Gelap. Dingin. Sesak. Picho merasa ingin pipis dari dalam tenda yang entah sejak kapan kosong.
Ia berusaha memanggil ayah dan ibunya, namun tak ada jawaban.
Saat tangan mungilnya hendak membuka tirai tenda, aroma hanyir dari darah tercium amat pekat.
Picho mulai merasa ada yang tak beres, namun ia tetap membuka ritsleting tenda dengan pelan, suara gesekan logamnya menambah ketegangan.
Kala tirai tenda berhasil terbuka dengan sempurna, Picho bersumpah jika bisa mengulang waktu ia takkan pernah memutuskan untuk membukanya.
Karena jika tirai itu tak pernah ia buka, dirinya takkan mungkin melihat noda merah yang berceceran di rerumputan pegunungan.
Karena jika anak laki-laki kecil itu tidak membuka tirai tenda, ia takkan melihat tubuh ayah dan ibunya terpisah-pisah berserakan.
Karena jika Picho tak pernah membuka tirai, andai dia terus tidur di tenda yang nyaman, dia takkan menangisi kepergian kedua insan yang ia sayang.
Andai Picho tak pernah berkemah dengan keluarganya pada malam itu, hari mengerikan ini takkan terjadi.
Hari di mana sebuah plastik sampah menimpa kepala Picho dengan keras, hingga ia terhuyung ke depan.
“Anak yatim!”
“Orang aneh!”
“Monster mengerikan!”
“Kau pasti yang membunuh kedua orang tuamu sendiri!”
“Jangan bertingkah seperti korban, kau!”
“Dasar tak berempati!”
“Pembunuh sepertimu sebaiknya mati saja!”
Cibiran demi cibiran terlontar dari mulut anak-anak yang satu SMP dengannya, membuat telinga Picho berdengung, dan dadanya menjadi sesak.
Tanpa sadar Picho melihat gunting di meja guru, senyuman iblis penuh rasa muaknya menaik di bibirnya.
Diambilnya gunting tersebut dengan tergesa, dan…
Suara cairan yang muncrat bergema di seluruh ruangan, cipratan merah kental yang bau hanyir menghantam setiap sudut tembok dan lantai kelas.
Pandangan Picho menjadi buram lalu perlahan gelap, kepalanya terasa amat pening namun ringan bagaikan melayang.
Seisi kelas sempat sunyi untuk beberapa detik, lalu kembali ricuh oleh teriakan para murid yang histeris.
“Bu Guru! Picho nusuk belakang lehernya sendiri!”
Suara aduan salah satu murid, adalah hal terakhir yang mampu Picho dengar sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
Picho berbaring gelisah di kasur serba putih, dengan sinar mentari yang menyelinap melalui jendela lebar.
“Ayah… Ibu… Bukan Picho yang membunuh kalian, Picho tak tahu mengapa tubuh kalian terpisah seperti itu!”
Picho meracau dalam resahnya, matanya terpejam erat, kepalanya bergeleng-geleng di bantal.
“Ayah… Ibu… Picho rindu,” rintihnya, nyaris menangis.
Angin berhembus lembut dari luar jendela, hingga membelai tirai gorden yang terbuka.
“Ayah! Ibu!”
Mata Picho spontan terbuka secara paksa, ia terduduk sila di atas kasur tersebut, sembari memegang leher area belakangnya sendiri. Napasnya terengah-engah.
Tak lama kemudian, ia menyadari. Rambutnya sudah panjang menutupi leher, luka tusuk itu sudah menjadi bekas, dan tubuhnya kini telah meninggi dewasa.
“Mimpi?” gumamnya pada dirinya sendiri.
“Kenapa harus tiba-tiba teringat kenangan itu?” Ia nyaris mengeluh.
Picho menghela napas, untuk pertama kalinya merasakan pagi yang sangat berat.
“Aku tahu, manusia itu memang unik. Tapi jarang aku merasakan keunikan itu pada diri sendiri.”
Picho perlahan menurunkan kakinya dari kasur milik Leo, tempat ia biasa menumpang tinggal sejak rumah kayunya hancur dibobol polisi karena tuduhan pembunuhan beberapa bulan lalu.
Ia mencoba menenangkan dirinya agar siap untuk menjalani hari dengan senyuman manis seperti biasanya.
Hingga tanpa aba-aba Leo–sahabatnya sejak menjadi koki, membuka pintu kamarnya dengan kasar.
“Picho! Apa yang terjadi padamu!?” tanyanya, khawatir.
Picho menatap Leo dengan polos.
“Memang, apa yang terjadi?” Ia bertanya ulang.
Leo melangkah kasar mendekati Picho di kasur.
