Matahari baru saja tergelincir di balik cakrawala Selat Riau, meninggalkan semburat warna ungu yang tidak wajar di langit Tanjung Uban. Bagi para pelaut, kota di ujung utara Pulau Bintan ini hanyalah tempat transit—sebuah pelabuhan tua tempat kapal-kapal tanker bersandar dan aroma solar bercampur dengan amis air laut. Namun bagi Aris, Tanjung Uban adalah labirin masa lalu yang ia hindari selama sepuluh tahun.
Aris berdiri di tepi jalan dekat pelabuhan lama. Di depannya, deretan bangunan tua peninggalan zaman Belanda berdiri kaku seperti barisan nisan. Kota ini memiliki dua wajah: siang yang sibuk dengan deru mesin industri, dan malam yang senyap, seolah-olah seluruh penghuninya menahan napas untuk sesuatu yang akan keluar dari kegelapan air.
"Jangan pernah ke Dermaga Dua setelah pukul sembilan malam, Ris," suara kakeknya kembali terngiang. Sepuluh tahun lalu, kakeknya hilang di dermaga itu. Tidak ada mayat, tidak ada serpihan kayu, hanya sepasang sandal karet yang tertinggal di ujung beton yang menjorok ke laut.
Aris melangkah menyusuri Jalan Merdeka. Lampu-lampu jalan berkedip tak beraturan. Angin laut bertiup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia tidak sengaja berpapasan dengan seorang lelaki tua yang sedang duduk di depan warung kopi yang sudah tutup. Lelaki itu menatap Aris dengan mata keruh, seolah-olah melihat orang mati yang berjalan kembali.
"Kau punya mata yang sama dengan pria yang hilang itu," gumam lelaki tua itu tanpa basa-basi.
Aris berhenti. "Anda kenal kakek saya?"
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah utara, ke arah kilang minyak besar yang lampunya berkerlap-kerlip. "Tanjung Uban ini dibangun di atas sesuatu yang tidak ingin diganggu, Nak. Minyak yang mereka sedot dari perut bumi bukan satu-satunya hal yang mengalir di bawah tanah kita."
Lelaki itu kemudian tertawa kecil, suara yang lebih mirip gesekan amplas pada kayu kering. "Hati-hati dengan kabut yang berbau besi. Jika kau menciumnya, jangan berbalik. Teruslah berlari sampai kau mencium bau melati. Di sini, maut tidak datang dengan sayap, ia datang dengan pasang surut air laut."
Aris melanjutkan langkahnya dengan perasaan tidak enak. Tujuannya adalah sebuah gudang tua di dekat area Pertamina, tempat terakhir kakeknya terlihat sebelum dinyatakan hilang. Semakin ia mendekati wilayah pelabuhan, suasana semakin mencekam. Suara ombak yang menghantam tiang-tiang beton terdengar seperti bisikan ribuan orang yang tenggelam.
Tiba-tiba, kabut putih yang tebal mulai turun. Kabut itu tidak dingin, melainkan hangat dan lembap. Dan benar apa yang dikatakan lelaki tua tadi: kabut itu berbau besi karat yang menyengat—bau darah.
Aris menyalakan senter ponselnya. Cahayanya hanya mampu menembus satu meter di depannya. Di tengah kesunyian itu, ia mendengar suara klik-klik-klik. Suara itu ritmis, seperti bunyi logam yang beradu.
Klik-klik-klik.
Langkah Aris terhenti tepat di depan gerbang Dermaga Dua yang sudah dirantai. Di balik kabut, ia melihat bayangan hitam besar yang menjulang. Itu bukan kapal. Bayangan itu terlalu ramping dan tinggi, bergerak perlahan di atas permukaan air tanpa menimbulkan riak.
"Siapa di sana?" teriak Aris. Suaranya tertelan kabut.
Tiba-tiba, dari kegelapan air di bawah dermaga, sebuah tangan pucat dan panjang—terlalu panjang untuk ukuran manusia—muncul dan mencengkeram tepian beton. Kuku-kukunya hitam dan tajam. Perlahan, sesosok makhluk merayap naik. Tubuhnya tertutup lumut laut yang licin, dengan wajah yang hanya berupa lubang hitam tanpa mata.
Aris membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Makhluk itu mengeluarkan suara klik-klik dari tenggorokannya. Ia seolah sedang mencari arah melalui getaran suara.
"Ris... tolong..."
