[Hwaseong, Provinsi Gyeonggi, 1986]
Desa kecil itu seolah membeku dalam waktu. Ladang padi yang tak pernah berubah, jalan setapak dari tanah merah, dan pagar bambu yang selalu berderit bila ditiup angin sejak dua dekade lalu. Di sanalah Lee Jin-woo berjalan setiap pagi—tanpa suara, tanpa pula sapaan dari tetangga sekitar. Ia hanya memandang lurus ke depan sambil membawa ember besi tua menuju sumur di sisi timur.
Tetangga dan rekan kerjanya mengenalnya sebagai pemuda pendiam yang jarang bergaul. Dia tidak suka ikut kegiatan sosial, dan bahkan di rumah sendiri pun lebih sering menyendiri di dalam kamar. Tetapi karena ia cukup rajin walau dengan kepribadiannya yang agak tertutup, ia jelas terlihat normal di mata lingkunganya.
Pada Januari 1986, Jin-woo yang saat itu berusia 23 tahun telah resmi menyelesaikan wajib militernya sebagai pengemudi tank. Dia kembali ke kampung halamannya, lalu menapaki kehidupan sipil dengan bekerja di sebuah perusahaan suku cadang listrik. Dia juga sempat bekerja di bidang konstruksi sebagai operator crane, bahkan tanpa lisensi.
• • • • •
Lee Ji-seok, usia 71 tahun. Warga mengenalnya sebagai nenek yang tiap pagi memetik daun bawang lalu menjualnya ke pasar.
Pada 15 September 1986 pukul 3 siang, dia ditemukan tewas di lahan pertanian dekat perbukitan Hwaseong. Tubuhnya terbujur di tanah basah, sebagian tersembunyi di antara vegetasi rendah. Lehernya terikat dengan stoking miliknya sendiri. Tidak tampak luka luar lain, namun hasil autopsi menyatakan bahwa ia diperkosa lalu dicekik.
Tidak ada barang hilang, juga tidak ada petunjuk berarti di sekitarnya. Hanya udara lembab dan tanah becek yang tersisa.
Polisi datang dan mulai melakukan investigasi, tetapi suasana desa tetap seperti biasa bahkan walaupun berita sudah tersebar di koran lokal. Warga menganggapnya sebagai pembunuhan skala kecil—seorang lansia diperkosa, dicekik, lalu ditinggalkan begitu saja. Begitulah kemudian sampai akhirnya muncul korban berikutnya di Bulan Oktober.
Malam itu pukul 22.00, Lee Jin-woo keluar dari rumah dan berjalan-jalan sebentar untuk menikmati ketenangan desa. Udara dingin berembus di belakang lehernya, membuatnya segera merapatkan kerah jaket. Lampu-lampu rumah di kejauhan sudah redup, menyisakan desa yang nyaris sunyi kecuali suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing. Warga telah tertidur lelap sementara dirinya terjaga seorang diri.
Tiga hari kemudian, Jin-woo mendengar kabar seorang wanita muda ditemukan tewas di dekat kanal irigasi di Jinan-ri. Park Hyun-ji, 25 tahun. Kondisinya sangat memprihatinkan—tubuhnya terendam sebagian sementara pakaiannya masih melekat. Lehernya memperlihatkan tanda bekas cekikan kuat, tetapi tidak ada benda yang melilitinya. Autopsi mengungkapkan: ia diperkosa lalu dicekik dengan tangan kosong.
Jin-woo ingat dengan jelas, wanita itu adalah wanita yang tidak sengaja dilihatnya di hari ia berjalan malam. Ia pun juga tahu bahwa wanita itu masih hidup saat tiba di halte dan berjalan pulang menuju rumahnya. Sungguh ironis hidupnya direnggut dengan cara sekejam itu.
Setelah menatap kosong ke sembarang arah, pandangan Jin-woo kembali menatap koran di tangannya. Berita kali itu berhasil membuat gempar seisi desa, semua membicarakannya dengan takut-takut. Hanya dia saja satu-satunya yang bereaksi datar, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di daerah tempat tinggalnya. Dia tak kenal dengan wanita itu, begitu juga dengan wanita tua sebelumnya. Dia hanya tahu dan yakin akan satu hal, yakni keduanya sama-sama berjalan sendiri di malam yang sepi, ...di malam yang kebetulan ia lewati.
