(*Fiksi, karya author Chani*)
Pernahkah kamu melihat dunia seseorang yang runtuh? Atau, pernahkah kamu mengalami cobaan terberat dalam hidupmu?
Begitulah yang dirasakan oleh Olivia, semenjak berusia 9 tahun. Walau sempat prematur saat bayi, dia dilahirkan sempurna. Setidaknya, hingga keluarga Olivia mulai berpisah dengan satu sama lain dan menjalani kehidupan yang tak lazim.
Olivia paling dekat dengan kakek dan neneknya. Namun, 2 tahun masa pandemi covid 19 pun telah merenggut nyawa kedua orang kesayangan Olivia itu.
"Cie, bagaimana rencanamu untuk masa depan?" tanya Sabrina, adik perempuan Olivia.
"Jika Mama terus begini, mau tidak mau aku harus hidup mandiri dengan kondisi apapun," jawab Olivia.
Olivia dan keluarganya adalah keturunan Tionghoa yang lahir dan bertumbuh besar di kota Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan, kakek dan nenek buyutnya merantau ke Indonesia secara langsung dari Tiongkok, tepatnya pada zaman orang tua almarhum kakek atau nenek paternal dan maternal Olivia.
Ciri khusus Chindo yang berdomisili di kota Surabaya dan sekitarnya adalah sedikit banyak berlogat Jawa yang kental, serta kurang menguasai bahasa Mandarin dan budaya kuno nenek moyang.
Pendidikan dini orang Surabaya berbeda dengan di kota-kota lain seperti Jakarta, Singkawang, atau Medan. Satu-satunya kesamaan Chindo di Indonesia sebagai kaum minoritas adalah minat untuk sukses yang tinggi, walau tergantung cara setiap orang. Itu bukan berarti Chindo selalu menguasai perekonomian ataupun berperan sebagai penyedia lowongan pekerjaan terbanyak di Indonesia.
Kemampuan bekerja dengan mengelola sarana dan prasarana sudah dikenal manusia semenjak purbakala hingga era terkini.
Olivia dan Sabrina hanya dua bersaudari, namun berasal dari ayah yang berbeda. Saat ibu kandung Olivia masih berstatus istri ayah Olivia, wanita itu melahirkan seorang anak perempuan lagi dari pria lain.
Kondisi awal rumah tangga sang ibu mengoyakkan kepribadian Olivia semenjak baru beranjak remaja. Sayangnya, Olivia memilih untuk diam dan bermimpi semua ketidaknormalan dalam hidupnya akan segera berakhir.
Tentunya, ketidaknormalan itu bukannya berlalu dan malahan berkembang menjadi ketidaknyamanan selama bertahun-tahun. Olivia yang kurang dianggap oleh keluarga terdekat yang tinggal di bawah atap yang sama terus mengalami masalah dalam lingkup sosialnya.
Akhirnya, perasaan terluka dan kecemasan yang ditimbun seorang diri itu terlanjur berakar menjadi trauma pada usia Olivia yang telah mencapai 31 tahun.
Bagaimana rasanya diharuskan membuang harapan masa kecil dengan kasih sayang orang tua? Bagaimana rasanya tidak mendapatkan pengakuan dari orang tua, saudara, teman sekolah, guru, dan berbagai kalangan lain? Bagaimana rasanya menjadi dewasa di bawah naungan orang lain karena lemah?
Siapa yang menggolongkan derajat dan kemampuan manusia? Bukankah sudah jelas bahwa hanya orang sukses yang akan dihormati dan didengarkan, bahkan dipuja saat berbicara?
Rendah hati dan rendah diri. Keduanya jauh lebih familiar bagi Olivia dibandingkan jati diri yang lain. Perubahan nasib yang mendadak hanya ada dalam novel. Dalam dunia nyata, untuk mencapai sesuatu dibutuhkan lebih dari sekedar usaha.
Apa bedanya usaha yang baik dan yang manipulatif?
"Mama!" seru Olivia kesal.
Di hadapan sebuah mesin slot di salah satu tempat termewah di Makau seorang wanita berusia akhir 50 tahunan tengah bermain sepanjang hari seperti kesetanan.
Eden, ibunda Olivia dan Sabrina kini merasa keuntungan poin dan pelayanan eksklusif dari sebuah casino adalah kebahagiaan alaminya.