“Kau tadi berteriak amat keras, Picho! Suaranya terdengar hingga ke dapur lantai bawah,” jelasnya, penuh sorotan kekhawatiran.
“Oh? Maaf mengganggu jadwal masak pagimu.” Picho berucap polos, bagai tak bersalah.
Leo menghela napas kasar, dengan kuat mencengkram pipi Picho.
“Kau tahu aku paling benci kata ‘maaf’ kan!? Jawab aku! Kau kenapa!?” desaknya.
“Tak apa. Cuma… mimpi buruk,” jawab Picho, akhirnya jujur, namun tetap ramah dan manis.
Leo menatap cemas ke arah Picho, matanya benar-benar fokus menangkap detail akan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kau teringat masa itu lagi?”
Picho memegangi bekas luka di belakang lehernya, tersenyum kaku menyembunyikan keresahannya.
"Ya, bisa dibilang begitu," jawabnya, seolah itu bukanlah hal yang berat.
Leo sempat terdiam selama beberapa detik, wajahnya membeku saat mengelola jawaban sahabatnya. Lalu ia menghela napas pasrah.
"Hari ini kedai tutup saja," titahnya, tegas.
"Apa?" Picho memastikan kembali.
"Kau perlu istirahat lebih lama hari ini," jelas Leo, lebih terdengar seperti perintah.
"Tapi, Leo...."
"Itu perintah yang tak boleh kau debat."
Picho hanya menghela napas pasrah, tak mampu melawan jika Leo sudah peduli padanya sampai seperti ini.
Tak lama, Picho berdiri, melangkah santai ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya.
Leo yang nyaris mendekati pintu kamar hendak kembali ke dapur, menghentikan sejenak langkahnya, menatap curiga ke arah Picho.
"Hanya mandi, supaya segar." Picho menjelaskan sebelum ditanya.
"Jangan terlalu banyak pikiran hari ini, fokus ke ketenanganmu saja." Leo memperingati, sebelum akhirnya kembali ke dapur.
Selagi Picho membasuh tubuh telanjangnya dengan air shower sembari memegangi bekas luka di lehernya, Leo diam-diam menyiapkan adonan kue di dapur.
Dengan bunga lavender yang direbus hingga aromanya menguar, untuk dicampur dengan adonan telur dan tepung sebagai pewarna alami sekaligus pemberi rasa unik.
Ditambah madu juga sebagai pemanis alami dalam kue tersebut.
Leo bukan spesialis kue, sebaliknya Picho yang lebih handal di bidang kue. Leo dominan di berbagai pasta.
Namun khusus hari ini, Leo ingin mencoba untuk membuat kue yang menenangkan bagi sahabatnya yang sedang berduka.
Selain untuk menenangkan, sebenarnya juga hari ini seharusnya menjadi hari yang spesial bagi Picho jika saja pria manis itu tidak dirundung masa lalu.
Aroma lavender yang menguar, mengundang rasa penasaran Julian–sahabat mereka yang cukup berandal, untuk menghentikan sejenak permainan game-nya dan mengintip ke dapur.
"Masak apa?" tanyanya tiba-tiba, sengaja mengejutkan.
Leo yang sedang fokus menuang cairan lavender ke adonan, sedikit tersentak hingga nyaris menumpahkannya sia-sia ke meja.
"Kue lavender," jawabnya datar, kembali melanjutkan kegiatannya.
Julian perlahan melangkah memasuki dapur dengan sorot mata penasarannya.
"Ada yang ulang tahun kah, sampai buat kue segala?"
Leo berdecak kesal.
"Kau kira jika bukan aku dan dirimu, siapa lagi yang ulang tahun di sini?" sinisnya.
Julian terdiam sejenak untuk mengingatnya, lalu matanya melebar bersama dengan senyumannya.
"Picho!? Picho hari ini ulang tahun!?" Semangatnya menggebu-gebu.
"Jika sudah tahu, berhentilah banyak bertanya!" titah Leo sinis, sembari memasukan adonan kue ke oven.
"Ih, seru banget! Hari ini harus dirayakan dengan cara yang berbeda! Bagaimana jika kita panjat tebing?"
Julian melompat-lompat dengan antusias, tiba-tiba saja menentukan rencana acara.
Leo berhenti bergerak sejenak ketika hendak mengatur suhu dan waktu oven memanggang. Ia menoleh sinis ke arah Julian.
"Gila, ya!? Perasaan Picho hari ini sedang tidak baik, bodoh! Dia harus beristirahat untuk memulihkan perasaannya!" sentaknya akhirnya, geram.
Kini sorot mata Julian menjadi penuh kepedulian bercampur kecemasan.
