Apartemen di pusat Moskwa itu kini terasa seperti museum kenangan yang sunyi. Polina duduk di lantai, bersandar pada pintu lemari es yang tidak lagi ditempeli daftar belanjaan halal oleh Ruslan. Musim dingin kali ini terasa lebih menusuk, seolah salju tidak hanya turun di jalanan, tapi juga membeku di dalam rongga dadanya.
Ia baru saja selesai mengemasi sisa-sisa barangnya. Polina memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih kecil; ia tidak kuat terus-menerus melihat bayangan pria beruang itu di setiap sudut ruangan. Saat ia menarik sebuah kotak kardus tua dari kolong tempat tidur—tempat yang dulu menjadi wilayah "garis imajiner" Ruslan—jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan terbungkus kain beludru hijau.
Jantung Polina berdegup kencang. Ia menarik benda itu keluar. Itu adalah sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran khas Kaukasus yang sangat rumit. Di atasnya, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Ruslan yang kaku: “Dlya tebya, Polina. Esli ty eto naydesh...” (Untukmu, Polina. Jika kau menemukan ini...)
Dengan tangan gemetar, Polina membuka kotak itu. Di dalamnya bukan perhiasan mahal atau kunci emas. Isinya adalah sebuah buku saku kecil berjudul “Puty k schast'yu” (Jalan menuju Kebahagiaan) dan sebuah tasbih kayu zaitun yang harumnya sangat menenangkan.
Polina tertawa perih. "Bahkan saat pergi pun, kau masih mencoba mengislamkanku, Beruang Gunung yang keras kepala," bisiknya dengan air mata yang mulai menggenang.
Namun, di balik buku itu, ada sebuah surat tambahan. Surat yang ditulis Ruslan di malam terakhirnya di Moskwa, saat Polina sedang pura-pura tidur sambil terisak di balik selimut.
---
"Polina, moya dusha (jiwaku)...
Kau selalu bertanya, kenapa aku tidak bisa tinggal. Kau pikir aku tidak mencintaimu? Ochen' zhal' (sangat disayangkan) jika kau berpikir begitu. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai napasku sendiri. Tapi setiap kali aku menatap matamu yang biru seperti langit musim panas, aku merasa takut. Aku takut karena aku tahu, jika aku tinggal, aku akan menjadikanmu tuhan baruku. Aku akan berhenti bersujud pada Penciptaku karena aku terlalu sibuk memujamu.
Aku pergi bukan karena aku benci perbedaan kita, Polina. Aku pergi karena aku ingin kita bertemu lagi di tempat yang tidak ada air mata, tidak ada perbedaan, dan tidak ada perpisahan. Aku meninggalkan buku ini bukan untuk memaksamu. Aku meninggalkannya agar kau tahu, bahwa di duniaku yang kaku ini, ada ruang yang sangat luas untukmu. Aku akan menunggumu di setiap sujudku, di setiap napasku, hingga maut menjemput kita berdua."
---
Polina meremas surat itu. Amarahnya memuncak. "Lalu apa gunanya, Ruslan?! Apa gunanya menunggu di surga jika di dunia ini aku mati kesepian?!" teriaknya pada dinding apartemen yang bisu. Ia melempar kotak itu ke lantai. Tasbih kayu itu terlempar, butirannya beradu dengan lantai kayu, menimbulkan suara klak-klak-klak yang ritmis.
Ia merasa dipermainkan. Ia muak dengan "ketaatan" Ruslan yang merampas kebahagiaan mereka. Polina meraih botol vodka di atas meja, ingin menenggelamkan rasa perih ini seperti orang Moskwa pada umumnya. Namun, saat botol itu menyentuh bibirnya, ia teringat wajah Ruslan yang kecewa setiap kali melihatnya minum.
"Polina, itu tidak baik untuk jiwamu," suara Ruslan terngiang begitu nyata.
Polina menurunkan botol itu. Ia jatuh terduduk di lantai, memunguti butiran tasbih yang berceceran. Ia mulai membaca buku kecil yang ditinggalkan Ruslan. Awalnya hanya karena penasaran, lalu karena rindu, hingga akhirnya... karena ia mulai menemukan jawaban dari kegelisahan yang selama ini menghantuinya.
Minggu-minggu berganti menjadi bulan. Polina tidak lagi pergi ke klub malam. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca, mencari tahu, dan berdiskusi dengan seorang kawan mualaf di sebuah komunitas di pusat kota. Ia mulai memahami kenapa Ruslan begitu kaku pada prinsipnya; bukan karena Ruslan jahat, tapi karena Ruslan sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kesenangan duniawi.
Ia mulai merindukan suara azan yang dulu sering diputarkan Ruslan melalui ponselnya. Ia mulai merindukan ketenangan saat Ruslan sedang salat di pojok ruangan.
Suatu sore, Polina berdiri di depan cermin. Ia mengenakan syal panjang pemberian Ruslan, namun kali ini ia tidak melilitkannya di leher. Ia menyampirkannya di atas kepalanya, menutup rambut pirangnya yang indah. Ia menatap bayangannya sendiri. Ia tidak melihat gadis Moskwa yang berantakan lagi. Ia melihat seorang wanita yang sedang menemukan kedamaian yang ia cari selama ini.
Ia mengambil ponselnya, menimbang-nimbang untuk menelepon Ruslan di Dagestan. Namun ia urungkan. Ia ingin ini menjadi perjalanannya sendiri, bukan karena paksaan cinta pada seorang pria, tapi karena cinta pada kebenaran yang baru saja ia temukan.
Ia melangkah keluar apartemen, menuju sebuah bangunan dengan kubah hijau di pinggiran Moskwa. Salju turun dengan lembut, menghiasi pundaknya. Hatinya yang dulu penuh amarah dan luka, kini terasa ringan. Ia teringat kalimat terakhir di surat Ruslan: Aku akan menunggumu.
"Aku datang, Ruslan," bisiknya. "Tapi bukan untukmu. Aku datang untuk-Nya."
Di dalam masjid yang tenang itu, di depan seorang imam tua yang bijak, Polina menarik napas panjang. Ia melepaskan semua masa lalunya, semua egoismenya, dan semua keraguannya. Ia teringat betapa komikalnya hubungannya dengan Ruslan, betapa lucunya mereka bertengkar soal domba dan piza, dan betapa sedihnya saat mereka harus berpisah. Namun semua itu terasa sebagai jalan setapak yang memang harus ia lalui untuk sampai di titik ini.
Dengan suara yang tenang namun mantap, Polina mengikuti ucapan sang imam, mengucapkan kalimat yang akan mengubah seluruh garis hidupnya selamanya. Air mata mengalir di pipinya, air mata kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa hangat menjalar di dadanya, mencairkan seluruh salju yang membeku di sana selama berbulan-bulan.
Dan tepat setelah kalimat syahadat itu selesai diucapkan, di kejauhan, di pegunungan Dagestan yang gersang, Ruslan yang sedang berdoa setelah salat asar tiba-tiba merasakan dadanya bergetar hebat, sebuah senyum merekah di wajahnya tanpa ia tahu alasannya, seolah-olah angin pegunungan baru saja membisikkan kabar paling indah kepadanya bahwa di sebuah masjid di Moskwa, kini Polina mualaf.
---