Suara itu sangat lemah, tapi Aris mengenalinya. Itu suara kakeknya. Suara itu berasal dari lubang hitam di wajah makhluk tersebut.
Aris ingin berlari, tapi kakinya seolah terpaku di aspal. Bau besi semakin tajam. Saat makhluk itu mulai mendekat dengan gerakan patah-patah, bau melati yang tiba-tiba menyeruak entah dari mana. Harumnya sangat kuat, menutupi bau darah di udara.
Dari kegelapan di belakang Aris, sebuah tangan tua menarik kerah bajunya dengan kasar. "Bodoh! Sudah kubilang jangan berhenti!" Itu si lelaki tua dari warung kopi.
Mereka berlari menyusuri gang-gang sempit di antara gudang tua. Di belakang mereka, suara klik-klik-klik terdengar semakin cepat dan marah. Aris bisa merasakan hawa dingin di tengkuknya, seolah-olah sesuatu yang basah baru saja menyentuh kulitnya.
Mereka sampai di sebuah kuil tua kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon beringin. Di sana, bau melati berasal dari tumpukan bunga yang diletakkan di altar sederhana. Lelaki tua itu langsung mengunci pintu kayu yang berat.
"Apa itu tadi?" tanya Aris dengan napas tersengal.
"Itu adalah Penjaga Uban," kata lelaki tua itu sambil mengatur napas. "Dulu, sebelum pipa-pipa minyak ditanam, orang-orang di sini memberikan sesembahan agar laut tetap tenang. Saat industri datang, sesembahan dihentikan. Mereka pikir teknologi bisa mengusir yang kuno."
Lelaki tua itu menatap Aris dengan iba. "Kakekmu tidak hilang karena kecelakaan. Dia dijadikan pengganti sesembahan yang terlupakan. Dia tidak mati, Aris. Dia menjadi bagian dari 'mereka'. Yang kau dengar tadi adalah sisa jiwanya yang terperangkap dalam daging yang sudah membusuk di dasar selat."
Aris terduduk lemas di lantai semen yang dingin. Di luar, suara cakaran pada pintu kayu mulai terdengar. Srek... srek... srek...
"Dia tahu kau ada di sini karena darahnya mengalir di nadimu," bisik lelaki tua itu. "Di Tanjung Uban, rahasia tidak pernah terkubur selamanya. Ia hanya menunggu air pasang untuk kembali ke daratan."
Tiba-tiba, suara cakaran itu berhenti. Suasana menjadi sangat sunyi, hingga suara detak jam dinding di dalam kuil terdengar seperti dentuman meriam. Aris melihat ke arah celah di bawah pintu. Air laut berwarna hitam mulai merembes masuk, membawa serta aroma besi yang mual.
"Kenapa airnya masuk?" tanya Aris ketakutan.
Lelaki tua itu memejamkan mata, mulai merapal doa. "Karena malam ini, air laut tidak hanya naik ke dermaga. Malam ini, laut menagih janji yang belum lunas."
Pintu kayu itu tiba-tiba meledak hancur. Bukan karena didorong, tapi karena tekanan air yang begitu kuat dari luar. Namun anehnya, air itu tidak membasahi seluruh ruangan, melainkan membentuk pusaran hitam di tengah kuil. Dari dalam pusaran itu, wajah kakek Aris muncul—pucat, dengan mata yang sudah putih sepenuhnya.
"Pulanglah, Aris," bisik wajah itu. "Atau tinggallah di sini, bersamaku di bawah sana. Dingin, tapi kau takkan pernah merasa sepi lagi."
Aris memejamkan mata rapat-rapat saat tangan-tangan dingin mulai menyentuh pergelangan kakinya. Di saat itulah ia tersadar, bahwa di Tanjung Uban, bukan laut yang harus ditakuti, melainkan apa yang dipanggil oleh laut dari dalam diri kita sendiri: penyesalan.
Keesokan paginya, matahari terbit di Tanjung Uban seperti biasa. Para buruh pelabuhan mulai bekerja, kapal tanker bersiap lepas sauh. Namun di dekat kuil tua bawah pohon beringin, orang-orang menemukan sepasang sandal baru yang masih bersih, tergeletak persis di samping sepasang sandal karet tua yang sudah berlumut.
Tak ada jejak kaki, tak ada bekas air. Hanya aroma melati yang tertinggal, bercampur dengan bau solar yang tajam di udara pagi.