Di TK. Cinta kasih. Ada seorang wanita dan anak nya yang sedang saling berpamitan
"Ibu pulang ya, kamu hati-hati. Semangat belajarnya ya, adik Evan" ucap sang ibu {ny. Eryin Wilson}
"Iyaa.. Evan bakal belajar yang terbaik buat ibu" ucap sang anak, {Evan Wilson}
Sang anak tersenyum kecil kemudian berjalan masuk ke TK
Saat Eryin sedang berjalan pulang, ternyata ada yang mengikuti mereka dari tadi
Saat di gang sempit seseorang itu langsung menancapkan pisau di jantung Eryin
Eyrin yang tidak menyangka langsung terjatuh ke jalan
Seseorang itu melempar pisau itu ke samping Eryin kemudian pergi meninggalkan Eryin yang sekarat disana
Eryin menatap kepergian seseorang itu, "m-maafkan.. i-ibu.. Ev.. Evan" ucap Eryin kemudian menutup matanya
Tiba-tiba Eryin terbangun di depan sebuah bangunan
"Apakah aku sudah mati?" Ucap Eryin
Saat sedang memikirkan tiba-tiba pandangan Eryin terfokus ke satu pandangan dimana, seseorang sedang menyatakan cinta
"Sasha.. jadikan kekasihku" ucap pria itu
"Heh..Evan.. kau jangan membully Sasha terus. Dia itu primadona sekolah. Dia juga anak dari keluarga kaya tinggal nya di apart. Golden no 17" ucap seorang siswi
"Aku hanya mengatakan perasaan padanya" ucap pria itu
"Ada apa ini" ucap pria tampan lain tiba-tiba muncul
"Kak Bima. Untung kau datang, si Evan mau bully Sasha lagi" ucap seorang siswa
"Evan, jangan ganggu Sasha" ucap Bima {ketua kelas}
Pria itu menonjol Bima, Bima juga membalas, Eryin yang melihat itu langsung mendekat dan memegang kedua tangan Evan
"Kau siapa.." ucap pria itu
"Kalian cepat pergi" ucap Eryin
Kedua wanita, pria itu hanya diam
"Cepat pergi sebelum dia aku lepas" ucap Eryin
Bima langsung menarik Sasha pergi, semua siswa juga pergi kecuali 2 siswa berandal lainnya
"Kau siapa! Lepaskan aku" ucap Evan marah
"Evan?" Ucap Eryin
"Adik Evan.." ucap Eryin kemudian memeluk Evan
"Kau siapa, lepaskan pelukanmu" ucap Evan
"Evan aku ibumu" ucap Eryin
Dua teman Evan dan Evan terkejut, "kau jangan bercanda! Ibuku sudah tidak ada sejak 20 tahun lalu" ucap Evan
Kedua teman Evan pergi dengan muka heran, "eh guys" ucap Evan
"Lepaskan pelukan mu" ucap Evan kemudian melepas pelukan paksa
"Evan.. di belakang punggungmu ada tanda lahir bentuk bunga sakura" ucap Eryin
Evan langsung menutup pundaknya, "Evan.. aku ibumu" ucap Eryin
"Kau jangan berbohong, dasar gadis aneh" ucap Evan
"Evan.. adik kecil apakah kau tidak ingin memeluk ibu" ucap Eryin
"Ibu? Bagaimana bisa kau tau kata-kata itu" ucap Evan
"Karena aku Eryin Wilson, ibumu" ucap Eryin
Evan langsung memeluk Eryin, "ibu.." ucap Evan
Skip saja, Evan kembali ke kelasnya
Eryin mengambil ponselnya Kemudian melihat di kamera
"Aku kembali muda?" Ucap Eryin senang
"Jadi Evan tidak mengenaliku karena aku balik muda.." ucap Eryin
Eryin menghubungi seseorang, "Hariz, daftarkan aku sekolah di senor school, dan buatkan aku data baru" ucap Eryin kemudian menutup telfon
Keesokan harinya, di kelas 11 IPA 2
Guru datang, "selamat pagi anak-anak" ucap sang guru
Semua menjawab kecuali satu orang yang justru tertidur di mejanya
"Hari ini kalian akan kedatangan teman baru, siswa yang diluar silahkan masuk" ucap sang guru
Eryin Masuk
Tap tap tap, suara langkah kaki yang berjalan masuk
