Kematian sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang gelap, sunyi, dan dingin. Namun bagi Amira, kepulangan ibunya justru menjadi gerbang menuju keajaiban yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hari itu, langit di atas rumah Amira tampak begitu teduh, seolah semesta pun sedang memberikan penghormatan terakhir bagi seorang wanita yang seluruh hidupnya dihabiskan dalam diam dan ketulusan.
Ibu Amira wafat dengan tenang dalam tidurnya. Namun, ada satu hal yang membuat setiap pelayat yang datang tertegun. Begitu jenazah mulai dipersiapkan untuk dimandikan, sebuah aroma mulai menyerbak. Bukan aroma bunga mawar biasa yang biasanya ditaburkan, melainkan sebuah wangi yang belum pernah Amira hirup seumur hidupnya.
Wangi itu begitu murni, seperti perpaduan antara kesturi, kayu gaharu yang lembut, dan kesegaran embun pagi di pegunungan.
"Amira, wangi apa ini nak? Wangi sekali ibumu," bisik kerabat yang membantu memandikan.
Amira hanya terdiam, air matanya jatuh tapi hatinya terasa hangat. Ia melihat wajah ibunya. Tidak ada gurat kesakitan atau beban hidup yang tersisa. Ibunya tampak jauh lebih muda, kulitnya bersih, dan yang paling menyayat hati Amira adalah sebuah senyuman kecil yang terukir di bibir ibunya. Sebuah senyuman yang begitu tulus, seolah beliau sedang melihat sesuatu yang sangat indah di depan matanya.
Sepanjang prosesi, mulai dari dikafani hingga diletakkan di dalam keranda, wangi itu tidak hilang. Bahkan saat keranda itu diangkat menuju pemakaman, angin membawa wangi itu ke seluruh penjuru komplek. Amira terus bertanya-tanya dalam hati, “Amalan apa yang Mama lakukan sampai Allah memuliakan Mama dengan wangi sesegar ini? Amalan apa yang Mama sembunyikan dari kami semua?”
---
Malam pertama tanpa Ibu adalah malam yang paling berat. Rumah terasa begitu luas dan sunyi. Amira tertidur karena kelelahan menangis, namun di tengah lelapnya, ia mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang tidak pernah ada dalam peta dunia.
Amira berdiri di sebuah jalan setapak yang bersih, di bawah langit yang warnanya sulit dilukiskan—perpaduan antara cahaya fajar dan emas. Di depannya, berdiri seorang wanita yang sangat ia kenali. Namun, wanita itu tampak berbeda.
Ibunya berdiri di sana, terlihat begitu anggun. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih dan memancarkan cahaya, tubuhnya tampak tinggi semampai, dan garis wajahnya terlihat tegas namun lembut, menyerupai wanita-wanita dari tanah Arab yang sering Amira lihat di buku sejarah Islam.
Di sisi kiri dan kanan Ibunya, berdiri dua orang yang sangat besar. Mereka mengenakan jubah putih yang begitu bersih hingga menyilaukan mata. Wajah mereka pun tertutup oleh cahaya yang sangat terang, namun memancarkan aura perlindungan yang sangat kuat.
"Sini sayang... ikut ke rumah Mama," suara Ibu terdengar begitu merdu, menggema lembut di telinga Amira.
Amira melangkah mendekat, seolah kakinya tidak menyentuh tanah. Saat ia mengikuti Ibunya, ia terpesona melihat pemandangan di sekelilingnya. Di tempat itu, masjid-masjid berdiri megah di mana-mana. Kubah-kubahnya bersinar keperakan, dan suara lantunan zikir terdengar seperti musik alam yang menenangkan jiwa.
Mereka sampai di sebuah bangunan yang Ibu sebut sebagai "rumah". Begitu Amira melangkah masuk, ia terkesima. Di dalam rumah itu, dindingnya berhiaskan emas yang berkilau lembut, dan ada dedaunan hijau yang bentuknya sangat indah, bergoyang pelan meski tak ada angin.
Dan wangi itu... wangi yang sama saat Ibu wafat. Di sini, wanginya berkali-kali lipat lebih kuat. Wangi bunga-bungaan yang segar menyebar ke seluruh ruangan, membuat siapa pun yang menghirupnya merasa segala beban hidupnya hilang seketika.
Ibu mengajak Amira menyusuri ruangan demi ruangan. Di beberapa sudut, Amira melihat banyak sekali orang berpakaian jubah putih, wajah mereka bersinar terang, berdiri dengan tenang dan penuh wibawa.
"Mah, kok banyak sekali orang berjubah putih yang mukanya bersinar di sini?" tanya Amira dengan suara bergetar karena takjub.
Ibu menoleh, menatap Amira dengan penuh kasih sayang. "Itu semua yang menjaga Mama, Nak. Mereka adalah teman-teman Mama di sini."
Ibu kemudian menggandeng tangan Amira, membawanya ke sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya yang sangat menyejukkan.
"Kamu nanti baik-baik ya di dunia... Mama akan selalu menjagamu bersama orang-orang di sekitarmu ini. Jangan pernah merasa sendiri," ucap Ibu lembut.
Amira ingin memeluk Ibunya, ingin tinggal di sana selamanya, di rumah yang penuh emas, wangi bunga, dan ketenangan itu. Namun, Ibu perlahan melangkah mundur menuju sebuah cahaya putih yang sangat besar dan menyilaukan.
"Hati-hati di jalan, Nak. Mama selalu di sampingmu..."
Suara itu adalah hal terakhir yang didengar Amira sebelum ia tersentak bangun dari tidurnya.
---
Amira terbangun dengan bantal yang basah oleh air mata. Namun, kali ini air matanya bukan lagi air mata duka yang sesak. Ada sebuah kedamaian yang menyelinap di dadanya. Ia segera duduk dan beristighfar, mencoba mengingat setiap detail mimpi indah itu.
Ia teringat senyum ibunya, wangi yang abadi itu, dan masjid-masjid yang berdiri megah di sana. Amira menyadari bahwa semua yang ia lihat dalam mimpi adalah balasan atas ketulusan ibunya selama hidup. Ibunya yang tidak pernah mengeluh, yang selalu menjaga shalatnya dalam diam, dan yang selalu bersedekah tanpa ada yang tahu.
Mimpi itu adalah hadiah terakhir dari ibunya. Sebuah pesan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah kepulangan menuju keindahan yang hakiki.
"Terima kasih, Ma," bisik Amira sambil menatap foto ibunya yang tersenyum di atas meja. "Amira akan baik-baik saja di dunia. Amira akan terus mengirimkan doa supaya rumah Mama di sana semakin indah dan semakin wangi."
Amira kini mengerti, bahwa meski raga ibunya sudah tertutup tanah, kehadiran ibunya akan selalu ada. Melalui doa, melalui wangi yang sesekali terlintas di ingatannya, dan melalui cahaya yang kini memandu setiap langkah hidupnya.
---