyambung hidup.
Keputusan itu datang begitu saja, dipicu oleh rasa lapar dan rasa sayang yang besar kepada orang tuanya. Ia menemui pemilik kantin, meminta izin untuk berjualan sosis dan bakso goreng. Dengan modal pinjaman kecil dan alat seadanya, Satria mulai membelah diri. Pagi hingga siang ia menjadi mahasiswa yang bergelut dengan teori ekonomi, dan siang hingga sore ia menjelma menjadi "Si Mas Basreng".
Awalnya, ada rasa malu yang menyelinap. Saat ia mengaduk gorengan dengan apron yang sedikit berminyak, beberapa teman sekelasnya lewat dan melirik dengan tatapan kasihan, atau yang lebih buruk, tatapan meremehkan. Namun, Satria hanya bisa tersenyum. Senyum itu adalah perisai. Ia tidak punya kemewahan untuk merasa tersinggung. Setiap tusuk sosis yang terjual adalah tambahan seribu rupiah untuk biaya fotokopi tugas. Setiap butir bakso yang berpindah tangan adalah harapan agar ia tidak perlu meminta tambahan uang ke kampung.
Masa-masa itu adalah maraton yang melelahkan. Di saat teman-temannya berkumpul di sekre organisasi atau bioskop, Satria sibuk menusuki bakso hingga jempolnya kapalan. Kadang, di tengah malam yang sunyi, ia menghitung keuntungan harian. Jika hasilnya lumayan, ia akan menyisihkan sebagian kecil ke dalam amplop cokelat. Amplop itu tidak untuk dirinya. Amplop itu akan dikirimkan ke alamat di desa, diselipkan di antara surat pendek yang menceritakan bahwa ia baik-baik saja dan makannya selalu enak. Ia ingin ayahnya percaya bahwa investasi keringat orang tua di kampung tidak sia-sia.
Tahun-tahun penuh asap minyak itu akhirnya berlalu. Perjuangan yang "enggak main-main" itu membentuk mentalitas yang berbeda. Satria belajar tentang negosiasi dari para pemasok bakso, belajar tentang manajemen risiko dari minyak yang tiba-tiba naik harganya, dan belajar tentang ketangguhan dari setiap penolakan pembeli. Ketika ia lulus dan melamar kerja, aura perjuangan itu terpancar jelas. Ia bukan sekadar lulusan dengan nilai IPK tinggi, ia adalah petarung.
Kini, sepuluh tahun telah berlalu. Satria duduk di kursi ergonomis di sebuah kantor startup mentereng di Jakarta. Ruangannya dingin, berbau kopi mahal, dan dari jendela besar di sampingnya, ia bisa melihat hiruk-pikuk kota yang dulu pernah hampir menelannya. Jabatannya tinggi, gajinya lebih dari cukup untuk membeli apa pun yang dulu hanya ada dalam lamunannya. Ia punya mobil yang nyaman, pakaian yang selalu rapi, dan kartu kredit yang tidak perlu ia cek saldonya setiap kali ingin makan di restoran mewah.
Namun, di tengah segala kemudahan itu, ada lubang besar di hatinya yang tidak bisa ditutup oleh materi sebanyak apa pun.
Sore itu, Satria melangkah masuk ke sebuah toko jam tangan mewah. Ia menunjuk sebuah jam dengan desain klasik, tipe yang dulu pernah ayahnya ceritakan saat melihat iklan di koran bekas. Jam yang kuat, katanya, agar bapak tahu kapan harus istirahat dari sawah. Satria membelinya tanpa melihat label harga. Ia meminta pelayan toko membungkusnya dengan kotak paling indah.
Sambil memegang kotak itu di dalam mobil, air mata Satria luruh.
Ia teringat janji yang sering ia bisikkan dalam hati saat masih berjualan bakso goreng: "Tunggu ya, Pak. Nanti kalau Satria sudah sukses, Bapak enggak boleh kerja berat lagi. Bapak harus duduk manis, pakai baju bagus, makan apa saja yang Bapak mau. Satria mau ajak Bapak jalan-jalan."
Namun takdir punya narasinya sendiri. Dua tahun lalu, tepat saat Satria mendapatkan promosi besar dan gaji pertamanya menembus angka dua digit yang fantastis, ayahnya jatuh sakit dan berpulang. Begitu cepat, seolah-olah tugas sang ayah di dunia memang hanya untuk memastikan Satria bisa berdiri tegak, lalu ia merasa boleh pergi dengan tenang.
Satria sampai di rumahnya yang sepi. Ia meletakkan kotak jam tangan itu di atas meja samping tempat tidur, tepat di sebelah foto ayahnya yang tersenyum kaku mengenakan batik lama.
