Lampu kamar kos berkedip-kedip, seolah-olah ikut lelah mendengarkan perdebatan yang terjadi melalui sambungan telepon malam itu. Naya memijat pelipisnya, menatap langit-langit plafon yang sedikit berjamur, sementara suara di seberang sana, suara Rendy—laki-laki yang sudah dipacarinya selama dua tahun—terdengar begitu penuh percaya diri, seolah-olah dia baru saja menyusun strategi masa depan yang paling brilian di muka bumi.
"Nanti kalau kita sudah nikah dan memang jodoh, kamu ikut aku ya, Nay. Kita tinggal di rumah Ibu," suara Rendy terdengar ringan. "Kasihan Ibu sudah tua. Nanti kamu bisa bantu-bantu ngurus sawah juga. Kalau pagi-pagi Ibu ke sawah atau ke kebun, ya kamu harus ikut. Kan nggak enak kalau mertua kerja, menantunya cuma di rumah."
Naya terdiam. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rendy, tanpa ada jeda untuk bertanya, *"Kamu keberatan nggak?"* atau *"Kira-kira kamu sanggup nggak?"*. Di samping Naya, Ibunya yang sedang melipat baju mendadak menghentikan gerakannya. Wajah Ibu yang biasanya teduh, berubah menjadi garis keras yang menahan amarah. Ibu mendengar semuanya karena Rendy sengaja mengeraskan suaranya, mungkin ingin menunjukkan betapa "berbaktinya" dia sebagai anak.
Ibu Naya merebut ponsel itu dengan gerakan cepat. "Rendy, ini Ibu," suara Ibu bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang meluap. "Dengar ya, Rendy. Ibu nggak keberatan Naya ikut kamu ke mana pun setelah nikah. Tapi kalau kamu suruh dia tinggal sama mertua, apalagi sampai kamu suruh dia ke sawah, Ibu nggak akan pernah rida."
Suara di seberang sana hening sejenak.
"Loh, Bu, kan itu namanya berbakti—"
"Berbakti itu ada tempatnya, Rendy!" Ibu memotong tajam. "Seumur hidup Naya, saya sebagai ibunya nggak pernah nyuruh dia ke sawah. Saya banting tulang biar dia kuliah, biar dia punya tangan yang halus untuk masa depannya, bukan untuk kamu bawa ke lumpur sawah cuma buat nemenin ibu kamu yang memang sudah terbiasa di sana. Jangan bandingkan ketahanan fisik orang yang lahir di kebun dengan anak saya."
Naya menarik napas dalam, merasa hatinya seperti diremas. Ia mencintai Rendy, atau setidaknya, ia mencintai sosok Rendy yang dulu ia kenal. Namun, akhir-akhir ini, Rendy seolah bertransformasi menjadi laki-laki yang tidak punya visi mandiri. Semuanya tentang Ibunya, tentang rumahnya, dan tentang egonya.
Malam itu, setelah telepon ditutup dengan ketegangan, Naya mencoba berbicara secara pribadi dengan Rendy melalui pesan singkat. Ia mencoba menjadi suara logika yang tenang.
*"Ren, daripada kamu pakai uang tabunganmu buat renovasi rumah Ibu yang sekarang, mending kita simpan buat DP rumah sendiri suatu saat nanti. Di sana kan masih ada kakakmu yang tinggal. Kalau kamu renovasi, itu rumah tetap bukan milik kita sepenuhnya. Kita butuh privasi, Ren. Kita butuh ruang sendiri buat tumbuh."*
Balasannya datang sepuluh menit kemudian, singkat dan menyakitkan hati.
*"Nggak bisa, Nay. Aku mau rumah itu bagus buat Ibu. Kamu jangan egois. Masa disuruh tinggal sama ortu aja nggak mau? Berarti kamu nggak sayang sama keluargaku."*
Naya menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Egois? Kalimat itu terasa seperti tamparan. Ia hanya ingin mereka mandiri. Ia tidak ingin menjadi beban di rumah mertua, dan ia tidak ingin melihat Rendy menjadi "ATM berjalan" bagi perbaikan rumah yang dihuni oleh banyak kepala, sementara masa depan mereka sendiri masih abu-abu.
