Lampu minyak di sudut ruangan itu menari-nari, membiaskan bayangan yang panjang dan gelisah di dinding kayu yang mulai lapuk. Di luar, hujan turun dengan ritme yang monoton, seolah-olah langit sedang menceritakan sebuah kisah duka yang tak kunjung usai. Hemily duduk bersimpuh di atas sajadah yang ujungnya sudah mulai benang-benangnya terurai. Di tangannya, seuntai tasbih kayu cendana bergerak pelan seiring dengan bisikan doa yang nyaris tak terdengar, namun sanggup menggetarkan udara di sekitarnya.
Ini bukan sekadar doa. Ini adalah sebuah pertaruhan jiwa.
"Ya Allah, Engkau yang membolak-balikkan hati, Engkau yang menggenggam setiap takdir di balik rahasia waktu," bisiknya dengan suara serak. Air mata yang sejak tadi tertahan, akhirnya luruh, membasahi kain mukena yang sudah pucat warnanya. "Hamba tidak akan menetapkan sesuatu dengan pasti, karena kepastian adalah milik-Mu. Namun, hamba membawa tekad yang tak kunjung padam, hasrat yang hamba titipkan pada setiap sujud."
Di dalam kepalanya, bayangan wajah itu kembali muncul. Wajah yang selama bertahun-tahun menjadi alasan baginya untuk tetap bernapas di tengah himpitan kenyataan yang seringkali tidak memihak. Hubungan mereka bukanlah hubungan yang mudah. Dunia melihatnya sebagai sebuah ketidakmungkinan, sebuah garis sejajar yang tak akan pernah bertemu di satu titik temu. Ada tembok besar yang menghalangi; entah itu jarak, restu, atau keadaan yang memaksa mereka untuk berdiri di sisi yang berbeda.
Namun, Hemily memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain: keyakinan yang melampaui logika.
Orang-orang di sekitarnya seringkali berkata dengan nada kasihan, "Hemily, lepaskanlah. Hidup itu harus realistis. Jangan mengejar pelangi yang tak akan pernah bisa kau sentuh." Ia hanya tersenyum getir mendengar itu. Baginya, realitas hanyalah satu sisi dari keping koin kehidupan. Sisi lainnya adalah iman, dan di sanalah ia berpijak.
Keyakinannya bukan tanpa alasan. Alam semesta seolah-olah berkomplot untuk memberinya pesan. Lewat mimpi-mimpi yang begitu nyata, ia seringkali merasa berada di sebuah tempat yang jauh, di masa depan yang bercahaya, di mana ia dan sosok itu duduk bersama tanpa ada lagi air mata atau perpisahan. Mimpi-mimpi itu bukan sekadar bunga tidur; baginya, itu adalah surat cinta dari langit yang dikirimkan langsung ke dalam lubuk hatinya.
Pernah suatu malam, dalam mimpinya, ia berdiri di sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga yang belum pernah ia lihat di dunia nyata. Di sana, ia mencium aroma kedamaian yang begitu pekat. Sosok itu ada di sana, tersenyum ke arahnya dengan tatapan yang berkata, *"Tunggulah sedikit lagi, perjalanan ini hampir sampai."* Saat terbangun, ia masih bisa merasakan hangatnya senyuman itu meresap ke dalam tulang-belulangnya.
"Semua yang aku peroleh ini," batinnya sambil menatap kegelapan di balik jendela, "adalah gambaran masa depan. Mungkin tidak sekarang. Mungkin bukan di saat ini ketika luka masih terasa basah dan rindu masih terasa mencekik."
Ia teringat sebuah percakapan singkat di bawah rintik hujan setahun yang lalu. Sosok itu menatapnya dengan mata yang redup, penuh dengan beban tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan.
"Hemily, dunia ini tidak adil bagi kita," kata sosok itu dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin.
"Mungkin benar," jawab Hemily saat itu, tangannya menggenggam payung dengan erat. "Tapi Tuhan tidak pernah tidak adil. Jika kita tidak bisa bersatu di titik ini, itu hanya karena jalan yang harus kita tempuh masih panjang. Aku akan menunggu di setiap tikungan doa."
Sejak hari itu, Hemily mengubah kesedihannya menjadi energi yang luar biasa. Ia bekerja keras, ia menata hidupnya, ia memperlebar kapasitas hatinya untuk menampung sabar yang tak bertepi. Ia tidak lagi mengeluh tentang mengapa kebahagiaan itu belum hadir. Ia justru bersyukur, karena penantian ini telah menjadikannya manusia yang lebih utuh, yang lebih mengenal Tuhannya.
Task kecil yang ia lakukan setiap hari—bekerja, mengurus diri, membantu orang lain—semuanya ia persembahkan sebagai mahar bagi mimpi yang sedang ia bangun di langit. Ia percaya bahwa setiap getaran yang dimasukkan ke dalam batinnya, setiap tanda yang ia baca melalui isyarat alam, adalah janji yang pasti akan ditepati.
Waktu terus bergulir. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Kerutan halus mulai muncul di sudut matanya, menceritakan setiap malam yang ia habiskan dalam doa. Rambutnya mungkin tidak sehitam dulu, namun jiwanya justru semakin bersinar.
Suatu hari, di sebuah senja yang berwarna keemasan, ketika ia sedang duduk di sebuah kedai kopi tua sambil memperhatikan kerumunan orang, sebuah bayangan menghalangi cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Ia mendongak, dan jantungnya seolah-olah berhenti berdetak.
Di depannya, berdiri sosok itu. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, garis wajahnya menunjukkan keletihan yang amat sangat, namun matanya masih menyimpan binar yang sama yang sering ia lihat dalam mimpinya.
"Aku mencari jalan pulang selama bertahun-tahun," kata sosok itu dengan suara gemetar. "Dan setiap kali aku tersesat, aku selalu mendengar suaramu dalam doaku. Aku merasa kau sedang menungguku."
Hemily tidak bisa berkata-kata. Air mata kebahagiaan, yang selama ini ia simpan di dalam botol-botol tak kasat mata di dalam hatinya, akhirnya tumpah. Ia menyadari bahwa segala keyakinannya, segala isyarat yang ia tangkap dari alam, dan segala mimpi yang ia rawat dengan air mata, bukanlah sebuah delusi.
Kebahagiaan itu akhirnya menjelma. Bukan saat mereka masih muda dan penuh dengan ego, melainkan saat mereka sudah sama-sama luruh oleh kehidupan, saat mereka sudah memahami bahwa kebahagiaan yang sejati adalah ketika dua jiwa bertemu kembali setelah melewati ujian kesetiaan yang paling berat.
"Aku sudah bilang padamu," bisik Hemily sambil tersenyum di balik tangisnya. "Bahwa kebahagiaan untuk kita bakal hadir menjelma. Aku melihatnya di masa depan, dan sekarang, masa depan itu adalah saat ini."
Malam itu, hujan tidak lagi terdengar menyedihkan. Ia terdengar seperti sebuah perayaan. Hemily menyadari bahwa hidup ini memang bukan tentang menetapkan sesuatu dengan pasti, melainkan tentang meyakini bahwa di tangan Sang Pencipta, tidak ada harapan yang akan berakhir sia-sia jika ia dijalin dengan doa dan kesabaran yang tak kunjung padam.
Ia menutup matanya sejenak, mengucap syukur yang paling dalam. Akhirnya, gambaran masa depan yang selama ini ia peluk erat dalam batinnya, telah menjadi kenyataan yang bisa ia sentuh dengan tangannya sendiri.
---