Di dalam kedai kopi tua bernama "Waktu yang Terhenti", ada sebuah sudut yang selalu kosong—di situlah ditempatkan sebuah telepon meja antik dengan warna kayu coklat tua dan bagian besinya yang sudah berkarat tipis. Pemilik kedai, seorang wanita bernama Indah, selalu bilang bahwa telepon itu tidak bisa digunakan lagi, tapi ia tidak tega memindahkannya dari tempatnya.
Seorang pelanggan baru bernama Bimo yang sering datang setiap sore untuk menyelesaikan naskah ceritanya menjadi penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang menarik dari telepon itu, seperti ada suara lembut yang menyapa setiap kali ia mendekatinya. Suatu hari, ketika kedai hampir tutup dan tidak ada pelanggan lain, Bimo memutuskan untuk mengangkat dengarannya.
Tanpa diduga, telepon itu berbunyi dengan nada dering klasik yang keras. Ia terkejut tapi tetap memegangnya ke telinganya. Suara seorang wanita tua terdengar dari ujung lain: "Halo... apakah ini nomor kedai kopi yang baru saja dibuka? Aku ingin memesan secangkir kopi hitam dan kue bolu..."
Bimo bingung. Nomor telepon kedai memang baru saja dibuat beberapa bulan yang lalu, tapi suara wanita itu seolah-olah berbicara dari masa lalu. Ia mencoba menjawab: "Iya bu, ini kedai kopi Waktu yang Terhenti. Tapi... kapan Anda memesan?"
"Hari ini adalah hari pembukaan kedai, kan? Tahun 1987, tanggal 15 September. Aku adalah ibu dari pemilik kedai itu, nama aku Siti..."
Bimo langsung melihat ke dinding di mana ada foto lama kedai yang dibuka tahun 1987. Di foto itu, ada seorang wanita muda yang memang sangat mirip dengan Indah, berdiri bersama seorang wanita tua yang harusnya adalah ibu nya. Ia tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata: "Bu Siti, saya bukan orang dari kedai tahun 1987. Saya sedang bicara dengan Anda dari tahun 2024..."
Wanita itu terdiam sejenak sebelum tertawa lembut: "Wah, sungguh luar biasa. Aku selalu merasa bahwa telepon ini bisa menghubungkan waktu. Aku ingin memberi tahu anakku, Indah, bahwa dia harus tetap kuat meskipun jalannya sulit. Kedai ini akan menjadi tempat yang penuh dengan cerita dan kebahagiaan untuk banyak orang..."
Bimo segera mencari Indah yang sedang di belakang kasir. Ia memberitahu semua yang terjadi, dan Indah dengan terpana mengambil telepon dari tangannya. "Ibu?" ujarnya dengan suara gemetar.
Suara wanita tua kembali terdengar: "Anakku, aku tahu kamu sedang mengalami kesulitan dengan kedai ini. Tapi percayalah, kelak banyak orang akan datang dan menemukan kebahagiaan di sini. Jangan pernah menyerah pada impianmu..."
Setelah itu, telepon terdengar bunyi klik dan kemudian mati total. Indah menangis sambil memegang telepon itu—ia memang sedang mengalami kesulitan karena kedai jarang dikunjungi dan hampir harus ditutup. Namun setelah berbicara dengan ibunya yang sudah meninggal lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, ia merasa memiliki kekuatan baru untuk terus melanjutkannya.
Bimo pun membantu Indah merenovasi kedai sedikit demi sedikit—menambahkan dekorasi ala tahun 80-an yang sesuai dengan cerita dari ibu Indah, dan mulai menulis cerita tentang telepon antik itu di media sosial. Lambat laun, kedai mulai ramai dikunjungi oleh orang-orang yang penasaran dengan cerita teleponnya. Beberapa orang bahkan mengaku bisa mengangkat telepon dan berbicara dengan orang tersayang dari masa lalu.
Namun satu hari, ketika Indah sedang membersihkan telepon itu, ia tiba-tiba berhenti bekerja sama sekali. Tidak ada lagi suara dering atau percakapan dari masa lalu. Bimo merasa sedih, tapi Indah hanya tersenyum lembut: "Sudah cukup. Ibuku sudah memberiku yang terbaik—kepercayaan untuk melanjutkan impiannya."
Kedai kopi "Waktu yang Terhenti" akhirnya menjadi salah satu tempat paling terkenal di kota. Setiap orang yang datang selalu ingin melihat telepon antik itu, meskipun mereka tidak bisa menggunakannya lagi. Indah selalu bercerita tentang bagaimana telepon itu pernah menghubungkan dia dengan ibunya dari masa lalu, dan bagaimana itu mengajarkannya bahwa cinta dan doa tidak mengenal batasan waktu.
Beberapa tahun kemudian, ketika Indah sedang membersihkan lantai kedai, ia menemukan sebuah surat tua di balik telepon itu. Surat itu ditulis oleh ibu nya pada hari pembukaan kedai tahun 1987: "Untuk anakku Indah, jika suatu hari kamu merasa lelah dan putus asa, ingatlah bahwa aku selalu ada di sini—bahkan jika hanya melalui sebuah telepon yang menghubungkan waktu."