Sandya bersama kedua temannya Leni dan Greta sedang mencari tempat menginap.
Mereka mengendarai mobil dengan Greta yang menyetir, Leni duduk di sampingnya, dan Sandya duduk di bagian belakang. Dalam perjalanan Sandya merasa mengantuk jadi dia tertidur sebentar. Sesaat setelah Sandya terbangun, mobil yang mereka bertiga tumpangi berhenti. Kelihatannya Leni dan Greta baru saja membicarakan sesuatu, Sandya penasaran apa yang mereka bicarakan tapi dia tidak bertanya. Sandya ingat kalau dia memimpikan sesuatu dalam tidurnya, tapi dia tidak dapat mengingat mimpi seperti apa itu. Dia saat ini hanya merasakan perasaan yang sangat tidak enak dan ini sepertinya ada hubungannya dengan mimpinya.
Melihat kedua temannya turun dari mobil, Sandya juga ikut turun. Dia melihat ke sekitar, tampaknya itu adalah sebuah kuil. Di sana ada sebuah gerbang dua pintu, dengan salah satu pintu gerbangnya terbuka lebar dan satu lainnya hanya terbuka sedikit. Dibalik gerbang ada banyak anak tangga yang menuju ke atas dan untuk sampai ke atas kelihatannya harus berjalan beberapa puluh meter.
"Kami harusnya mencari tempat menginap, kenapa malah berhenti di sini? Mungkinkah kami akan menginap di kuil ini?" tanya Sandya dalam hati.
Leni dan Greta masuk dan menaiki anak tangga, Sandya juga ikut dan berjalan di bagian paling belakang. Sandya berjalan sambil menundukkan kepala, mencoba mengingat mimpinya karena perasaannya mengatakan bahwa mimpinya ada hubungannya dengan kuil itu. Semakin berjalan naik ke atas perasaan Sandya menjadi semakin tidak enak, ingatan tentang mimpinya yang samar-samar juga menjadi semakin jelas. Saat sampai di anak tangga paling atas Sandya berhenti dan mengangkat kepalanya.
"Aku tadi mimpi Krisna..." Sandya sudah ingat sebagian dari mimpinya.
Sandya melihat Leni dan Greta sudah tidak ada di depannya, dia berjalan ke arah kiri berharap akan segera menemukan mereka. Setelah beberapa saat, Sandya tiba-tiba berhenti dan matanya terbelalak, terkejut dengan apa yang sedang dia lihat. Jarak beberapa meter di depannya ada sebuah patung Krisna dengan pose meniup seruling, dan yang membuat Sandya terkejut adalah kedua temannya sedang berusaha mengambil seruling itu yang kelihatannya adalah sebuah ornamen dari emas asli. Leni sedang menopang tubuh Greta agar tidak jatuh, sedangkan Greta sedang berjinjit di atas sebuah batu dengan tangan kanannya berpegangan pada pundak Leni dan tangan kirinya sedang berusaha meraih seruling.
"Krisna... Seruling... Seruling," Gumam Sandya yang berdiri diam melihat tindakan temannya.
Greta yang berhasil mengambil ornamen seruling itu lalu langsung berlari melewati Sandya.
"Ayo pergi!" ajak Leni yang juga berlari melewati Sandya.
"Tunggu! Mimpiku sepertinya ada hubungannya dengan seruling ini..." Sandya berbalik dan berlari mengikuti, mencoba memberitahu mereka tentang mimpinya.
Melihat kedua temannya yang sama sekali tidak mendengarkan ucapannya, Sandya terdiam dan hanya mengikuti mereka menuruni anak tangga dengan cepat. Selama menuruni anak tangga, Sandya merasakan hawa buruk mulai muncul di dalam kuil. Sesampainya didepan kuil, Sandya yang sudah sepenuhnya teringat mimpinya berhenti dan berdiri diam.
"Teman-temanku sudah melakukan kesalahan besar dengan mencuri seruling itu, begitu juga dengan diriku yang hanya berdiri diam dan tidak menghentikan tindakan mereka. Ini adalah dosa besar dan kami akan segera menerima karma buruk karenanya," pikir Sandya sambil menatap seruling di tangan Greta lalu menatap punggung kedua temannya yang hendak kembali ke mobil.
Sandya yang tadinya hanya terdiam, berjalan menghampiri kedua temannya dan mencoba memberanikan dirinya untuk bicara pada mereka.
"Kalian dengarkanlah aku! Setiap kali hal buruk akan terjadi, aku selalu tiba-tiba tertidur lalu memimpikan hal yang berkaitan dengannya dan kalian tau itu kan! Sebelum sampai di kuil tadi aku tiba-tiba tertidur di dalam mobil dan memimpikannya. Patung Krisna yang ada di kuil itu muncul dalam mimpiku dan dan sebuah kata berulang kali terngiang di telingaku saat itu, SERULING! Aku yakin kalau kita membawa seruling itu pergi, akan ada hal buruk terjadi pada kita segera setelah kita pergi dari sini!" Ucap Sandya menperingatkan temannya.
Leni dan Greta menatap ke kuil dengan rasa takut, mereka tau yang dikatakan Sandya bukanlah omong kosong belaka.