"Perasaan Picho tidak baik? Picho yang biasanya ceria dan ramah? Bisa sedih? Ada apa dengannya?"
Leo mengatur suhu dan waktu oven bekerja, lalu beralih untuk memukul pelan kepala Julian.
"Namanya juga manusia, pasti ada waktu sedihnya lah!" amuknya, namun tetap sinis.
Julian hanya menatapnya cemas, menantikan jawaban dari pertanyaan keduanya tadi.
Leo yang mengerti arti tatapan itu, menghela napas pasrah sebelum melanjutkan.
"Dia memimpikan masa lalunya."
"Masa lalu? Tentang kematian orang tuanya itu?" Julian memastikan kembali.
Leo mengangkat bahunya sambil duduk santai di bangku dapur, menunggu kue di oven matang.
"Aku tak tahu sejauh mana ia mengingatnya dalam mimpi, yang jelas itu membuat suasana hatinya memburuk."
Lagi, Julian sempat terdiam untuk merenungi keadaannya. Namun akhirnya ia tersenyum lebar juga seperti sebelumnya.
"Justru karena dia lagi sedih, harus diajak main ke tempat yang menyenangkan!" serunya, semakin antusias.
Leo menatapya dengan heran namun dingin.
"Hah....?"
Julian tersenyum bangga, lebih mirip sombong yang penuh percaya diri.
"Nggak belajar psikologi sih! Aku sebagai detektif yang belajar psikologi, paham banget cara memulihkan perasaan orang yang berduka"
Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan posisi tegak condong ke depan.
"Orang kalau terkurung di kamar tanpa melakukan apapun, justru pikirannya akan semakin berkelana ke hal negatif," lanjutnya, menjelaskan.
"Jadi, ayo! Ajak dia panjat tebing!" titahnya, tanpa menunggu debat.
"Selain kue, masakan lagi makanan lain. Kau kan pandai di pasta, biar aku yang masak makanan rumahannya."
Julian tiba-tiba aktif mengambil komando, mengoprek kulkas Leo tanpa izin untuk menyiapkan bahan-bahan, lalu mulai memasak.
Leo hanya bisa menurutinya meski belum sepenuhnya paham, ia hanya berharap Julian takkan menghancurkan segalanya.
Selagi Julian dan Leo sibuk di dapur, Picho masih bermain air di kamar mandi kamarnya, mempererat cengkeramannya pada bekas luka di belakang lehernya.
Dadanya terasa sesak, setiap ingatan tentang orang tuanya terlintas bagai cuplikan film yang menyakitkan.
Air shower menyamarkan air matanya, kala ia menggigit bibirnya sendiri.
Ia sempat mengira bahwa dengan berbuat baik, kebahagiaan akan datang padanya. Namun kenyataannya kini ia masih menyimpan sedih yang mendalam.
Nyaris saja Picho berpikir untuk mengakhiri penderitaan ini dengan mengakhiri hidupnya, namun pikiran itu luntur kala pintu kamar mandi diketuk dengan keras dari luar.
"Picho, lama banget mandinya! Cepat siap-siap! Kita akan panjat tebing hari ini!"
Julian berseru dengan kasar, cukup untuk membuat Picho terlonjak kaget.
"Panjat tebing?" gumam Picho amat pelan, mencoba memahaminya.
"Kalau dalam hitungan sepuluh detik kau belum keluar, kudobrak pintunya!" ancam Julian, lebih keras.
Mendengar itu, sontak Picho terbelalak dan segera mematikan air dari shower.
"Iya, iya, sabar! Aku handukan dulu, bentar!"
Picho buru-buru mengambil handuk, mengeringkan rambut panjangnya dan tubuhnya secara sekilas, lalu membungkus pinggulnya dengan handuk sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandinya.
"Bukan begitu caranya mengajak seseorang main!" tegurnya, sedikit kesal.
Julian menatapnya dengan ekspresi berandal, namun peduli, sambil menyilangkan tangan di dada.
"Habis, kata Leo kau sudah mulai mandi sejak sejam yang lalu. Bagaimana jika kau mati kedinginan!?"
"Memang itu yang kuinginkan," gumam Picho, amat pelan, namun Julian mampu membaca gerakan bibirnya.
"Hah!?" pekik Julian, dengan nada berandal.
Picho menggeleng cepat.
"Bukan apa-apa," elaknya, kembali tersenyum ramah.
"Kau kira kau bisa membohongi detektif sepertiku!?" Julian menarik kasar tangan Picho hingga ke luar kamar mandi.
"Nggak ada ya kata ingin mati lagi! Setidaknya tidak untuk hari ini!" omelnya, seperti kakak yang penuh kepedulian.