"Selamat pagi semua, perkenalkan nama aku Eryin Wilson. Semoga kita bisa berteman baik" ucap Eryin
"Baik Eryin kami duduk di bangku yang kosong" ucap sang Guru
Eryin melihat sekitar kemudian mengatakan, "pak, saya duduk di bangku itu" ucap Eryin menunjuk bangku samping Evan
"Kamu tidak ingin pindah saja, nanti kamu kurang nyaman lagi" ucap sang guru
"Tidak, saya bakal nyaman disana" ucap Eryin
Sang guru menghela nafas kemudian mengatakan, "baiklah, silahkan duduk"
Eryin duduk di bangku samping Evan, kemudian mengambil buku b. Inggris
"Anak yang disamping Evan. Tolong bangunkan anak itu" ucap sang guru
"Pak, Evan kan sangat emosian, kau ingin menjadikan murid baru itu sasarannya" ucap siswa
Eryin bangun dari bangkunya, "eh Eryin.. tidak usah, biarkan saja dia" ucap sang guru
"Tidak apa-apa, saya bangunkan dia" ucap Eryin kemudian mendekati bangku Evan
Eryin menendang bangku Evan, Evan langsung terjatuh, "siapa kau-" ucap Evan tiba-tiba terhenti
"Aku kenapa? Mau marah hah?" Ucap Eryin melipat tangannya di dada
Evan menggeleng kemudian ingin duduk di bangkunya, terus dia terjatuh lagi karena bangkunya terlalu jauh
Tidak ada satupun siswa siswi yang berani tertawa, Eryin kembali duduk ke bangku nya
Setelah bell istirahat
"Evan! Tunjukan Kantin." Ucap Eryin
Evan bangun dari bangkunya, tapi belum selesai Evan berbicara teman nya langsung bilang, "Evan, tanding basket"
Evan menatap Eryin, "ya sudah aku sendiri saja" ucap Eryin kemudian berjalan pergi
Evan akhirnya bermain dengan teman-temannya
Saat pulang sekolah Eryin berjalan bergandengan tangan dengan Evan
"Bu.. aku malu" ucap Evan
"Sama ibu sendiri saja malu" ucap Eryin kemudian melepas genggaman lalu berjalan duluan
Evan mengejar sang ibu, saat di perjalanan, "bu.. aku hanya bercanda.." ucap Evan sambil mengejar sang ibu
"Baiklah ibu maafkan, karena ibu mau berendam air hangat dengan bunga mawar" ucap Eryin
Evan hanya diam takut, di rumah Evan
"Evan.. ini rumah apa? Dimana rumahku yang sangat megah itu" ucap Eryin
"Hehe.. rumahnya aku kasih ke Sasha.." ucap Evan sambil menggaruk tekuknya yang tidak gatal
"Yaampun Evan.." ucap Eryin sambil memijat kepalanya yang pusing
"Keluarga banyak bantu aku Bu, dia juga yang jaga aku dari kecil.." ucap Evan
"Hah? Bantu? Jaga?" Ucap Eryin
"Waktu ibu meninggal aku dimasukkan ke panti asuhan, terus bibi penjaganya pukul dan fitnah aku.. untung ada ibu Sasha uang bantu aku.. dia juga yang laporkan bibi itu ke polisi" ucap Evan watados {wajah tanpa dosa}
Eryin makin pusing, seminggu berlalu Sasha selalu memanfaatkan kekayaan Evan
Evan juga setiap tanggal 5,10,15,20,25 pasti akan mengirim yogurt dengan memberikan sendiri ke sekolah nya
"Evan.. apa kau menyukai Sasha?" Tanya sang ibu akhirnya menyerah
"Ya. Aku menyukainya" ucap Evan
"Sasha hanya memanfaatkan kekayaan mu" ucap Eryin
"Tidak bu, dia tidak mengincar kekayaan ku" ucap Evan
"Jadi menurutmu dia anak sederhana yang tidak memandang kekayaan?" Ucap Eryin
Evan mengangguk, "kau mau dia menyukaimu kan? Aku akan bantu" ucap Eryin
"Benarkah.. ibu akan membantuku?" Ucap Evan
"Dia tidak menyukai uang bukan? Kau deketin saja dengan cara.." *membisikkan sesuatu*
"Kau yakin Bu?" Ucap Evan
Eryin mengangguk, Evan hanya menuruti saja
Keesokan harinya
Seseorang membuka pintu, "Evan. Ayo masuk" ucap seseorang itu
