Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah rutinitas bernama pernikahan. Orang-orang bilang, lima tahun pertama adalah masa kritis, dan setelah lewat satu dekade, rasa cinta biasanya akan menguap menjadi sekadar rasa tanggung jawab yang hambar. Namun, di rumah kecil dengan cat dinding berwarna krem ini, teori itu seperti dipatahkan setiap harinya oleh sosok laki-laki bernama Arlan.
Sore itu, hujan turun cukup deras. Aku duduk di tepi ranjang, menatap rintik air yang menghantam kaca jendela dengan tatapan kosong. Sebenarnya tidak ada masalah besar. Hanya saja, kelelahan mengurus rumah, tenggat pekerjaan kantor yang menumpuk, ditambah siklus bulanan yang sebentar lagi datang, membuat suasana hatiku keruh. Aku hanya ingin diam. Menutup mulut rapat-rapat dan membiarkan kepalaku berisik sendirian.
Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Tanpa menoleh pun, aku tahu itu Arlan. Dia baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang kerja. Bau sabun mint yang segar menyeruak, diikuti oleh amblasnya kasur di sampingku karena beban tubuhnya.
Aku tidak menoleh. Aku tetap mematung.
"Bunda kenapa?" suara baritonnya mengalun lembut, jenis suara yang selalu berhasil membuat pertahananku goyah, tapi kali ini aku berkeras untuk tetap membisu.
Satu menit berlalu tanpa jawaban dariku. Arlan tidak lantas pergi atau menyalakan televisi untuk mengabaikanku. Dia justru menggeser duduknya, lebih dekat hingga bahu kami bersentuhan.
"Ayah salah apa hari ini? Tadi pagi Ayah lupa taruh handuk ya? Atau Ayah lupa kabari pas jam makan siang?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih khawatir.
Aku tetap diam, meski dalam hati aku ingin berteriak kalau dia tidak salah apa-apa. Aku hanya sedang kesal pada dunia. Tapi egoku menahan lidahku. Aku ingin melihat sejauh mana dia akan membujukku kali ini.
"Peluk ya?"
Tanpa menunggu persetujuanku, lengan kekarnya sudah melingkar di bahuku. Dia menarik tubuhku masuk ke dalam dekapannya. Hangat. Sangat hangat sampai-sampai mataku mulai terasa panas. Arlan meletakkan dagunya di puncak kepalaku, mengusap lenganku dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Masih mau diam? Oke, Ayah temani diamnya," bisiknya.
Lima belas menit kami dalam posisi itu. Aku yang kaku seperti patung dan dia yang sabarnya seluas samudera. Namun, karena aku masih juga belum mengeluarkan suara, Arlan mulai melancarkan aksi "tahap kedua". Dia tahu betul kalau aku tidak bisa tahan jika dia sudah mulai bertingkah konyol.
Dia melepaskan pelukannya, lalu berdiri di depanku. Tiba-tiba, dia melakukan gerakan dance aneh yang pernah kami lihat di video viral kemarin, lengkap dengan ekspresi wajah yang dibuat sedemikian rupa hingga terlihat sangat lucu.
"Lihat ini, Bunda. Ini adalah tarian 'Suami Pencari Maaf'. Kalau Bunda nggak senyum dalam hitungan ketiga, Ayah bakal lanjut pakai gerakan kayang," ancamnya sambil menyengir lebar.
Aku menggigit bibir bawahku, sekuat tenaga menahan tawa. Sial, dia tahu titik lemahku.
"Satu... dua... dua setengah..."
"Ih, Ayah apaan sih! Malu liatnya!" akhirnya suaraku pecah juga. Aku melempar bantal ke arahnya, yang dengan sigap ditangkapnya sambil tertawa puas.
"Nah, gitu dong. Kalau bicara kan cantik. Jangan ditekuk terus mukanya, nanti bidadarinya hilang," godanya sambil kembali duduk di sampingku, kali ini meraih kedua tanganku dan mengecupnya bergantian.
Ketulusan itu yang terkadang membuatku merasa tidak pantas. Bagaimana mungkin selama sepuluh tahun, tidak ada satu hari pun dia menunjukkan wajah lelah padaku? Bagaimana mungkin egonya bisa begitu rendah di hadapanku?
Namun, suasana hatiku yang tidak stabil hari ini ternyata lebih kuat dari sekadar candaan. Ingatan tentang setumpuk masalah mendadak menyerang lagi. Perasaan lelah yang bertumpuk membuat air mataku jatuh tanpa permisi. Aku mulai sesenggukan, lalu berubah menjadi tangisan yang cukup hebat—jenis tangisan "tantrum" orang dewasa yang meluapkan segala hal.