"Pak, Satria sudah bisa beli jamnya," bisiknya lirih. Suaranya pecah di antara kesunyian kamar. "Satria sudah bisa beli sepatu yang dulu Bapak bilang bagus. Satria sudah bisa ajak Bapak makan di tempat yang ada AC-nya."
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah usang. Di dalamnya masih tersimpan surat terakhir dari ayahnya, tertanggal beberapa bulan sebelum beliau meninggal. Isinya pendek: "Le, Bapak bangga. Jangan lupa makan yang teratur. Bapak sudah senang lihat kamu tidak susah lagi."
Satria menyadari satu hal yang paling menyakitkan dari sebuah kesuksesan yang dibangun dari nol: seringkali, orang yang menjadi alasan kita berjuang adalah orang yang tidak sempat mencicipi hasilnya. Ia bisa membeli kasur paling empuk, tapi ia tidak bisa memberikan istirahat yang layak bagi punggung ayahnya yang dulu pegal karena bekerja demi uang tiga ratus ribu itu. Ia bisa membeli makanan paling lezat di kota ini, tapi ia tidak bisa lagi menyuapi ayahnya yang dulu sering menahan lapar agar anaknya bisa kuliah.
Namun, di balik perih itu, Satria tahu perjuangannya tidak sia-sia. Setiap pencapaian yang ia raih sekarang adalah monumen untuk ayahnya. Setiap kebijakan yang ia buat di kantornya, setiap bantuan yang ia berikan pada karyawan magang yang terlihat kesulitan biaya, adalah cara ia menghormati keringat bapak di masa lalu.
Ia teringat kembali pada masa-masa di kantin kampus. Bayangan dirinya yang muda, yang tersenyum saat tangannya terkena percikan minyak panas, seolah melambai padanya. Sosok itu mengingatkannya bahwa segala sesuatu ada harganya. Dan harga dari kemandiriannya sekarang adalah masa muda yang dihabiskan untuk bekerja, sementara harga dari keberhasilannya adalah kerinduan yang tak akan pernah tuntas.
Malam itu, Satria tidak pergi ke restoran mewah. Ia memilih dapur rumahnya, mengeluarkan sebungkus sosis dari lemari es, dan menggorengnya sendiri. Suara desis minyak di wajan itu masih terdengar sama. Aroma yang menguar masih sama. Baginya, itu adalah aroma pengingat agar ia tidak pernah menjadi tinggi hati. Aroma yang mengatakan bahwa ia adalah anak seorang buruh tani yang tumbuh besar karena kasih sayang yang jauh melampaui nilai tiga ratus ribu rupiah.
Ia menyuap potongan sosis itu, menutup matanya, dan seolah bisa merasakan tepukan hangat di bahunya. Tepukan yang selalu diberikan ayahnya setiap kali ia pulang kampung. Meski ayahnya tidak ada di sini untuk melihat keberhasilannya secara fisik, Satria yakin, di suatu tempat yang jauh lebih indah, sang ayah sedang tersenyum sambil berkata bahwa anaknya telah tumbuh menjadi laki-laki yang luar biasa.
Perjuangan itu mungkin terasa seperti luka saat dijalaninya, tapi sekarang luka itu telah mengering dan menjadi kekuatan. Satria tahu, hasil yang ia dapatkan hari ini memang serupa dengan besar perjuangan yang ia lalui dulu. Dan meskipun ada bagian dari hatinya yang akan selalu merasa kurang karena ketidakhadiran ayahnya, ia berjanji akan terus melangkah. Ia akan terus sukses, terus memberi, dan terus menjadi alasan mengapa nama ayahnya akan selalu dikenang sebagai orang yang berhasil mendidik seorang pemenang.
Karena pada akhirnya, bakti seorang anak tidak berhenti saat orang tuanya tiada. Bakti itu berlanjut dalam setiap doa, dalam setiap kebaikan yang dilakukan, dan dalam cara sang anak menjaga kehormatan nama yang diberikan kepadanya. Satria menatap foto di atas meja itu sekali lagi, tersenyum melalui sisa air matanya, dan berbisik pelan, "Terima kasih sudah menemani perjuanganku dari jauh, Pak. Ini semua buat Bapak."
Dunia mungkin melihatnya sebagai pria sukses di perusahaan besar, namun di dalam hati, Satria tetaplah pemuda yang sama yang rela berdiri di balik wajan bakso goreng demi sebuah mimpi dan rasa cinta. Dan bagi Satria, itulah pencapaian yang paling hakiki.