Evan masuk
"Kenapa? Tumben kesini" ucap Sasha
"Uang warisan ibuku habis.. bahkan mereka sekarang hanya memberikan ku 200 ribu untuk 1 hari.." ucap Evan
"Benar-benar tidak ada sepeserpun?" Ucap ibu Sasha
Evan menggeleng, skip saja, satu Minggu berlalu hari ini birthday Sasha
Dia mengundang teman-temannya untuk kerumahnya
Eryin ikut, hanya untuk memata-matai ternyata Sasha melihat, "Eryin.. kau disini?" Ucap Sasha sok ramah
"Kalau kau ingin ikut bilang saja, ayo" ucap Sasha
Akhirnya Eryin ikut kerumah Sasha. Saat ingin memotong kue tiba-tiba ada seseorang yang masuk
"Kau siapa tiba-tiba masuk" ucap teman Sasha
"Rumah ini belum membayar sewa selama 1 bulan, kami datang untuk menagih" ucap seseorang
"Tidak mungkin, sasha itu nona. Tidak mungkin dia tidak membayar" ucap teman sasha
"M-membayar?" Ucap Sasha
"Berapa?" Ucap Sasha
"Anda kan pemilik nya, bagaimana mungkin anda tidak tahu" ucap seseorang itu
Semua teman sasha menatap Sasha, "mungkin ayah aku lupa bayar. Jadi berapa?" Ucap sasha
"Totalnya 1 milyar" ucap seseorang
Sasha merebut ponsel milik pembantunya {ibu kandung Sasha}
"Maaf, uang nya kurang" ucap seseorang
"Ah.. bibi saya tidak mempunyai uang sebanyak itu. Bagaimana jika saya bayar setengah dahulu, nanti saya suruh ayah saya membayar sisanya" ucap Sasha
"Tidak bisa" ucap seseorang itu
"Telfon saja ayahmu" ucap teman Sasha
"Ayah sedang sibuk" ucap sasha gugup
"Kan ada ibumu" ucap teman Sasha
"Ibu juga sama" ucap sasha
"Telfon saja asisten ortu mu" ucap
"Saya saja yang bayar" ucap Eryin kemudian berdiri
"Kau saja tidak mampu, bagaimana bisa kau membayar" ucap teman Sasha
Akhirnya semua di tanggung Sasha, dia meminjam dana ke orang lain
Setelah selesai mereka pergi, sasha langsung menelfon Evan, "Evan.. apa kau lupa membayar sewa.. aku dan ibu hampir di usir" ucap Sasha
Evan hanya diam, kemudian mematikan telfon
"Kan.. itu yang kau bilang tidak mengincar?" Ucap Eryin
"Maaf, Evan salah" ucap Evan
"Besok kau ambil rumahnya" ucap Eryin
"Tapi nanti mereka tinggal dimana" ucap Evan
"Kau besok datang sendiri dan tanyakan, setelah itu baru kau ambil rumahnya lagi" ucao Eryin kemudian masuk kamar nya dan mengunci pintu
Evan hanya menurut, Sera sampai di rumah, "Evan.. apa kau bawa uang bayar nya.." ucap Sasha
"Tante, Sasha.. aku tidak bisa membayar nya.. uangku tidak cukup" ucap Evan
"Bagaimana jika aku bekerja abadi di bar" ucap Evan
Evan menaruh kertas, "tante wakilin tanda tangan ya" ucap Evan
Tanpa basa-basi sang ibu Sasha langsung menanda tangani
"Kan lihat itu sha.. dia hanya pria miskin" ucap ibu Sasha
"Tante.. kok kamu gitu" ucap Evan
"Asal kau tau.. bibi panti yang menyiksa mu itu bibi Sasha" ucap ibu Sasha
"Apa? Bukannya kau sudah melaporkannya" ucap Evan
"Memang tapi aku juga yang menyuruhnya untuk menyiksa mu" ucap ibu Sasha
"Kau harus kerja abadi untuk kami" ucap Sasha
Evan tertawa, "haha.. kalian tertipu.. jadi ini wujud asli kalian?" Ucap Evan sambil tertawa
"Apa maksud mu?" Ucap Sasha
"Kalian tidak membaca ya? Ini surat penyerahan rumah, sekarang rumahnya menjadi milikku lagi" ucap Evan
"A-apa" ucap ibu Sasha
Evan mengusir mereka berdua kemudian membawa Eryin kembali ke rumah itu
Dia juga susah sadar jika Sasha dan ibu nya hanya memanfaatkan nya
_ SELESAI _