• • • • •
Kepolisian mulai diliputi ketegangan. Dari satu korban ke korban berikutnya, mereka menemukan pola yang hampir serupa—korban adalah wanita, diserang saat berjalan sendirian di malam hari, tubuhnya dibuang di tempat sepi seperti ladang, kanal, atau semak belukar. Pola itu jelas terbaca, tetapi bukannya menuntun ke arah titik terang, justru malah membuat mereka makin frustasi.
Tak ada saksi mata. Desa-desa di Hwaseong kala itu masih tenggelam dalam gelap setelah matahari terbenam, dengan jalanan kecil yang sedikit atau bahkan jarang dilalui orang. CCTV belum menjadi fasilitas umum, dan penerangan jalan pun hampir tak ada. Satu-satunya yang dapat menemani hanyalah suara serangga malam, angin dingin, dan sunyi yang seolah menelan semua teriakan minta tolong.
Sidik jari? Hampir mustahil. Pelaku seakan tahu cara menghapus jejak. Setiap kali polisi tiba di lokasi, yang tersisa hanyalah tubuh korban, tanah lembab yang dingin, dan kain pakaian yang tersibak seperti saksi bisu. Bahkan anjing pelacak pun hanya mampu mengendus jejak samar, lalu jejak tersebut hilang begitu saja di tengah ladang yang luas.
Seiring waktu berjalan, korban terus bertambah. Ketakutan menyebar. Tapi tak ada satu pun nama yang bisa dituduh.
• • • • •
Pada tahun 1988, desa Hwaseong kembali diguncang oleh temuan seorang gadis berusia 13 tahun. Kim Seo-Hee, ia tewas di rumahnya, dicekik dengan kaus yang bukan miliknya. Usianya jauh lebih muda dibanding korban-korban sebelumnya, dan detail di TKP tidak sepenuhnya cocok dengan pola pembunuhan yang dikenal warga sebagai “pembunuh berantai Hwaseong”. Meski begitu, kepolisian buru-buru memasukkan kasus ini ke dalam rangkaian yang sama, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka terus mengikuti jejak pelaku.
Namun, sejak awal sebenarnya ada keraguan. Luka pada tubuh korban, cara pelaku menutupinya, hingga lokasi penemuan mayat, berbeda dari pola sebelumnya. Beberapa penyidik bahkan berbisik: “Apakah ini benar ulah orang yang sama, atau ada seseorang yang mencoba meniru caranya?” Tapi suara-suara itu terkubur di bawah tekanan publik. Hwaseong sedang kacau; warga menuntut kepastian, media terus menyorot, dan kepolisian butuh jawaban cepat.
Maka satu orang ditangkap atas korban ke-8. Seorang pria lokal dengan bukti tipis yang dipaksakan; Kang Min-ho, 22 tahun. Ia diadili, bahkan dijebloskan ke penjara seumur hidup sebagai pelaku pembunuhan berantai Hwaseong. Sungguh miris, padahal dia tidak membunuh siapa pun, tapi kepolisian memaksanya mengaku agar dapat dijadikan sebagai kambing hitam demi menenangkan amarah publik.
• • • • •
Dua tahun setelah Kang Min-ho dijebloskan ke penjara, tubuh seorang gadis lain ditemukan tewas dengan pola yang sama: dicekik, kemudian tubuhnya ditinggalkan di tempat sunyi. Kim Na-yeon, 14 tahun. Dia adalah siswi SMP yang pada malam itu berjalan pulang sendirian setelah mengikuti kelas tambahan.
Hari sudah gelap ketika ia melintasi jalan kecil menuju rumahnya. Begitu sepi sampai-sampai yang terdengar hanyalah suara angin berembus di hamparan ladang. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, mulai merasa gelisah saat muncul firasat bahwa ada seseorang yang mengikutinya di belakang. Dia terus berjalan, sedikit pun tidak memberanikan diri untuk berbalik arah. Namun suara tapak kaki orang itu semakin jelas, seakan langkah besarnya berniat memperpendek jarak di antara mereka. Na-yeon mempercepat langkah kakinya, mulai berlari kecil. Saat dia hendak menambah kecepatan lagi, tiba-tiba sekelebat tangan muncul di belakangnya. Belum sempat ia berteriak, kesadarannya sudah hilang terlebih dulu. Begitulah ... akhirnya Na-yeon tidak sempat kembali ke rumah.
Setelah keluarganya melapor, polisi setempat segera melakukan pencarian keesokan harinya. Tubuh Na-yeon yang terlilit stoking pada lehernya ditemukan di lahan pertanian beserta tanda-tanda kekerasan seksual lainnya. Namun lagi-lagi ... tak ada saksi, juga tak ada jejak jelas yang tertinggal.