Julian mendorong Picho ke kasur, lalu mengoprek lemari kamarnya, mencari baju yang cocok untuk adik laki-lakinya.
"Sekarang cepat pakai baju dan berkemas! Kita berangkat setengah jam lagi!"
Ia memerintahkan dengan kasar, sambil melemparkan baju-baju ke arah Picho, lalu bersandar di pintu kamar memperhatikan Picho.
"Aku pantau, agar kau tidak mencoba mati lagi!" tegasnya.
Picho sempat terdiam beberapa detik, mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi, matanya berkedip beberapa kali, lalu akhirnya kembali tertawa kecil sambil tersenyum manis.
"Baiklah, aku akan berkemas bahkan sebelum lima menit. Terima kasih ya, Julian... Sudah peduli padaku."
Picho mengenakan pakaian yang disediakan oleh Julian dengan posisi membelakangi kawan berandalnya, lalu berkemas dalam pengawasan Julian.
Benar saja, sebelum lima menit Picho sudah siap dengan ransel kecilnya yang berisi minuman dan perlengkapan pengaman saat panjat tebing nanti.
Sedangkan Leo di dapur, memindahkan dengan hati-hati kue lavender dari loyang ke wadah yang akan ia bawa ke tebing.
Bentuknya tak sempurna, sedikit penyok. Tapi warna ungunya menyebar dengan indah, juga madu yang melapisi bagian atas kuenya.
Tak lupa menghias dengan cream putih berbentuk tulisan, "Happy Birthday Picho, 26th, 15 Maret, 2026."
Setelah semuanya siap, tersusun rapi di dalam ransel, mereka pun berangkat menuju tebing 90, menggunakan mobil milik Leo. Julian yang menyetir.
Karena jarak yang cukup jauh dari perkotaan, mereka sampai kaki tebing siang menjelang sore.
Waktu yang sangat pas untuk memanjat tebing, tidak terlalu panas, tidak juga gelap tanpa matahari.
Ketiganya fokus memasang tali pengaman di sela-sela paha dan pinggul masing-masing, sebelum akhirnya memanjat tebing juga dengan hati-hati.
Angin berhembus sejuk kala tiga pria itu merayap di bebatuan tebing, langit biru menunggu di atas sana, kerikil yang jatuh setelah dipijak tak mengalihkan fokus mereka.
Hingga Julian, Leo, dan Picho sampai di puncak, langit nyaris menjadi jingga bercampur ungu.
Picho sempat menghirup napas dalam-dalam, menikmati pemandangan lembayung yang begitu indah. Ia merasa hidup kembali, lebih segar.
Sementara Julian menyiapkan sup daging sapi yang lengkap dengan sayuran buatannya, Leo mengeluarkan wadah kue dan lasagna yang ia buat.
"Yuk, makan!" ajak Julian riang, setelah semuanya tersaji di meja kayu yang tersedia di atas tebing.
Picho menoleh, lalu terpana melihat setiap makanan indah di meja, terutama kue ungu yang aromanya khas lavender, sangat menenangkan, juga tulisan di atas kue tersebut.
Matanya basah ketika mengingat bahwa ini adalah hari ulang tahunnya.
"Ini... Kalian yang buat?"
"Bukan, buatan setan!" sindir Leo dingin, sambil membersihkan tangan dengan disinfektan.
"Serius, Leo!" Picho nyaris merengek kesal.
"Ya iya lah, kami yang bikin! Memang ada siapa lagi selain kami!?" Julian menegaskan.
Picho kembali melihat kue lavender yang penyok.
"Tapi... Leo bukannya nggak pandai buat kue, ya? Selama ini kalau ada yang ulang tahun aku yang buat kue." Ia sedikit ragu.
"Jangan salah paham! Kuenya penyok karena memanjat tebing tadi, terguncang-guncang!" bohong Leo, mencari alasan.
Picho tertawa kecil menyadari kebohongan itu.
"Bentuk bukanlah yang utama, yang penting rasanya enak."
Picho mulai memotong perlahan kue yang lembut itu, lalu mencicipinya. Manis dari madu, juga sedikit pahit dari lavender.
Rasa itu mengajarkan Picho akan kehidupan, yang tak harus selamanya berjalan dengan manis. Ada kalanya ia harus menerima kepahitan dalam hidup.
Tanpa sadar, air mengalir deras dari matanya. Ia menoleh ke arah Leo dan Julian secara bergantian, menyadari bahwa merekalah alasan ia tetap bertahan hidup.
"Teman-teman...." Picho terisak. "Terima kasih!" lanjutnya, menangis haru.
Mereka pun makan bersama di atas tebing, di bawah langit senja, di antara lembayung indah, dalam suasana kehangatan persahabatan yang sudah seperti saudara.