Dimitri adalah definisi dari manusia yang tidak memiliki tombol rasa takut, atau mungkin lebih tepatnya, ia kekurangan beberapa sirkuit di otaknya. Di saat pemuda lain seusianya di pinggiran kota sibuk mendaftar aplikasi kencan atau memodifikasi motor, Dimitri justru punya hobi yang jauh lebih "antik": bermain Jelangkung. Baginya, memanggil arwah adalah bentuk hiburan murah meriah yang lebih seru daripada menonton film horor di bioskop.
Masalahnya, Dimitri tidak sendirian. Ia adalah ketua dari "The Begundal’s", sebuah kelompok pertemanan yang terdiri dari empat orang dengan tingkat kecerdasan kolektif yang sering kali dipertanyakan. Ada Boni, yang tubuhnya besar tapi nyalinya seukuran butiran debu; Agung, yang merasa dirinya indigo padahal hanya sering mengalami low sugar; dan Kipli, yang selalu membawa kamera ponsel karena terobsesi ingin menjadi YouTuber supranatural tapi selalu lupa mengisi daya baterai.
Malam itu, cuaca di pinggiran kota sangat tidak bersahabat. Angin menderu, membawa aroma tanah basah dan bau sampah dari pembuangan dekat sungai. "The Begundal’s" sedang berdiri di depan sebuah rumah tua yang terbengkalai. Penduduk setempat menyebutnya "Rumah Tanpa Bayangan". Rumah itu adalah bangunan kolonial dengan pilar-pilar yang sudah ditumbuhi lumut dan atap yang sebagian besar sudah runtuh. Jendela-jendelanya yang pecah tampak seperti mata hitam yang mengawasi mereka.
"Dit, beneran nih? Bau rumahnya kayak bau ketek genderuwo, sumpah," bisik Boni sambil memegangi ujung kaos Dimitri.
"Payah lo, Bon! Kita ini The Begundal’s. Begundal itu nggak boleh takut sama setan. Setan itu justru takut sama kita karena kita belum bayar utang di warung kopi!" sahut Dimitri sambil mengeluarkan sebuah boneka tradisional dari tas ranselnya.
Boneka itu dibuat dari batok kelapa bekas kuah soto dan kayu jemuran yang dicuri Dimitri dari halaman belakang tetangganya. Ia sudah mendandaninya dengan kain kafan sisa dan sebuah pensil 2B yang sudah tumpul di bagian bawahnya.
"Oke, semuanya duduk melingkar. Kipli, nyalain kamera!" perintah Dimitri.
"Aduh, Dit, baterai gue 2%. Bentar lagi mati," keluh Kipli.
"Halah! Ya udah, pakai senter korek api aja! Agung, lo fokus. Kalau ada hawa-hawa aneh, kasih tahu kita," kata Dimitri serius.
Agung segera memejamkan mata, kepalanya manggut-manggut sok tahu. "Gue ngerasa ada energi... energinya kayak... kayak rasa lapar, Dit. Kayaknya setannya belum makan."
"Itu perut lo yang bunyi, Gung! Tadi sore kan lo cuma makan kerupuk!" bentak Boni kesal.
Setelah keributan kecil itu mereda, ritual dimulai. Mereka berada di ruang tamu rumah tua itu. Lantainya penuh kotoran kelelawar dan debu setebal satu inci. Cahaya bulan masuk melalui lubang di atap, memberikan nuansa biru yang pucat dan mencekam. Dimitri memegang boneka itu, sementara yang lain memegang tangan satu sama lain, membentuk lingkaran.
Dimitri mulai merapal mantra legendaris itu dengan suara yang dibuat-buat berat:
"Jalangkung, Jalangkung, di sini ada pesta... datang tak dijemput, pulang tak diantar... kalau kamu datang, kasih tanda... kalau kamu lapar, jangan makan teman saya yang gemuk ini..."
"Woi! Kok lo bawa-bawa fisik gue dalam matra?!" protes Boni.
"Diem! Ini biar setannya terhibur!" bisik Dimitri.
Keheningan menyergap. Satu menit berlalu. Hanya suara angin yang menusuk celah jendela. Tiba-tiba, pensil di bawah boneka itu mulai bergerak. Perlahan, lalu semakin kencang. Boneka itu seolah hidup, berputar-putar di atas kertas karton yang sudah mereka siapkan.