Beberapa bulan berikutnya, tepatnya pada bulan April 1991, Kwon Soon-ja jatuh sebagai korban kesepuluh. Dia adalah seorang nenek berusia 69 tahun yang tinggal seorang diri di tepi desa. Hari itu dia tidak kembali dari ladang, membuat tetangga sekitarnya merasa curiga. Pencarian pun akhirnya dilakukan. Di sebuah ladang pertanian, di antara tanaman muda yang baru tumbuh, tubuh Kwon Soon-ja tergeletak di atas tanah dengan leher terikat oleh celana dalam miliknya sendiri, sementara sebagian wajahnya tertutup oleh lumpur. Seperti korban-korban sebelumnya, tidak ada barang yang hilang. Tidak ada juga perlawanan yang terlihat mencolok selain tanah yang terganggu di sekitarnya.
Dari jatuhnya kedua korban ini, kepolisian mulai menyadari bahwa sebenarnya pelaku sesungguhnya belum pernah tertangkap. Kantor polisi pun akhirnya dipenuhi laporan warga yang ketakutan, sementara media lokal mulai memberitakan dugaan “pembunuh berantai” dengan headline yang menimbulkan kepanikan. Para detektif masih berkutat dengan metode tradisional—memeriksa lokasi, menanyai saksi, mencatat jejak—tanpa adanya bantuan teknologi modern seperti database DNA atau sistem identifikasi sidik jari terpusat. Rasa frustrasi merayap di antara mereka; Kang Min-ho, yang selama ini dijadikan tersangka utama, ternyata hanyalah kambing hitam. Dia dipaksa mendekam di penjara selama lebih dari tiga dekade (33 tahun) sementara sang pelaku bebas berkeliaran dan berbaur di antara keramaian.
• • • • •
Setelah itu ... pembunuhan berhenti. Tidak ada korban lagi setelah Kwon Soon-ja. Dalam kurun waktu lima tahun (1986-1991), sebanyak 10 wanita terbunuh. Pihak berwenang gagal mengidentifikasi pelaku karena terbatasnya teknologi dan serangkaian kesalahan yang terjadi selama penyelidikan.
Setahun kemudian, pada bulan April 1992, Lee Jin-woo yang saat itu berusia 28 tahun menikah. Dia telah menjadi seorang ayah dan memiliki seorang anak laki-laki. Namun, kehidupan rumah tangganya jauh dari kata harmonis. Jin-woo dikenal sebagai pemabuk dan kerap melakukan kekerasan fisik terhadap istri dan anaknya, membuat hubungan pernikahan mereka cepat memanas. Pada tahun 1993, pernikahan itu akhirnya berakhir dengan perceraian, meninggalkan bekas ketegangan yang mendalam dalam keluarganya.
Tidak lama setelah itu, ia kembali terjerumus ke tindakan kriminal. Pada Januari 1994, ia membunuh Kwon Min-jung, adik iparnya yang berusia 18 tahun dengan cara memberinya obat bius, kemudian memperkosanya, lalu mencekiknya sampai mati. Sama seperti ia memperlakukan korban-korban sebelumnya, ia meletakkan tubuh Min-jung di dalam kereta bayi anaknya, bermaksud menyembunyikannya. Lalu dengan hati-hati, ia mendorong keranjang tersebut ke luar rumah, menembus salju pagi yang dingin. Sejauh hampir 800 meter, ia mengendarai sepeda motor sambil menahan napas, sebelum akhirnya meninggalkan keranjang berisikan tubuh Min-jung yang telah kaku di sebuah tenda milik warga, jauh dari pandangan siapa pun.
Keluarganya segera membuat laporan ke polisi, menandai awal dari penyelidikan. Jin-woo, seperti biasa ikut membantu mencari korban, berpura-pura panik dan berinisiatif. Namun, perilaku ‘terlalu sempurna’ ini justru menimbulkan kecurigaan petugas. Polisi mulai mengamati setiap gerak-geriknya, memeriksa rumah dan jejak yang ia tinggalkan. Kombinasi bukti fisik, kesaksian keluarga, dan perilakunya yang mencurigakan akhirnya membuka jalan bagi penangkapannya beberapa hari kemudian.
Dengan ini, pengadilan pun menjatuhkan hukuman mati sebagai respon atas kekejaman dan terencana yang ditunjukkannya. Namun, dalam proses banding dan pertimbangan hukum, hukuman itu kemudian dikurangi menjadi penjara seumur hidup, dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah 20 tahun.
