Lantai kamar mandi belakang itu selalu terasa dingin, namun siang itu, dinginnya semen kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhku. Air di dalam bak mandi masih tenang, berkilau memantulkan cahaya matahari yang masuk dari celah atap, kontras dengan badai yang meledak tepat di belakang punggungku.
Semua bermula dari hal sepele. Sebuah tumpukan kain yang lupa kurendam. Di mata orang lain, itu mungkin hanya kelalaian kecil seorang anak SMP yang sedang banyak tugas sekolah. Namun di rumah ini, lupa adalah dosa besar yang bayarannya adalah darah dan air mata.
"Kamu itu bisanya apa, hah?!" suara Mama melengking, memantul di dinding-dinding sempit kamar mandi.
Aku menunduk, tanganku masih basah oleh sisa sabun. Aku belum sempat menjawab, belum sempat membela diri bahwa aku baru saja selesai mengerjakan PR matematika yang rumit, ketika sebuah tangan kasar mencengkeram kerah bajuku.
Tubuhku yang kecil diseret. Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai yang licin. Rasa sakit pertama datang saat kepalaku menghantam tepian bak mandi. Pandanganku sempat mengabur, namun Mama belum selesai. Rambutku dijambak kuat-kuat, ditarik hingga wajahku terangkat paksa. Aku merasa kulit kepalaku seolah hendak terlepas dari tengkoraknya.
"Ma, sakit Ma... Maaf, Abang lupa," isakku pecah.
Bukannya mereda, amarah di mata Mama justru semakin menyala. Ia membenturkan kepalaku ke tembok. *Dug.* Suara itu terdengar tumpul namun bergaung di dalam telingaku. Dunia seolah berputar. Aku jatuh tersungkur, mencium aroma pembersih lantai yang tajam, sementara langkah kaki Mama menjauh menuju dapur.
Untuk beberapa detik, aku berharap dia pergi untuk menenangkan diri. Namun harapan itu sirna saat dia kembali dengan sebilah kayu yang biasa digunakan untuk mengaduk masakan besar. Kayu yang keras dan berat.
Hantaman itu datang bertubi-tubi. Di punggung, di kaki, di lengan yang kugunakan untuk melindungi wajah. Setiap pukulan mengeluarkan suara *buk* yang mengerikan, diikuti rasa panas yang membakar kulit. Aku berlutut di atas lantai yang basah, menyatukan kedua telapak tanganku di depan dada.
"Ampun, Ma... Sakit... Janji nggak lupa lagi..." aku memohon dengan suara parau, air mataku bercampur dengan air yang menggenang di lantai.
Tapi hati Mama seolah telah membatu. Tidak ada belas kasihan di wajah wanita yang seharusnya menjadi tempatku berlindung itu. Saat kayu itu terangkat tinggi menuju kepalaku, aku berteriak dengan sisa tenaga, "Jangan di kepala, Ma... Sakit banget..."
Mama berhenti sejenak. Aku mengira kalimatku menyentuh nuraninya. Aku mengira dia akan melihat luka-luka memar yang mulai membiru di kulit anaknya. Namun, dia justru menatapku dengan dingin, tatapan yang lebih menyakitkan daripada pukulan kayu itu sendiri.
"Ooh, sakit di kepala?" tanyanya datar, tanpa emosi. "Jadi, mau bagian mana lagi yang dipukul?"
Pertanyaan itu menghancurkan sisa-sisa harapanku. Aku menangis sesenggukan, menyadari bahwa di rumah ini, rasa sakitku adalah bahan bakar bagi amarahnya. Aku berteriak minta tolong, berharap ayah atau saudara yang lain mendengar. Namun rumah itu sunyi. Entah mereka tidak ada, atau mereka memilih untuk menutup telinga. Tidak ada tangan yang terulur untuk menarikku dari neraka kecil di kamar mandi belakang itu.
---
Aku terduduk lemas di sudut kamar mandi, memeluk lututku yang gemetar. Mama pergi lagi. Aku mengira badai telah berlalu. Namun beberapa menit kemudian, dia kembali bukan membawa obat atau pelukan, melainkan sebuah gunting tajam.
Dia tidak bicara. Dia langsung mencengkeram rambutku dan mulai memotongnya secara asal. *Krek... krek...* Suara gunting itu terdengar begitu dekat di telingaku. Helai-helai rambutku jatuh satu per satu ke lantai yang basah, mengapung di atas sisa air sabun.
Dia memotongnya hingga pendek sekali, merusak penampilanku, seolah ingin menghapus martabatku sebagai manusia. Setelah puas, dia melemparkan gunting itu dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang hancur berkeping-keping di lantai kamar mandi.
Malam itu, dan hari-hari setelahnya, aku membungkam mulutku. Aku tidak berani bercerita kepada siapa pun. Aku tetap berangkat sekolah, menutupi memar di lenganku dengan jaket meski cuaca sedang panas, dan menyembunyikan rambutku yang berantakan di balik topi atau tudung jaket.
Beberapa hari kemudian, dengan hati yang masih berdarah, aku mencoba memaafkan. Aku masih SMP, aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Aku berusaha bersikap baik, mencuci baju lebih awal, membersihkan rumah tanpa diminta, dan memberikan senyum terbaikku seolah kejadian di kamar mandi itu hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. Aku ingin menjadi anak yang baik agar Mama tidak marah lagi.
Namun, luka di fisik mungkin bisa hilang, tapi luka di jiwa selalu punya caranya sendiri untuk berdenyut.
Puncaknya adalah saat aku diusir. Kata-kata kasar itu keluar lagi. "Pergi kamu dari sini! Dasar anak nggak berguna!"
Aku berdiri di depan pintu, memegang tas sekolahku. Aku punya pilihan untuk pergi, mencari perlindungan di tempat lain, atau menyerah pada keadaan. Tapi kaki ini seolah terpaku di lantai rumah ini. Aku tidak mau pergi. Bukan karena aku tidak punya harga diri, tapi karena di balik semua rasa sakit ini, aku masih merindukan sosok Mama yang dulu pernah memelukku sebelum amarah menguasai jiwanya.
---
Kini, aku sudah bukan anak kecil yang menangis di kamar mandi belakang lagi. Namun, setiap kali aku melewati ruangan itu, atau setiap kali aku memegang gunting, memori itu kembali datang dengan kekuatan yang sama.
Aku masih bertahan di rumah ini. Bertahan di tengah puing-puing kasih sayang yang sudah hancur. Terkadang aku duduk sendirian di kamar, menatap pantulan diriku di cermin, dan tanpa sadar air mata menetes. Aku teringat betapa sakitnya hari itu. Bukan hanya sakit karena kayu masakan atau benturan tembok, tapi sakit karena menyadari bahwa orang yang melahirkanku bisa bertanya, "Mau bagian mana lagi yang dipukul?" saat aku sedang meregang kesakitan.
Ingatan itu selalu membuatku menangis kejer. Sebuah luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh, yang terkubur jauh di dalam lubuk hati seorang anak yang hanya ingin dicintai seutuhnya, tanpa perlu merasa takut akan "lupa nyuci baju".
Aku masih di sini, Ma. Anak yang kau pukuli habis-habisan itu masih di sini, mencoba mencari sisa-sisa cinta di antara bekas luka yang kau tinggalkan. Karena bagiku, meski rumah ini adalah tempat paling menyakitkan, ia tetaplah satu-satunya tempat yang kusebut sebagai pulang.
---