Lantai kayu di rumah panggung kami selalu mengeluarkan derit yang sama, sebuah simfoni tua yang seolah meratapi ingatan Ayah yang kian hari kian meluruh. Di pedalaman tanah Melayu ini, waktu terasa berjalan melingkar, namun bagi Ayah, waktu adalah sebuah labirin tanpa pintu keluar.
Ayahku, seorang lelaki yang dulunya memiliki ingatan setajam parang perajang rotan, kini tersesat di dalam kepalanya sendiri. Penyakit pikun itu datang seperti kabut tebal di pelabuhan; perlahan, dingin, dan menghapus seluruh cakrawala. Ia tak lagi mengenali arah kiblat, ia tak lagi ingat cara mengancingkan baju, dan yang paling menyayat sembilu: ia lupa bahwa aku adalah darah dagingnya sendiri.
Pagi itu, cahaya matahari menyusup malu-malam di sela-sela ventilasi kayu, menciptakan garis-garis emas di atas tempat tidur Ayah. Aku datang membawa semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Ayah duduk bersandar, matanya yang mulai keruh menatapku dengan binar yang aneh. Bukan binar kasih sayang seorang bapak kepada anaknya, melainkan tatapan seorang pemuda yang sedang dilanda asmara yang gila.
"Nona," panggilnya lembut. Suaranya gemetar, namun ada nada sungguh-sungguh yang membuat jantungku mencelos. "Sudah lama aku ingin mengatakannya. Engkau begitu sabar merawatku yang tua renta ini. Engkau begitu telaten, seolah hatimu terbuat dari sutra paling halus di tanah ini."
Aku tersenyum, menyodorkan sesendok bubur. "Makan dulu, Yah. Supaya tenaganya pulih."
Ayah menepis pelan tanganku. Ia meraih jemariku, menggenggamnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Tatapannya dalam, menembus langsung ke relung jiwaku.
"Nona, bersediakah engkau menjadi istriku? Menjadi pendamping hidupku di sisa usiaku yang singkat ini? Aku berjanji akan menjagamu, meski aku sendiri tak tahu siapa aku sebenarnya."
Rasanya seperti ada godam yang menghantam dadaku. Sakitnya luar biasa, namun aku harus tetap berdiri tegak. Ini bukan pertama kalinya. Dalam seminggu terakhir, Ayah sudah melamarku tiga kali. Ia menatapku seolah aku adalah jawaban dari segala doanya, tanpa menyadari bahwa akulah jawaban dari doa-doa masa mudanya yang kini ia lupakan: seorang anak perempuan.
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh ke dalam mangkuk bubur. Aku tersenyum lebar, jenis senyum yang kupelajari dari Ibu—senyum yang menyembunyikan badai di baliknya.
"Yang bener saja, Ayah," kataku sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang menyesakkan itu. "Saya ini anak kandung Ayah. Darah daging Ayah sendiri. Masa Ayah mau menikahi anak sendiri?"
Ayah tertegun. Matanya mengerjap-ngerjap. Sejenak, ada kilatan kesadaran yang melintas di sana, seperti petir di tengah malam yang gelap. Ia melepaskan genggamannya. Wajahnya berubah pucat, lalu kemerahan karena malu.
"Astagfirullah... Astagfirullahalazim," bisiknya lirih. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya yang gemetar. "Ampuni hamba, Ya Allah. Aku sudah gila. Aku sudah kehilangan akalku."
"Sudah, Yah, tidak apa-apa. Ayah hanya sedang lelah," hiburku sambil mengusap bahunya yang kian ringkih.
Ayah menangis sesenggukan. Ia adalah singa yang dulu ditakuti di hutan, kini ia hanyalah seekor burung kecil yang sayapnya patah dan jiwanya tersesat. Namun, aku tahu mengapa ia selalu begini. Setiap kali aku bercermin, aku melihat bayangan Ibuku, Rahimahumullaah. Garis mataku, cara bibirku melengkung saat tersenyum, bahkan caraku membelah rambut, semuanya adalah duplikasi sempurna dari perempuan yang dicintainya separuh mati itu.
Ayah tidak sedang melamarku. Ia sedang melamar memori tentang Ibu yang terjebak di wajahku.