• • • • •
[Tahun 2019]
Selama lebih dari tiga dekade (33 tahun), pembunuhan berantai di Hwaseong dianggap sebagai luka sejarah yang tak pernah benar-benar sembuh. Pelakunya tidak pernah ditemukan, dan waktu terus berjalan. Kasus itu membeku di arsip, hanya diingat oleh penyintas dan para penyidik yang menua bersama penyesalan.
Pada tahun 2019, kemajuan teknologi forensik akhirnya dapat membuka pintu kebenaran. Sampel-sampel lama diuji ulang. Hasilnya telak; jejak DNA Lee Jin-woo ditemukan pada korban-korban pembunuhan di Hwaseong, termasuk beberapa yang sempat diragukan. Semua kepingan teka-teki yang bertahun-tahun terserak akhirnya menyatu; 10 korban Hwaseong, semuanya terhubung dengan satu nama.
Lee Jin-woo..
Menghadapi bukti tak terbantahkan itu, Jin-woo akhirnya mengaku telah melakukan 14 pembunuhan dan sekitar 30 pemerkosaan serta percobaan pemerkosaan selama periode itu, termasuk semua pembunuhan berantai Hwaseong. Pengakuannya mengejutkan, tapi juga membawa kelegaan bagi keluarga korban dan masyarakat yang telah lama mencari jawaban.
Meski begitu, hukum memiliki batas waktu—batasan yang membuat Lee Jin-woo tak bisa dihukum lagi atas kejahatan-kejahatan tersebut. Namun pengakuan dan bukti DNA itu tetap memberikan penutupan: misteri yang menakutkan akhirnya terpecahkan, dan nama Lee Jin-woo tercatat sebagai sosok yang menandai salah satu bab paling kelam dalam sejarah kriminal Korea Selatan. Kasus ini juga membuka mata tentang pentingnya teknologi forensik dalam menyingkap kejahatan yang tampak mustahil dipecahkan, sekaligus mengembalikan keadilan bagi korban yang lama terabai.
“Aku tak punya alasan. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya
(membunuh).”
“Kalau saja aku tidak tertangkap, aku akan terus melakukannya.”
• • • • •
Nama: Lee Choon Jae
Status: Tertangkap
Umur saat pembunuhan pertamanya: 23 tahun
Umur saat tertangkap: 56 tahun
Jumlah korban: 17
Kasus Hwaseong (1986–1991) adalah salah satu kasus pembunuhan berantai paling mengerikan dan terkenal di Korea Selatan. Sebanyak 10 perempuan diperkosa dan dibunuh, dengan pola yang sangat khas:
– Lokasi terpencil.
– Waktu kejadian malam hari.
– Leher korban diikat menggunakan pakaian korban sendiri (biasanya stoking atau blus).
– Pelaku meninggalkan sangat sedikit jejak, bahkan nyaris tidak.
– Pembunuhan terjadi secara konsisten dalam jangka waktu bertahun-tahun.
**Korban dipilih secara acak dengan memperhitungkan adanya kesempatan. Tidak ada benang merah yang terhubung pada semua korban. Dia juga bukan membunuh karena berhak menghakimi. Dia hanya ingin tahu ... bagaimana rasanya membunuh.
**Ini yang membuat kasus Lee Choon‑jae ‘unik’ dan ‘menyeramkan’. Dari semua laporan dan analisis psikologis yang tersedia, pola pembunuhannya tidak bermotif dendam, balas dendam, ataupun keuntungan materi. Dia tidak menargetkan korban karena masalah pribadi. Korban-korbannya sebagian besar perempuan yang kebetulan berada sendirian di malam hari, dan ia memanfaatkan situasi itu. Artinya, pembunuhan-pembunuhan itu bersifat oportunistik, bukan terencana dengan motif khusus seperti balas dendam atau keuntungan finansial.
Psikolog yang mempelajari kasus ini menekankan bahwa Lee Choon-jae memiliki sifat psikopat: ia mengeksekusi kejahatan karena dorongan internal—kebutuhan untuk mengontrol, menyakiti, dan memuaskan keinginannya sendiri—bukan karena alasan eksternal. Pola ini membuatnya sulit diprediksi dan menimbulkan ketakutan luas di masyarakat, karena siapa pun bisa menjadi korban selama berada di tempat dan waktu yang tepat (atau salah, dari sudut pandang Lee Choon-jae).
• • • • •