Enam bulan telah berlalu sejak deru mesin kereta membawa Ruslan pergi dari hiruk-pikuk Moskwa, meninggalkan sebuah apartemen yang kini pasti terasa terlalu luas bagi Polina. Di Dagestan, waktu seolah berjalan lebih lambat, mengikuti ritme pegunungan yang kokoh dan abadi. Di sini, udara berbau debu, keringat, dan kebebasan yang getir.
Sore itu, di sebuah sasana tua dengan lantai kayu yang berderit, Ruslan baru saja menyelesaikan latihan chidaoba dan gulat tradisional. Tubuhnya basah kuyup. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, meluncur melewati leher, dan membanjiri dada bidangnya yang naik-turun karena napas yang memburu. Otot-otot lengannya yang keras tampak menonjol di bawah lampu kuning sasana yang temaram.
Rekan-rekan latihannya sudah pulang, menyisakan keheningan yang hanya diisi oleh suara jangkrik di luar. Ruslan menyambar handuk kusam, menyeka wajahnya, lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas matras tipis di sudut ruangan. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kayu.
Dari dalam tas olahraganya yang lusuh, ia mengeluarkan selembar amplop berwarna biru pucat yang tepiannya sudah sedikit terkikis—tanda bahwa surat itu telah dibuka dan dilipat berkali-kali. Surat itu beraroma parfum melati yang samar, aroma yang seketika menyeret jiwanya kembali ke sebuah apartemen berantakan di Moskwa.
Ruslan membukanya dengan jari-jari besar yang gemetar.
---
"Dorogoy Ruslan (Ruslan tersayang),"
Tulisannya berantakan, persis seperti pemiliknya. Ruslan bisa membayangkan Polina menulis ini sambil menggigit ujung pensilnya, dengan remah-remah biskuit di atas meja.
"Zdes' v Moskve vypal pervyy sneg (Di sini di Moskwa, salju pertama telah turun). Kau tahu apa yang kulakukan? Aku secara refleks membuat dua cangkir teh, lalu aku sadar bahwa tidak ada pria beruang galak yang akan memarahiku karena menaruh terlalu banyak gula. Apartemen ini sangat sepi, Ruslan. Tidak ada aroma domba jinten yang menyengat, dan sejujurnya... aku merindukan bau itu. Sangat merindukannya."
Ruslan tersenyum kecil. Ia bisa mendengar suara serak Polina di telinganya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding sasana, membiarkan dadanya yang telanjang terkena angin sore yang masuk melalui celah jendela.
"Ponyatno, chto my raznyye (Jelas bahwa kita berbeda). Aku baru saja pulang dari gereja kecil di tepi sungai itu. Aku menyalakan lilin untukmu. Aku tahu kau mungkin sedang bersujud di masjidmu yang indah di sana, dan aku bertanya-tanya pada Tuhan... apakah Dia marah jika aku menyelipkan namamu di antara doa-doa Kristiani-ku? Aku harap tidak. Karena bagiku, cinta yang kau berikan adalah bentuk mukjizat yang paling nyata yang pernah kualami."
Ruslan memejamkan mata sejenak. "Ya tozhe tebya lyublyu, Polina (Aku juga mencintaimu, Polina)," bisiknya pada sunyi. Kalimat yang tak pernah berani ia ucapkan dengan lantang saat mereka masih di bawah atap yang sama.
Surat itu berlanjut:
"Mne ne khvatayet tvoikh glaz (Aku merindu matamu). Matamu yang seperti teh hangat. Kadang aku duduk di balkon kita—maksudku, balkonku sekarang—dan aku menggambar sketsa pegunungan Dagestan meski aku belum pernah ke sana. Aku menggambarmu sedang berdiri di puncak tertinggi, menatap ke arah Moskwa. Apakah kau melakukannya, Ruslan? Apakah kau sesekali menatap ke utara?"
Ruslan menatap ke arah jendela. Di luar, puncak-puncak Kaukasus mulai tertutup kabut. Ia memang sering berdiri di sana, di tempat yang tinggi, merasa begitu dekat dengan Tuhan namun merasa begitu jauh dari wanita yang dicintainya.
"Mama sprashivayet o tebe (Mama menanyakanmu). Aku bilang padanya bahwa kau sedang mengejar surga di tempat lain. Dia hanya tersenyum sedih dan berkata, 'Cinta yang paling besar adalah cinta yang tahu kapan harus melepaskan demi kebahagiaan yang lebih abadi.' Aku benci kalimat itu, Ruslan. Aku ingin egois. Aku ingin memintamu kembali, menyuruhmu membuang prinsipmu, dan menikahiku di bawah lonceng gereja. Tapi aku tahu, jika kau melakukan itu, kau bukan lagi Ruslan yang kucintai."
Ruslan meremas tepian surat itu. Dadanya terasa sesak, lebih sesak daripada saat ia dikunci dalam teknik gulat lawan paling tangguh sekalipun.
"Ty moya samaya krasivaya pechal' (Kau adalah kesedihan tercantikku). Aku tidak akan memintamu kembali. Aku hanya ingin kau tahu bahwa di sebuah sudut di Moskwa, ada seorang gadis pirang yang selalu bangga pernah menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih telah mencuci piring-piring kotor jiwaku, Tuan Beruang."
"S lyubov'yu, tvoya Polina (Dengan cinta, Polinamu)."
---
Ruslan melipat surat itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah kertas itu adalah permata yang rapuh. Ia menempelkan surat itu ke dadanya yang masih lembap oleh keringat. Detak jantungnya berdegup kencang menghantam kertas biru itu.
Ia merebahkan kepalanya kembali ke matras. Langit di luar sasana kini sudah berubah menjadi ungu gelap. Sesaat lagi, suara azan magrib akan berkumandang dari menara masjid di desa bawah. Ia akan bangun, membasuh tubuhnya dengan air wudu yang dingin, dan bersujud.
Ia tahu, di dalam sujudnya nanti, ia akan mendoakan Polina. Ia tidak bisa memberikan hatinya sepenuhnya kepada wanita itu di dunia ini, karena sebagian besar hatinya sudah ia wakafkan untuk keyakinannya. Namun, ia juga tidak bisa membohongi Tuhan bahwa separuh jiwanya tertinggal di sebuah apartemen di Moskwa.
"Proshchay, moya milaya (Selamat tinggal, manisku)," gumam Ruslan.
Ia bangkit, memakai kaosnya, dan melangkah keluar sasana. Angin gunung yang tajam menerpa wajahnya. Ruslan berjalan turun menuju masjid dengan langkah yang mantap, meski hatinya tertinggal selangkah di belakang.
Mereka adalah dua garis sejajar yang sempat bersinggungan dalam sebuah anomali waktu. Indah, lucu, menggemaskan, namun tetap harus kembali pada garis masing-masing. Ruslan menerima takdirnya sebagai matahari Dagestan yang tak akan pernah bisa menyatu dengan salju Moskwa tanpa ada yang harus mencair dan menghilang.
Dan dalam kepedihan itu, Ruslan menemukan sebuah keindahan yang murni: bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki, terkadang mencintai adalah cara paling tulus untuk melepaskan seseorang menuju Tuhannya masing-masing.
---