Beberapa hari kemudian, siklus itu terulang lagi. Kabut di kepalanya kembali menutup pintu ingatan. Ayah kembali menjadi pemuda yang jatuh cinta, dan aku kembali menjadi perempuan asing yang paling ia damba. Ia akan bercerita tentang keindahan senja, tentang janji-janji setia, dan tentang betapa sabarnya aku—seorang "Nona" yang asing namun terasa sangat dekat.
Merawat seseorang yang kehilangan ingatan adalah pekerjaan yang menguras emosi secara sadis. Engkau harus siap untuk dilupakan setiap pagi, dan harus siap untuk menjadi orang asing di rumahmu sendiri. Engkau berdiri di sana, memberikan cinta yang paling murni, namun orang yang kau cintai justru mencintaimu sebagai orang lain.
Pernah suatu malam, Ayah terbangun dan menangis histeris. Ia mencari-cari "putrinya". Ia berteriak memanggil namaku dengan suara parau yang membelah keheningan malam. Aku berlari menghampirinya, memeluknya erat-erat.
"Ini aku, Yah! Aku di sini! Aku anakmu!" teriakku di telinganya.
Ayah mendorongku pelan, menatapku dengan wajah ketakutan. "Bukan! Kamu bukan anakku! Kamu adalah perempuan yang ingin kunikahi itu! Mana putri kecilku? Mana dia?"
Aku terduduk di lantai, membiarkan air mata tumpah tak terbendung. Itulah puncak dari segala rasa sakit. Di titik itu, aku menyadari bahwa aku telah kehilangan Ayahku secara psikologis, jauh sebelum maut menjemputnya secara biologis. Aku kehilangan pelindungku, guruku, dan sosok yang paling mengenalku di dunia ini.
Namun, di tengah segala penderitaan itu, ada sebuah keajaiban kecil yang sering terjadi. Saat aku membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an di samping tempat tidurnya, Ayah akan tenang. Ia akan menatap langit-langit dengan tatapan damai, dan sesekali ia akan menggumamkan nama Ibu dengan nada yang sangat menyentuh.
"Rahimah... kau pulang?" bisiknya.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, memerankan peran apa pun yang dibutuhkan oleh jiwanya yang sedang mengembara. Jika hari ini ia membutuhkanku sebagai anaknya, aku akan menjadi anak yang paling patuh. Jika besok ia melihatku sebagai bayangan Ibuku, aku akan memberikan kesabaran yang sama seperti yang diberikan Ibu kepadanya dulu.
Inilah pengabdian yang paling sunyi. Sebuah cinta yang tidak mengharapkan pengakuan, karena orang yang dicintai sudah kehilangan kemampuan untuk mengenali. Aku tetap memasak masakan kesukaannya, meski ia bertanya setiap hari "siapa namamu?". Aku tetap mencuci bajunya, meski ia heran mengapa "perempuan asing" ini begitu baik padanya.
Mungkin, di suatu tempat di dalam otaknya yang rusak itu, masih ada sisa-sisa memori tentang seorang anak perempuan kecil yang sering ia panggul di pundaknya saat melihat pawai di pasar. Mungkin, rasa cintanya padaku telah bermutasi menjadi rasa kagum yang ia salah artikan sebagai asmara, karena ia tak lagi punya kosakata untuk mendefinisikan hubungan kami.
Aku akan terus berada di sini, di antara derit lantai kayu dan aroma obat-obatan. Aku akan terus tersenyum saat ia melamarku, dan aku akan terus mengingatkannya untuk beristigfar dengan suara yang lembut. Karena bagiku, meski ia lupa siapa aku, aku tak akan pernah lupa siapa dia. Ia adalah Ayahku, lelaki terbaik yang pernah diciptakan Tuhan untuk menjagaku, dan kini giliranku untuk menjaganya di dalam labirin panjang bernama masa tua.
Biarlah ia jatuh cinta berkali-kali padaku, karena itu artinya ia masih bisa merasakan cinta. Dan bagiku, melihatnya tersenyum—meski kepada orang yang salah di dalam kepalanya—adalah bayaran yang cukup untuk seluruh rasa lelah dan air mata yang jatuh di balik pintu kamar.
Sebab cinta yang paling sejati adalah cinta yang tetap bertahan, justru saat ia sudah tidak lagi dikenali.
---