Jika hidup adalah sebuah drama Korea, maka Ruslan Magomedov adalah pemeran utama pria yang terlalu kaku untuk menjadi nyata. Ia bertubuh tegap seperti beruang pegunungan Kaukasus, dengan janggut tipis yang dirapikan secara obsesif, dan prinsip hidup yang lebih lurus daripada jalan tol menuju Makhachkala. Sementara itu, Polina Volkov adalah pahlawan wanita yang "berantakan". Ia adalah gadis pirang Moskwa yang bekerja sebagai ilustrator lepas, hobi makan khachapuri di tengah malam, dan memiliki apartemen yang lebih mirip gudang kapal pecah.
Pertemuan mereka adalah sebuah bencana estetika.
Karena sebuah kesalahan administrasi di aplikasi penyewaan apartemen, mereka berdua berakhir menyewa unit yang sama di pusat kota Moskwa. Ruslan, yang baru saja pindah untuk bekerja sebagai insinyur sipil, bersikeras bahwa ia sudah membayar setahun penuh. Polina, yang merupakan keponakan dari pemilik asli apartemen yang kabur ke Bali, mengklaim tempat itu adalah hak warisnya.
"Dengar, Tuan Beruang Gunung," Polina berdiri di atas sofa, mencoba mengimbangi tinggi badan Ruslan yang menjulang. "Aku tidak peduli kau punya otot sebesar semangka. Ini rumahku. Aku lahir di sini, aku tumbuh di sini, dan debu di bawah karpet ini adalah debu keluargaku!"
Ruslan menatap Polina dengan tatapan datar yang bisa membekukan air mendidih. "Pertama, panggil aku Ruslan. Kedua, aku tidak peduli dengan debu keluargamu. Aku butuh tempat yang bersih, tenang, dan dekat dengan masjid untuk salat. Dan apartemen ini—" ia menunjuk ke arah tumpukan kotak piza di sudut ruangan, "—adalah penghinaan terhadap sanitasi."
Karena tidak ada yang mau mengalah dan uang sewa sudah ludes, mereka akhirnya sepakat untuk tinggal bersama dengan sebuah garis imajiner di tengah ruangan. Ruslan di sisi kanan yang sangat rapi, Polina di sisi kiri yang penuh dengan cat tumpah dan bungkus camilan.
Kekomedian dimulai dari urusan perut.
Sebagai pria Dagestan yang taat, Ruslan hanya makan daging halal. Setiap pagi, ia akan memasak dengan bumbu-bumbu rempah yang tajam, membuat Polina terbangun sambil bersin-bersin.
"Ruslan! Kau sedang memasak atau sedang melakukan ritual pemanggilan arwah?!" teriak Polina sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.
"Ini domba bumbu jinten," jawab Ruslan tanpa menoleh. "Bagus untuk otakmu yang sepertinya kekurangan nutrisi karena terlalu banyak makan ramen instan."
"Hei! Ramen adalah makanan para jenius yang sedang dikejar tenggat waktu!"
Meski sering bertengkar, ada magnet yang aneh di antara mereka. Ruslan yang sangat disiplin mulai terbiasa mencuci piring-piring kotor Polina sambil mengomel, sementara Polina mulai belajar bahwa sebelum pukul lima pagi, ia tidak boleh menghidupkan musik keras-keras karena Ruslan sedang melakukan salat subuh.
Suatu malam, Polina pulang dalam keadaan mabuk ringan karena merayakan proyeknya yang tembus. Ia hampir jatuh di depan pintu sebelum lengan kokoh Ruslan menangkapnya.
"Lepaskan aku, Tuan Beruang!" racau Polina. "Kau tahu? Kau itu sangat tampan kalau sedang tidak marah. Kenapa kau harus jadi orang Dagestan yang sangat serius? Kenapa kau tidak jadi orang Moskwa saja yang suka pesta?"