"Berisik! Kamu pulang saja. Seharusnya, kamu tidak usah ikut Mama ke sini," sentak Ibu Eden.
"Terus siapa yang menemani Mama dari sore ini sampai besok subuh? Apa Mama mau di sini terus tanpa makan, mandi, dan tidur?" peringat Olivia dengan sepatutnya.
"Diamlah. Mama bisa mengatur waktu. Nanti pasti pulang kok," dalih Ibu Eden.
Tidak mampu mengatasi sikap keras sang ibu seorang diri, Olivia mulai menghubungi Ibu Elisa, adik perempuan Ibu Eden.
"Ik Elisa. Mama sekarang ada di casino lagi dan tidak mau pulang. Aku harus bagaimana?" panggil Olivia.
"Ya ampun. Kamu bersujud saja di depan Mama. Jangan bersikap keras supaya Mama mau mendengarkan. Kalau tidak, coba hubungi Sabrina saja," ucap Ibu Elisa.
Ibu Eden dan Ibu Elisa tidak hanya dua bersaudari, melainkan berenam. Kakak pertama hingga ketiga adalah pria, diikuti oleh kakak perempuan sulung bernama Ibu Agatha, Ibu Eden dan terakhir Ibu Elisa.
Dari sanak saudara sebanyak itu, hanya Ibu Elisa seorang yang boleh dikatakan terdekat dengan Ibu Eden.
Bagi orang tua muda yang baru menikah dan punya anak seperti Sabrina, secara otomatis anak adalah prioritas utama. Menikah berarti memulai hidup baru bersama keluarga yang baru dibentuk.
Keluarga adalah fondasi yang dibentuk dalam kebersamaan dan keharmonisan. Dalam komunitas yang maju, keluarga tidak hanya berarti orang yang tinggal bersama, melainkan orang-orang yang saling menyesuaikan perbedaan dan dapat menerima kondisi satu sama lain.
Tanpa menjaga dan menerapkan pengertian mendasar, hubungan manusia tidak akan pernah bertahan lama.
"Ya sudah. Aku mau pulang saja," desah Olivia lelah, walau masih kesulitan mengabaikan kondisi ibunya.
Saat itu, jam menunjukkan pukul 11 malam WIB dan jam 12 malam di Makau.
Ada kalanya kebersamaan dengan orang lain justru gagal memberikan ketenangan bagi Olivia. Entah sejak kapan gadis itu merasa damai dan bebas saat menghabiskan waktu dengan beraktivitas seorang diri.
Bagaimana seharusnya manusia menafsirkan tentang uang? Apa menginginkan uang yang berlebih berarti berwatak serakah dan keduniawian?
Banyak atau sedikitnya uang yang dimiliki bisa diimbangi dengan pola hidup yang benar. Dengan sedikit uang, kita tidak mati melainkan lebih berhemat.
Untuk apa merasa malu di hadapan para pebisnis hebat dan kumpulan keluarga sempurna?
Salahkah Olivia yang tidak menikah karena kondisi pribadinya? Tentunya itu hanya pilihan.
Pilihan yang terbaik dan benar bagi setiap orang adalah pilihan yang telah dipertimbangkan secara matang berdasarkan pengalaman, bukan karena emosi sesaat.
Pilihan yang tepat membawa ketentraman mulai masa kini atau setidaknya di masa depan. Sementara, pilihan yang kurang cocok membawa berbagai penyesalan.
Orang yang menyesali pilihannya cenderung mengingat masa lalu dan bermimpi dapat mengulang waktu.
Semakin terikat pada masa lalu, semakin menderita nasib seseorang. Namun, sesuatu yang belum terjadi seharusnya bisa dicegah.
"Ya Tuhan. Tolong Mama, tolong lindungi keluarga kami. Jauhkan keluarga kami dari malapetaka dan pencobaan yang besar," doa Olivia setiap malam, walau seringkali mengalami insomnia.
Selain harapan di tahun baru, ada yang namanya resolusi. Itu artinya memilah di antara apa yang sudah dilakukan dengan benar dan yang dirasa merugikan. Lalu, mulai memaksimalkan yang benar dan perlahan meniadakan yang negatif.
Bila prioritas hidup seseorang terganggu, dirinya tidak akan mudah merasa puas ataupun bahagia.
- Selesai -