Judul: Cinta Pertamaku
Pagi itu halaman sekolah masih dipenuhi embun. Aku berjalan melewati koridor sambil memeluk buku ke dada. Ini adalah hari pertamaku di kelas baru, dan entah kenapa jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.
Namaku Amaya. Aku bukan siswi yang populer. Aku lebih suka duduk di dekat jendela, membaca buku, dan memperhatikan langit.
Saat aku masuk kelas, seseorang tiba-tiba menabrakku dari belakang.
“Maaf! Aku tidak lihat jalan,” katanya.
Aku menoleh. Seorang siswa laki-laki dengan napas sedikit terengah berdiri di depanku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru saja berlari.“Aku juga tidak apa-apa,” jawabku pelan.
Dia tersenyum. “Aku Ren.”Sejak hari itu, kami sering duduk berdekatan di kelas. Kadang dia meminjam pensilku, kadang aku meminjam catatannya. Hal-hal kecil yang awalnya biasa saja, lama-lama membuat hatiku hangat.Suatu siang sepulang sekolah, aku duduk di bangku taman sekolah sambil menunggu jemputan. Ren datang dan duduk di sampingku.
“Kamu selalu duduk di sini ya?” katanya.
“Iya. Di sini tenang,” jawabku.Ren menatap langit sebentar, lalu berkata, “Aku suka duduk di sini juga… karena bisa bertemu kamu.”
Aku terdiam. Wajahku terasa panas.
Angin sore berhembus lembut. Daun-daun bergoyang pelan di atas kami.
Ren lalu berkata dengan suara pelan, “Amaya… boleh aku jujur?”
Aku menoleh.
“Kamu adalah cinta pertamaku.”
Jantungku berdegup kencang. Aku tidak pernah menyangka kata-kata itu akan datang secepat ini.
Aku tersenyum kecil.“Ren… ini juga pertama kalinya seseorang mengatakan itu padaku.”
Ren tertawa pelan, lalu kami duduk berdampingan sambil melihat matahari perlahan tenggelam di balik gedung sekolah.
Hari itu aku mengerti satu hal.
Cinta pertama mungkin sederhana—
hanya duduk bersama di bangku taman sekolah,
berbagi cerita,
dan merasakan dunia tiba-tiba menjadi lebih indah dari biasanya. ✨Judul: Cinta Pertamaku (Bagian 2)
Sejak hari di taman sekolah itu, semuanya terasa berbeda bagiku.
Ren tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa kami berpacaran, tetapi cara dia memperlakukanku membuatku mengerti bahwa aku istimewa baginya.
Setiap pagi, Ren selalu datang lebih dulu ke kelas. Saat aku masuk, dia biasanya sudah duduk di bangku sambil memutar pensil di jarinya.
“Pagi, Amaya,” katanya sambil tersenyum.
Aku membalas dengan senyum kecil.
“Pagi, Ren.”
Hal kecil seperti itu membuat hariku terasa lebih cerah.
Suatu hari saat pelajaran matematika, aku kesulitan mengerjakan soal. Aku menatap buku dengan bingung.Judul: Cinta Pertamaku (Bagian 2)
Sejak hari di taman sekolah itu, semuanya terasa berbeda bagiku.
Ren tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa kami berpacaran, tetapi cara dia memperlakukanku membuatku mengerti bahwa aku istimewa baginya.
Setiap pagi, Ren selalu datang lebih dulu ke kelas. Saat aku masuk, dia biasanya sudah duduk di bangku sambil memutar pensil di jarinya.
“Pagi, Amaya,” katanya sambil tersenyum.
Aku membalas dengan senyum kecil.
“Pagi, Ren.”
Hal kecil seperti itu membuat hariku terasa lebih cerah.
Suatu hari saat pelajaran matematika, aku kesulitan mengerjakan soal. Aku menatap buku dengan bingung.Ren yang duduk di sebelahku mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Kamu tidak mengerti yang ini?” bisiknya.Aku mengangguk pelan.
Ren lalu mengambil pensilku dan menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya di bukuku.
“Nah, seperti ini,” katanya.
Aku memperhatikannya menjelaskan. Wajahnya terlihat serius, tetapi matanya lembut.
“Ternyata kamu pintar juga,” kataku pelan.Ren lalu mengambil pensilku dan menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya di bukuku.
“Nah, seperti ini,” katanya.
Aku memperhatikannya menjelaskan. Wajahnya terlihat serius, tetapi matanya lembut.“Nah, seperti ini,” katanya.
Aku memperhatikannya menjelaskan. Wajahnya terlihat serius, tetapi matanya lembut.
“Ternyata kamu pintar juga,” kataku pelan.
Ren tertawa kecil.
“Jangan bilang ke orang lain. Nanti reputasiku rusak.”
Aku ikut tertawa.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kami sering belajar bersama di perpustakaan, berbagi bekal saat istirahat, bahkan kadang pulang sekolah bersama.Sampai suatu sore.
Langit terlihat mendung, dan angin bertiup cukup kencang. Aku kembali duduk di bangku taman sekolah tempat pertama kali Ren mengatakan perasaannya.
Ren datang sambil membawa dua minuman kaleng.
“Nih, buat kamu,” katanya sambil memberikannya padaku.
“Terima kasih.”
Kami duduk berdampingan seperti biasa. Tapi kali ini Ren terlihat sedikit gelisah.
“Amaya…” katanya pelan.“Ada apa?”
Ren menunduk sebentar sebelum berbicara lagi.
“Ayahku dipindahkan kerja ke kota lain.”Aku terdiam.
“Artinya… aku mungkin harus pindah sekolah bulan depan.”
Kata-kata itu terasa seperti hujan yang tiba-tiba turun tanpa peringatan.
“Pindah…?” suaraku hampir tidak terdengar.
Ren mengangguk pelan.
Aku menatap tanah, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba terasa berat di dada.
Cinta pertamaku… baru saja dimulai.
Tapi sekarang sepertinya sudah harus menghadapi perpisahan.Ren menatapku dengan lembut.
“Amaya, walaupun aku pindah… aku tidak akan melupakanmu.”
Angin sore berhembus lagi, membawa bau hujan.
Aku menggenggam kaleng minuman di tanganku dan berusaha tersenyum.
“Ren… kamu juga cinta pertamaku.”
Untuk beberapa saat, kami hanya duduk dalam diam, mendengarkan suara angin dan daun yang bergoyang.
Kami tahu satu hal.Ren menatapku dengan lembut.
“Amaya, walaupun aku pindah… aku tidak akan melupakanmu.”
Angin sore berhembus lagi, membawa bau hujan.
Aku menggenggam kaleng minuman di tanganku dan berusaha tersenyum.
“Ren… kamu juga cinta pertamaku.”
Untuk beberapa saat, kami hanya duduk dalam diam, mendengarkan suara angin dan daun yang bergoyang.
Kami tahu satu hal.Ren menatapku dengan lembut.
“Amaya, walaupun aku pindah… aku tidak akan melupakanmu.”
Angin sore berhembus lagi, membawa bau hujan.
Aku menggenggam kaleng minuman di tanganku dan berusaha tersenyum.
“Ren… kamu juga cinta pertamaku.”
Untuk beberapa saat, kami hanya duduk dalam diam, mendengarkan suara angin dan daun yang bergoyang.
Kami tahu satu hal.Kadang cinta pertama tidak selalu tentang memiliki selamanya.
Terkadang…
cinta pertama adalah kenangan yang akan selalu tinggal di hati.