Ruslan menghela napas, mengangkat Polina seperti mengangkat karung beras, dan mendudukkannya di kursi. "Karena hidup bukan cuma soal pesta, Polina. Di gunung kami, kehormatan dan ketaatan adalah segalanya."
"Membosankan..." bisik Polina, lalu ia tertawa kecil sambil mencubit pipi Ruslan. "Tapi matamu... matamu itu seperti teh hangat di tengah musim dingin. Aku suka."
Wajah Ruslan yang biasanya dingin mendadak berubah menjadi merah padam seperti bit Rusia. Ia berdeham keras, mencoba menjaga martabatnya sebagai pria perkasa dari Kaukasus, namun jantungnya berkhianat. Jantung itu berdegup kencang, seirama dengan tawa renyah Polina.
Bulan-bulan berlalu, dan apartemen itu berubah dari medan perang menjadi tempat persembunyian yang manis. Mereka mulai melakukan hal-hal klise ala drakor: belanja bulanan bersama (di mana Ruslan dengan teliti memeriksa label halal dan Polina menyelundupkan cokelat ke troli), menonton film bersama (di mana Polina menangis dan Ruslan berpura-pura mengantuk padahal diam-diam ikut terharu), hingga momen di mana Ruslan memperbaiki keran air yang rusak sambil membiarkan Polina menggambar sketsa punggungnya.
"Kau tahu, Ruslan," kata Polina suatu hari saat mereka duduk di balkon, memandang salju yang mulai turun di Moskwa. "Aku mulai berpikir bahwa mungkin kita adalah pasangan yang hebat. Kau yang mengatur hidupku, aku yang mewarnai hidupmu."
Ruslan terdiam. Ia memandang gadis pirang di sampingnya. Polina tampak cantik dengan syal rajut merahnya, hidungnya yang sedikit merah karena kuli, dan mata biru yang selalu penuh semangat. Ia ingin memegang tangan itu. Ia ingin bilang bahwa ia mencintai cara Polina tertawa.
Namun, di kepalanya, ia mendengar suara ibunya di Dagestan. Ia mendengar suara azan yang memanggilnya kembali ke akarnya. Ia membayangkan wajah ayahnya yang keras, yang memimpikan menantu yang bisa mengaji, yang menutup aurat, yang berbagi sujud yang sama dengannya.
"Polina," suara Ruslan rendah dan berat. "Kau tahu itu tidak mungkin."
"Kenapa? Karena aku tidak bisa masak domba selezat ibumu?" Polina mencoba bercanda, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Bukan. Karena jalan yang kita tempuh menuju Tuhan berbeda arahnya. Di duniaku, pernikahan bukan hanya soal aku dan kau. Ini soal bagaimana aku membawa keluargaku menuju surga yang aku yakini. Dan aku tidak bisa membayangkan surga itu tanpa kau di dalamnya, tapi aku juga tidak bisa memintamu melepaskan jati dirimu hanya untukku."
Tawa Polina menghilang. Ia menunduk, menatap salju yang menumpuk di pegangan balkon. "Aku suka gereja kecil di pinggir sungai itu, Ruslan. Aku suka lilin-lilinnya, aku suka doa-doa yang diajarkan nenekku. Aku tidak bisa membuangnya begitu saja, seperti kau yang tidak bisa membuang sajadahmu."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan menyedihkan. Dua orang yang tinggal di bawah satu atap, berbagi piring yang sama, berbagi tawa yang sama, namun dipisahkan oleh dinding yang tak terlihat namun setinggi langit.
Puncaknya adalah saat keluarga Ruslan datang berkunjung tanpa pemberitahuan. Ruslan panik. Ia menyuruh Polina bersembunyi di kamar, namun ibunya yang memiliki indra penciuman setajam elang menemukan ikat rambut Polina di sofa.
"Siapa dia, Ruslan?" tanya ibunya dalam bahasa Avar yang tegas.
Ruslan tidak bisa berbohong. Ia memperkenalkan Polina. Ibunya menatap Polina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Polina mencoba tersenyum, menyapa dengan bahasa Rusia yang paling sopan, namun tatapan dingin ibu Ruslan mengatakan segalanya.
