Lampu kota Jakarta dari lantai dua puluh empat apartemen itu tampak seperti hamparan permata yang diserakkan di atas beludru hitam. Bagi Bayu, setiap kerlip lampu itu adalah simbol rupiah yang harus ia taklukkan. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, Bayu adalah definisi dari "pemuja angka". Sepuluh tahun terakhir hidupnya adalah perlombaan tanpa garis finis.
Ia memulai segalanya di usia dua puluh dengan ambisi yang meluap-luap. Menjadi karyawan teladan di pagi hari, mengurus bisnis sampingan di sore hari, hingga bermain di ranah abu-abu saat malam tiba. Riba? Bayu tidak peduli. Baginya, bunga bank adalah akselerator, dan pinjaman berbunga tinggi adalah anak tangga menuju singgasana kemewahan. Ia ingin dipandang, ia ingin disegani, ia ingin dunia bertekuk lutut di bawah kakinya.
Namun, semakin banyak ia meraup, semakin kering kerongkongannya. Mengejar dunia, bagi Bayu, ternyata persis seperti meminum air laut. Seteguk terasa segar, namun sedetik kemudian rasa haus yang lebih hebat mencekik leher.
Memasuki tahun kesepuluh kegilaannya, semesta seolah mulai mengirimkan sinyal berhenti melalui cara yang kasar. Cobaan datang bertubi-tubi tanpa jeda. Bisnis yang ia banggakan rontok karena pengkhianatan mitra kerja. Investasi yang ia tanam dengan sistem riba justru berbalik mencekik lehernya dengan utang yang membengkak. Kesehatan fisiknya menurun, dan tidurnya tak pernah nyenyak meski beralaskan kasur seharga puluhan juta.
Bayu jatuh bangun. Ia mencoba bangkit dengan cara yang sama—mencari pinjaman baru, menipu sana-sini—namun hidupnya justru semakin tak terarah. Ia merasa seperti tikus di dalam roda putar; berlari sekuat tenaga namun tetap di tempat yang sama, lelah dan hampir mati kehabisan napas.
Suatu malam, di tengah keheningan apartemennya yang kini terasa seperti penjara mewah, Bayu duduk di lantai. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Sosok di sana tampak tua, kuyu, dan hampa.
"Sebenarnya... tujuan hidupku ini apa?" bisiknya pada kegelapan.
Tangannya meraba ponsel. Entah dorongan apa, ia mencari aplikasi Al-Qur'an yang sudah bertahun-tahun ada di memori ponselnya namun tak pernah sekali pun disentuh. Ia membukanya dengan tangan bergetar. Ia menggeser layar secara acak, membiarkan jemarinya berhenti di mana saja.
Matanya tertuju pada sebuah ayat. *Adz-Dzariyat ayat 56.*
Ia membaca terjemahannya pelan-pelan: *"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."*
Dunia seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam ulu hatinya lebih keras daripada kebangkrutan mana pun yang pernah ia alami. Bayu menangis. Awalnya hanya isakan kecil, lalu berubah menjadi raungan yang memecah kesunyian malam. Ia menangis semalaman, membasahi lantai apartemennya dengan air mata penyesalan.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun hidupnya terbuang demi ambisi yang fana. Ia menyadari betapa sombongnya ia selama ini. Bagaimana mungkin ia ingin menggenggam segalanya, menginginkan keberkahan dan ridho-Nya, sementara ia tak pernah sekali pun bersujud? Bagaimana mungkin ia merasa bisa sukses dengan kekuatannya sendiri, sementara ia mengabaikan Dzat yang Maha Kaya dan Maha Segalanya?
"Selama ini aku mengejar bayangan," isaknya di antara sujud tobat yang pertama setelah sekian lama. "Aku mengejar ridho manusia yang pandangannya berubah-ubah, sementara aku melupakan Pencipta manusia yang kasih-Nya abadi."
Sejak malam itu, *mindset* Bayu berubah total. Ia memutuskan untuk berhenti dari segala urusan riba, meskipun itu berarti ia harus kehilangan apartemen dan mobil mewahnya. Ia kembali ke rumah kecil ibunya di pinggiran kota. Ia menata hidup dari nol. Baginya, ibadah kini adalah nomor satu. Ia mulai menjaga salat lima waktu di awal waktu, ia mulai menghidupkan malamnya dengan tahajud.
Anehnya, saat ia melepaskan dunia, dunia justru mulai mengikutinya dengan cara yang tenang. Pekerjaan yang ia dapatkan memang tidak menghasilkan miliaran dalam sebulan, tapi cukup dan sangat berkah. Hatinya tenang. Ia tidak lagi dikejar-kejar ketakutan akan hari esok.
"Kalau pun aku ditakdirkan hidup miskin tanpa memiliki apapun di dunia ini," pikirnya suatu sore saat duduk di teras rumah ibunya, "setidaknya aku sedang membangun rumah di akhirat yang kekal. Di surga nanti, tidak ada hal yang tidak mungkin terwujud. Di sana, tidak ada lagi rasa haus yang mencekik."
Sebulan setelah ia memulai perjalanan tobatnya, sebuah berita duka datang. Aris, sahabat karibnya sejak masa jaya dulu, meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung. Aris adalah cermin dari diri Bayu yang lama: sukses besar, rumah bak istana, koleksi mobil mewah, dan memiliki istri yang sangat cantik jelita.
Bayu datang ke pemakaman. Ia berdiri di tepi liang lahat, menatap kain kafan yang membungkus tubuh Aris. Tidak ada rumah mewah yang ikut masuk ke sana. Tidak ada kunci mobil sport yang diletakkan di samping jenazah. Semuanya ditinggalkan.
Beberapa bulan kemudian, Bayu mendengar kabar bahwa rumah mewah Aris sudah disita bank karena utang bisnis yang tersisa, dan istri Aris yang dulu sangat ia banggakan dan cintai, kini sudah dipinang oleh pria lain.
Hati Bayu bergetar hebat. Kejadian itu menjadi segel pengunci bagi keyakinannya. Dunia ini benar-benar tidak kekal. Harta yang diraih dengan susah payah tidak dibawa mati, dan cinta manusia ternyata memiliki batas waktu yang sangat singkat.
Bayu pulang dari pemakaman dengan langkah yang lebih mantap. Ia bukan lagi Bayu yang dulu, yang mengejar air laut untuk memuaskan dahaga. Ia adalah Bayu yang kini mencari air jernih dari telaga rida Tuhannya. Ia menyadari bahwa sukses sejati bukan saat orang memandang kita dengan kagum di dunia, melainkan saat Allah memandang kita dengan senyum saat kita kembali ke haribaan-Nya.
Lampu-lampu kota Jakarta masih berkelap-kelip di kejauhan, tapi bagi Bayu, cahaya yang paling terang kini ada di dalam dadanya sendiri—cahaya iman yang tak akan pernah padam oleh gelapnya dunia.
---