"Dit! Dit! Gerak, Dit!" Kipli berteriak histeris, ponselnya jatuh ke lantai.
"Tanya! Tanya namanya siapa!" perintah Agung dengan mata melotot.
Dimitri berdehem. "Ehem... wahai arwah penunggu rumah tua, siapa nama kamu?"
Boneka itu bergerak dengan liar di atas kertas. Huruf demi huruf ditunjuk oleh pensil tumpul itu. Dimitri mengejanya dengan suara gemetar: "B... O... B... Y..."
"Boby?" tanya Dimitri heran. "Setannya namanya Boby? Kok kayak nama tetangga sebelah yang suka maling jemuran?"
Tiba-tiba, boneka itu bergerak lagi, menulis pesan berikutnya: "S... A... L... A... H... S... A... M... B... U... N... G..."
The Begundal’s saling lirik. "Salah sambung? Emangnya ini operator telepon?" tanya Boni bingung.
Tiba-tiba, suasana berubah drastis. Suhu ruangan turun drastis hingga napas mereka mengeluarkan uap putih. Dari arah tangga yang sudah rapuh, terdengar suara langkah kaki yang berat. Krak... krak... krak...
"Dit... itu Boby?" tanya Agung dengan suara yang nyaris hilang.
Cahaya senter dari korek api Dimitri tiba-tiba mati. Kegelapan total menyelimuti mereka. Di tengah kegelapan, terdengar suara tawa melengking yang sangat membagongkan—bukan tawa kuntilanak yang anggun, tapi tawa yang terdengar seperti suara knalpot motor yang rusak.
"HIHIHIHIHI... NGAPAIN... LO... PADA... DI... SINI..."
Suara itu terdengar tepat di telinga Kipli. Kipli langsung pingsan di tempat dengan posisi estetik.
"LARI!!!" teriak Dimitri.
Namun, bumerang dimulai di sini. Dimitri ingin melepaskan boneka Jalangkung itu, tapi anehnya, boneka itu seolah menempel di tangannya. Kayu jemuran itu menjepit jari-jarinya seperti lem super. Saat Dimitri lari, boneka itu ikut "berlari" di sampingnya, kepalanya yang dari batok kelapa itu terus-menerus memukuli paha Dimitri.
"Toloooong! Bonekanya nggak mau lepas!" teriak Dimitri sambil lari zig-zag menabrak meja kayu yang sudah lapuk.
Boni yang bertubuh besar ternyata punya kecepatan lari yang melampaui atlet nasional jika sedang ketakutan. Ia sudah sampai di pintu depan, tapi pintunya macet. "Woi! Pintunya dikunci dari luar sama hantu!" teriak Boni sambil menggedor-gedor kayu jati tua itu.
Agung, yang tadi sok indigo, malah lari berputar-putar di ruang tamu sambil berteriak, "Maafin gue, Mbah! Gue tadi cuma ikut-ikutan! Yang punya ide si Dimitri! Ambil aja dia, jangan gue! Gue belum kawin!"
Tiba-tiba, sesosok bayangan putih besar muncul dari arah dapur. Tingginya hampir menyentuh langit-langit. Wajahnya tidak terlihat, hanya ada lubang hitam di tempat mata seharusnya berada. Sosok itu membawa sesuatu yang terlihat seperti sapu lidi raksasa.
"SIAPA... YANG... NYURI... JEMURAN... GUE...?" suara itu menggelegar, membuat debu-debu di langit-langit berjatuhan.
Dimitri mematung. Ia menatap boneka di tangannya, lalu menatap hantu di depannya. "Mbah... ini jemuran Mbah?"
"ITU... KAYU... JEMURAN... TERAKHIR... GUE... SEBELUM... GUE... MATI... KESETRUM..." hantu itu mulai mendekat dengan gerakan patah-patah yang horor namun sedikit komikal.
"Mampus lo, Dit! Lo manggil arwah pemilik jemuran!" teriak Boni yang masih sibuk bergulat dengan pintu.