Aku mulai meracau tentang pekerjaanku, tentang kompor yang tadi siang hampir meledak, tentang tetangga yang berkomentar nyinyir soal tanaman hias, hingga hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Aku menangis sampai sesak napas.
Arlan tidak panik. Dia juga tidak membentakku dengan kata-kata seperti "Cuma gitu aja kok nangis?" atau "Sabar dong, jangan lebay."
Sebaliknya, dia menarikku kembali ke pelukannya, lebih erat dari sebelumnya. Dia membiarkan kemejanya basah oleh air mataku. Tangan kanannya mengusap punggungku dengan gerakan memutar yang menenangkan, sementara tangan kirinya mendekap kepalaku ke dadanya.
"Istigfar, Sayang... Istigfar. Tarik napas dulu," bisiknya tepat di telingaku. "Ayo ngomong, letak salahnya di mana? Kita perbaiki bareng-bareng. Jangan marah-marah sendiri, nanti jantungnya capek. Ayah di sini, Ayah dengerin semuanya."
Kalimat itu sederhana, tapi bagiku itu adalah oase. Dia tidak memintaku berhenti menangis secara paksa, dia hanya memintaku untuk meluapkannya dengan cara yang lebih tenang agar kami bisa mencari solusi.
"Aku... aku cuma capek, Yah," ucapku terbata-bata di sela tangis.
"Iya, Ayah tahu Bunda capek. Bunda hebat sudah urus semuanya. Maafin Ayah kalau kurang bantu Bunda hari ini. Besok kita bagi tugas lagi ya? Bunda mau makan apa malam ini? Ayah masakin atau kita pesan?"
Aku mendongak, menatap matanya yang jernih. Tidak ada kemarahan di sana, tidak ada rasa jengkel karena istrinya baru saja bersikap kekanak-kanakan. Yang ada hanyalah binar kasih sayang yang sama seperti sepuluh tahun lalu saat dia mengucapkan janji suci di depan penghulu.
Seringkali teman-temanku bercerita tentang suami mereka yang berubah setelah punya anak, atau suami yang mulai dingin setelah bertahun-tahun menikah. Mereka sering iri melihat postingan foto kami, meski aku jarang membagikan kemesraan yang berlebihan. Mereka bilang, aku sangat beruntung. Dan setiap kali aku mengalami momen seperti sore ini, aku sadar bahwa "beruntung" adalah kata yang terlalu kecil untuk menggambarkan apa yang aku miliki.
Arlan adalah definisi rumah yang sesungguhnya. Tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura kuat setiap saat. Tempat di mana kekuranganku tidak dijadikan senjata untuk menyerangku, melainkan alasan baginya untuk lebih melengkapiku.
Setelah tangisku reda, Arlan menyeka sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Dia mencium keningku lama sekali, seolah sedang menyalurkan seluruh energi positif yang dia punya.
"Sudah enakan?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk pelan, merasa sedikit malu karena sudah menangis sehebat tadi. "Maaf ya, Yah. Aku malah tantrum nggak jelas."
Dia tertawa kecil, lalu mencubit hidungku gemas. "Nggak apa-apa. Memang tugas Ayah kan jadi samsak emosinya Bunda? Daripada Bunda nangis ke suami orang, mending nangis ke Ayah. Bonusnya dapet peluk gratis lagi."
Aku tertawa, benar-benar tertawa kali ini. Rasa sesak yang tadi menghimpit dadaku seolah menguap begitu saja.
Malam itu, kami menghabiskan waktu di dapur bersama. Arlan yang memasak nasi goreng—masakan andalannya yang rasanya selalu pas—dan aku yang duduk di meja makan sambil memperhatikannya. Sesekali dia berbalik hanya untuk mengerlingkan mata atau sekadar memastikan aku masih tersenyum.
Melihat punggung laki-laki itu, aku berbisik dalam hati, berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat tanpa sayap dalam wujud seorang suami. Sepuluh tahun yang luar biasa, dan aku berharap sepuluh tahun berikutnya, dan berikutnya lagi, sosok di depanku ini tetap menjadi orang yang sama. Orang yang selalu bertanya 'Bunda kenapa?' setiap kali aku diam, dan orang yang selalu menawarkan pelukan sebagai obat dari segala duka.
Sebab bagiku, kebahagiaan bukan tentang seberapa mewah rumah yang kami tinggali, tapi tentang seberapa besar rasa aman yang aku rasakan setiap kali dia berkata, "Ayok ngomong letak salahnya di mana, kita perbaiki." Karena bersamanya, aku tahu, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diselesaikan selama kami masih saling menggenggam.
Aku sangat bersyukur. Sangat, sangat bersyukur.