Malam itu, setelah keluarganya pergi, Ruslan dan Polina duduk di ruang tamu. Tidak ada garis imajiner lagi, tapi mereka merasa jarak antara mereka sudah ribuan kilometer.
"Kau harus pergi, ya?" tanya Polina. Suaranya kecil, nyaris hilang tertelan angin malam.
Ruslan mengangguk. "Ayahku sakit. Mereka ingin aku pulang ke Dagestan. Dan mereka... mereka sudah menjodohkanku dengan putri teman ayahku."
Polina tertawa, tapi itu adalah suara paling menyedihkan yang pernah didengar Ruslan. "Benar-benar seperti drama, ya? Harusnya ada musik latar yang sedih sekarang."
Ruslan mendekat, akhirnya ia memberanikan diri menggenggam tangan Polina. Tangan itu terasa kecil dan dingin. "Maafkan aku, Polina. Aku adalah pengecut yang mencintaimu, tapi tidak cukup berani untuk menghancurkan hati orang tuaku."
"Kau bukan pengecut, Ruslan," Polina mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. "Kau hanya orang yang taat. Dan aku mencintaimu justru karena ketaatanmu itu. Ironis, bukan?"
Hari kepindahan Ruslan tiba. Apartemen itu kembali terasa luas dan hampa. Ruslan sudah mengemas semua barangnya. Kotak-kotak rempahnya sudah tidak ada lagi di dapur. Sajadahnya sudah dilipat rapi di dalam koper.
Polina berdiri di pintu, mencoba tetap terlihat tegar. "Ingat, Tuan Beruang Gunung. Jangan biarkan istrimu nanti makan terlalu banyak piza berminyak. Dan pastikan kau mencuci piringmu sendiri."
Ruslan tersenyum pahit. Ia melangkah maju dan mencium kening Polina—sebuah ciuman yang singkat, suci, namun penuh dengan beban perpisahan. "Jaga dirimu, Gadis Moskwa. Tetaplah melukis dunia dengan warna-warnamu yang berantakan."
Ruslan berjalan keluar, menarik kopernya melintasi koridor. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu jika ia menoleh sekali saja, ia mungkin akan menjatuhkan kopernya dan memohon pada Polina untuk ikut dengannya, peduli setan dengan apa kata dunia.
Di dalam apartemen, Polina duduk di lantai, tepat di garis imajiner yang dulu mereka buat. Ia menemukan sebuah bungkusan kecil yang ditinggalkan Ruslan di atas meja. Isinya adalah sebuah sketsa buatan Ruslan—seorang pria berjanggut dan seorang gadis pirang yang duduk di atas bulan, jauh di atas bumi, jauh dari segala perbedaan agama dan negara.
Di bawah sketsa itu tertulis: *"Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita akan menyembah Tuhan yang sama, di bawah langit yang sama, tanpa perlu ada yang terluka."*
Polina memeluk sketsa itu dan menangis sesenggukan. Apartemen yang dulu penuh dengan pertengkaran lucu tentang domba dan piza, kini hanya menyisakan aroma jinten yang samar dan keheningan salju Moskwa yang membeku.
Mereka tidak bersatu. Tidak ada pesta pernikahan megah di akhir episode. Hanya ada dua orang di dua tempat yang berbeda—satu bersujud di pegunungan Dagestan yang gersang, satu lagi menyalakan lilin di katedral Moskwa yang megah—keduanya membisikkan nama yang sama dalam doa yang berbeda, mengakui bahwa cinta terkadang harus mengalah pada keyakinan yang lebih besar dari sekadar perasaan manusia.
Dan itulah akhir dari drama mereka. Sebuah komedi yang berakhir dengan tragedi yang sunyi, meninggalkan rasa manis yang perih di hati siapa pun yang pernah percaya bahwa cinta bisa menaklukkan segalanya.
---