Horor berganti menjadi komedi satir ketika hantu itu tiba-tiba berhenti mengejar. Ia malah menunjuk Kipli yang pingsan. "ITU... PONSELNYA... MASIH... NYALA...?"
The Begundal’s bingung. "Iya, Mbah. Kenapa?" tanya Dimitri polos.
"GUE... PENGEN... LIHAT... TIKTOK... BOSEN... DI... SINI... NGGAK... ADA... WIFI..."
Momen itu adalah puncak dari ritual yang paling membagongkan sepanjang sejarah mistis dunia. Hantu penunggu rumah tua yang seharusnya menyeramkan itu ternyata adalah arwah seorang pria yang dulunya mati karena mencoba memasang antena TV di tengah hujan badai agar bisa nonton pertandingan bola, dan sekarang ia kesepian karena tidak ada hiburan.
Dimitri yang tangannya masih menempel pada boneka, akhirnya duduk di lantai bersama hantu itu. Boni dan Agung perlahan mendekat dengan wajah pucat. Kipli terbangun dari pingsannya, melihat teman-temannya sedang duduk melingkar dengan sosok putih raksasa yang sedang serius memperhatikan layar ponsel Kipli yang tinggal 1%.
"Mbah, ini namanya video 'Jedag-Jedug', Mbah," jelas Dimitri dengan suara gemetar, mencoba bersikap ramah agar tidak dipukul pakai sapu lidi hantu.
"BAGUS... JUGA... TAPI... KENAPA... MATI...?" tanya hantu itu saat ponsel Kipli benar-benar mati total.
Keheningan kembali. Suasana horor kembali menyergap saat hantu itu menatap mereka dengan lubang hitam matanya. "KALAU... PONSELNYA... MATI... KALIAN... JADI... PENGGANTI... TV... GUE..."
"LARI LAGI!!!" Dimitri berteriak. Kali ini, pintu depan terbuka dengan sendirinya, seolah-olah hantu itu sengaja memberi mereka harapan sebelum mulai mengejar lagi.
The Begundal’s lari tunggang langgang keluar dari rumah tua itu. Dimitri masih membawa boneka "jemuran" itu yang menempel di tangannya. Mereka lari sejauh dua kilometer tanpa henti sampai mencapai warung kopi yang masih buka di pinggiran jalan raya.
"Mbak! Teh manis! Empat! Cepat!" teriak Dimitri sambil membanting tubuhnya ke kursi bambu.
Pemilik warung, seorang wanita tua, menatap Dimitri dengan heran. "Mas, itu tangannya kenapa megangin kayu jemuran pakai kain putih?"
Dimitri melihat tangannya. Anehnya, boneka itu sekarang bisa dilepas dengan sangat mudah. Kain putihnya ternyata hanya serbet warung yang ia curi minggu lalu, dan batok kelapanya sudah pecah.
"Ini... ini hobi baru, Mbak. Seni kriya," jawab Dimitri asal-asalan sambil mengatur napas.
Boni, Agung, dan Kipli hanya bisa terduduk lemas. Kipli menatap ponselnya yang mati. "Gue nggak dapat rekaman apa-apa, tapi gue rasa gue baru aja lihat setan paling gabut se-jagat raya."
"Dimitri," panggil Agung serius.
"Apa?"
"Besok-besok kalau mau main Jalangkung, bahannya beli di toko bangunan aja. Jangan nyuri jemuran rumah angker. Gue nggak mau mati cuma gara-gara hantu yang pengen nonton TikTok."
Dimitri hanya bisa nyengir kuda. Namun, ritual itu benar-benar menjadi bumerang. Sejak malam itu, setiap kali Dimitri tidur, ia selalu mendengar suara tawa knalpot rusak di telinganya dan suara bisikan lirih: *"DIMITRI... PAKET... DATA... GUE... HABIS..."*
The Begundal’s akhirnya memutuskan untuk pensiun dari dunia supranatural. Mereka mengubah nama kelompok mereka menjadi "The Tobat’s". Tapi tentu saja, itu tidak bertahan lama, karena minggu depannya, Dimitri menemukan sebuah pamflet tentang "Rumah Sakit Tua yang Berhantu karena Suster Ngesotnya Suka Main Mobile Legends".
Dan ritual membagongkan berikutnya pun sudah menanti di depan mata.