Hari-hari berikutnya menjadi masa perenungan bagi Naya. Ia mulai memperhatikan pola perilaku Rendy yang selama ini ia maklumi sebagai "anak berbakti". Ternyata, ada garis tipis antara berbakti dan tidak punya pendirian. Rendy adalah tipe laki-laki yang akan mengorbankan perasaan istrinya demi validasi dari keluarganya. Ia adalah cowok yang merasa "worth it" hanya karena dia patuh, tanpa menyadari bahwa seorang suami punya kewajiban untuk melindungi istrinya, termasuk melindungi dari tekanan domestik yang tidak perlu.
Naya teringat ucapan temannya, "Nay, cowok yang belum selesai sama urusan rumahnya sendiri, jangan diajak bangun rumah tangga baru. Kamu cuma bakal jadi 'pembantu gratisan' yang berkedok menantu."
Puncaknya terjadi saat Rendy mengajak Naya berkunjung ke rumahnya di desa. Di sana, Naya melihat realita yang Rendy tawarkan. Ibunya Rendy memang baik, tapi beliau adalah tipe orang tua yang mengharapkan semua orang mengikuti standar hidupnya.
"Nanti kalau Naya di sini, bangun jam empat ya. Bantu Ibu petik cabai di kebun belakang," ujar Ibu Rendy sambil menyuguhkan teh. Rendy hanya tersenyum bangga, seolah hal itu adalah prestasi. Ia sama sekali tidak membela Naya, tidak juga menjelaskan bahwa Naya punya pekerjaan kantor yang dilakukan secara daring yang butuh konsentrasi.
Malam itu, di teras rumah kayu tersebut, Naya membuat keputusan. Ia menatap Rendy yang sedang asyik membicarakan rencana mencat ulang tembok ruang tamu rumah ibunya dengan uang yang seharusnya menjadi tabungan nikah mereka.
"Ren, aku nggak bisa," ujar Naya pelan namun tegas.
Rendy menoleh. "Nggak bisa apa?"
"Aku nggak bisa jadi bagian dari rencana masa depanmu yang nggak melibatkan kenyamananku. Kamu mau jadi anak berbakti, itu bagus. Tapi kamu lupa, kamu sedang mencari istri, bukan asisten tambahan buat Ibu."
"Kamu mulai lagi, Nay? Cuma gara-gara sawah sama rumah?" Rendy mendengus remeh.
"Bukan cuma itu, Ren. Ini tentang prinsip. Kamu lebih memilih merenovasi rumah yang ada kakakmu di dalamnya daripada memikirkan atap untuk anak-istrimu nanti. Kamu menyuruhku ke sawah tanpa pernah bertanya apa aku mampu. Kamu nggak 'worth it' buat diperjuangkan kalau kamu sendiri nggak tahu cara memperjuangkan aku di depan keluargamu."
Naya berdiri, mengambil tasnya. Ia merasa beban berat di pundaknya luruh seketika. Cinta memang penting, tapi harga diri dan kepastian masa depan jauh lebih krusial.
"Ibu benar," bisik Naya sebelum melangkah pergi. "Beliau membesarkanku dengan susah payah bukan untuk kamu jadikan alat pelengkap di kebun ibumu. Cari saja wanita yang mimpinya sama denganmu, Ren. Karena mimpiku bukan menjadi bayang-bayang di rumah orang lain."
Naya pulang dengan hati yang hancur, namun logikanya bersorak menang. Ia menyadari bahwa melepaskan laki-laki yang tidak bisa membedakan antara "berbakti" dan "menindas" adalah salah satu bentuk *self-love* terbaik yang pernah ia lakukan. Di usia 20-an, ia belajar bahwa lebih baik patah hati sekarang daripada patah hidup selamanya di bawah atap yang tidak pernah menghargai keberadaannya.
Laki-laki yang benar-benar bernilai adalah dia yang mampu menghormati ibunya tanpa harus merendahkan istrinya, dan dia yang mampu membangun istana sendiri meski harus dari nol, daripada hanya sibuk mempercantik singgasana orang lain dengan mengorbankan kesejahteraan pasangannya.
---