"Greta, ayo kita kembalikan saja," ucap Leni sambil menatap Greta dengan cemas.
"Aku juga ingin mengembalikannya, tapi... aku tidak berani kembali ke sana," balas Greta sambil menatap ke arah kuil dengan ekspresi takut.
Sandya mengerti perasaan mereka, karena dia juga merasakan hal yang sama. Mungkin hal buruk akan terjadi jika mereka kembali ke sana.
"Aku pemuja Dewa Wisnu, sedangkan Krisna adalah salah satu perwujudan dari Wisnu. Seharusnya akan baik-baik saja jika aku yang ke sana," pikir Sandya dalam benaknya.
"Biar aku saja yang mengembalikannya," ucap Sandya setelah berpikir sejenak.
Leni dan Greta tidak tau harus apa jadi mereka memutuskan untuk percaya pada Sandya. Sandya menerima seruling dari Greta lalu berjalan masuk ke kuil. Baru menginjakkan kaki di anak tangga pertama, tiba-tiba angin berhembus dan hawa buruk yang sebelumnya mulai kembali terasa. Untuk mengatasi rasa takutnya, Sandya berjalan menaiki anak tangga sambil mengucapkan mantra yang biasanya digunakan untuk memuja Dewa Wisnu yang dia ketahui.
Masih setengah jalan lagi untuk sampai ke atas, Sandya menoleh ke bawah dan melihat gerbang di bawah tiba-tiba tertutup dengan sendirinya yang membuat Sandya terkejut. Saat menaiki anak tangga lagi, pintu besar dengan dua daun pintu berwarna hitam dibagian atas kuil yang letaknya menghadap anak tangga tiba-tiba terbuka lebar dan mengeluarkan hawa yang sangat buruk. Suasana dikuil mulai terlihat suram dan diselimuti hawa gelap, angin yang tadinya berhembus pelan kini berubah menjadi angin kencang.
Walaupun sulit, Sandya tidak menyerah dan tetap berusaha naik sambil terus mengucapkan mantra untuk menambah keyakinannya. Semakin kencang angin berhembus, semakin lantang pula suara yang dikeluarkan Sandya saat mengucapkan mantra. Setelah naik dengan penuh usaha akhirnya Sandya sampai di anak tangga paling atas lalu bergegas pergi ke arah kiri.
Sambil tetap mengucapkan mantra, Sandya berlari ke arah patung Krisna. Dia berjinjit di atas batu untuk mengembalikan seruling itu ke tangan patung Krisna. Itu sulit tapi setelah terus berusaha dia berhasil mengembalikan ornamen seruling itu ke tempatnya. Dia kemudian berlari kembali ke arah anak tangga dan melihat situasinya masih tetap sama. Dengan berjuang sekuat tenaga, dia menuruni anak tangga dan hal ini lebih sulit dari saat dia menaikinya. Dia juga tidak berani berhenti mengucapkan mantra karena tekanan yang dirasakan olehnya.
Sandya pikir setelah mengembalikan seruling itu maka kondisi kuil akan kembali seperti semula, tapi sampai sampai sekarang tidak ada perubahan apapun. Pintu besar di atas masih tetap mengeluarkan hawa buruk, kuil masih diselimuti hawa gelap dan angin kencang masih terus bertiup. Sampai di pertengahan jalan menuruni anak tangga, Sandya berhenti dan membalikkan badan sambil mendongak ke atas.
"Mungkinkah aku meletakan seruling itu dalam posisi terbalik?" tanya Sandya di dalam hatinya dengan cemas.
Sandya sempat berpikir ingin kembali ke atas untuk memastikannya. Tapi setelah memikirkannya baik-baik, dia yakin sudah meletakkan seruling itu dalam posisi yang benar jadi dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Dia membalikan badannya kembali dan lanjut menuruni anak tangga.
Saat tiba di bagian paling bawah, gerbang depan kuil sudah kembali terbuka dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, dengan salah satu pintu gerbangnya terbuka lebar dan satu lainnya hanya terbuka sedikit. Begitu Sandya keluar dari kuil, pintu yang ada di atas tiba-tiba tertutup rapat, angin kencang dan hawa gelap juga berangsur-angsur menghilang. Hawa buruk yang dirasakan Sandya pun sudah tidak ada, dia merasa lega karena keadaan kuil sudah kembali seperti semula.
Bagi Sandya pintu besar itu terlihat sangat misterius.Itu karena saat dia naik bersama teman-temannya sebelumnya, dia tidak ingat ada pintu itu di atas sana. Saat hawa buruk keluar dari pintu itu, Sandya sekilas melihat kegelapan yang ada di balik pintu itu dan dia merasa yang ada di sana pasti jauh lebih mengerikan.
Sandya teringat pada teman-temannya yang tidak dilihatnya saat keluar dari kuil. Dia mencari ke sekitar tapi tidak menemukan mereka, mobil yang mereka naiki bersama juga sudah tidak ada di sana. Sandya berpikir teman-temannya mungkin sudah pergi karena takut. Sandya menatap ke arah kuil lagi karena rasa penasarannya dan mengingat hal-hal yang baru saja di alami olehnya.
"Mungkin sebaiknya aku segera pergi dari sini," gumam Sandya sambil berjalan menjauhi kuil itu.