Kata orang, hargai selagi masih ada. Setelah seseorang itu pergi, kamu baru akan merasa kehilangan.
Aku, Maheswari. Awalnya aku menyepelekan kalimat itu. Bagiku selagi aku masih muda, aku akan menghabiskan waktuku untuk bersenang-senang bersama teman-temanku, tidak peduli dengan ibuku yang masih segar bugar. Apalagi seperti bulan ini, bulan Ramadhan.
Buka bersama sudah menjadi tradisi di negara Indonesia tercintaku ini. Aku juga sudah membuat jadwal untuk 25 hari ke depan untuk berbuka puasa bersama teman-temanku dari zaman SD sampai kuliah.
[Sebentar lagi aku otw, kalian sudah rapi?]
Satu pesan itu aku kirimkan ke grup WA. Tak lama kemudian balasan muncul.
[Sudah dong. Restoran juga sudah dibooking Mika, kita tinggal nunggu kamu keluar.]
Aku menarik sudut bibirku. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan teman-teman SD-ku, jadi ini adalah kesempatan bagus untuk bersilaturahmi. Aku pun segera merapikan pakaianku dan juga make up-ku. Namun, suasana hatiku yang tadi berbunga tiba-tiba menjadi kesal setengah mati karena ibuku.
"Kamu mau ke mana, Nes? Jangan bilang kamu mau buka bersama teman-temanmu. Ini puasa pertama, loh. Kamu tidak mau buka sama Ibu?" ucap ibuku yang tiba-tiba saja masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu.
Aku memasang muka masam. Tanpa melihat ke arahnya aku menjawab, "Iya, Bu. Lagian aku tidak pernah ketemu mereka. Selagi aku ada waktu dan momen yang tepat buat kumpul. Buka sama Ibu masih bisa hari-hari selanjutnya, kan?"
"Nes, Ibu semakin tua, loh. Dari tahun ke tahun kamu selalu saja buka puasa di luar sama teman-temanmu. Ibu juga ingin buka berdua denganmu yang kini sudah dewasa," sahutnya.
Aku menarik napas panjang lalu bangkit dari kursi rias. "Alah, Bu. Jangan lebaylah. Kita masih banyak waktu, loh. Teman-temanku sebentar lagi ada yang nikah terus punya anak, jadi nanti tidak bakal bisa kumpul. Ini kami sudah pada kerja saja susah, loh, mencari waktu yang tepat. Ibu jangan bikin suasana hatiku kesal."
Ibuku mendekatiku sambil mengelus rambutku yang tergerai. "Anak Ibu sudah tumbuh besar dan sekarang sudah punya dunianya sendiri. Tapi, Nak, kamu juga harus ingat, saat kamu bertambah usia satu tahun, usia Ibu juga berkurang satu tahun. Jadi kamu mau menyia-nyiakan kesempatan ini? Kita buka bersama, ya. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
"Alah, Bu. Jangan dramatis. Lihat Ibu masih segar begini, masih bisa berdiri. Ibu seperti tidak pernah muda saja," tolakku dengan alasan yang sama setiap tahun sambil mengambil tas selempangku.
Tak ingin berdebat lebih jauh, aku langsung menarik tangan ibuku dan mencium punggung tangannya. "Aku pergi sekarang, Bu. Sudah telat. Besok aku akan buka di rumah."
Aku pun langsung keluar dari kamarku, meninggalkan ibuku yang masih belum selesai dengan kata-katanya untuk memintaku berbuka di rumah. Saat melewati dapur, langkahku sempat terhenti sejenak.
Di atas meja terlihat beberapa bahan makanan yang baru saja dibeli. Ada ikan segar, sayuran, dan bumbu dapur yang tertata rapi. Aku tahu betul itu semua pasti untuk memasak makanan kesukaanku.
Sejenak aku hanya memandangnya tanpa berkata apa pun. Namun, pada akhirnya aku tetap mengabaikannya dan memilih melangkah pergi keluar rumah.
Kejadian seperti ini berlangsung terus menerus. Tanpa terasa, puasa sudah berlalu tujuh belas hari. Setiap hari hampir sama. Aku pulang larut malam setelah berbuka bersama teman-teman. Kadang di restoran, kadang di kafe, bahkan kadang hanya sekadar nongkrong sambil tertawa dan bercerita tentang masa lalu.
Sesekali Ibu masih menungguku di ruang tamu. Lampu rumah selalu menyala. Di meja makan kadang masih ada makanan yang tertutup tudung saji. Namun, aku hanya menyapanya sekadarnya sebelum masuk ke kamar.
"Ibu sudah makan?" tanyaku suatu malam sambil membuka sepatu.
Ibu tersenyum kecil. "Sudah, Nak. Ibu makan sedikit tadi."
Aku hanya mengangguk lalu masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Saat itu aku tidak pernah benar-benar memikirkan apakah Ibu benar-benar sudah makan atau hanya menungguku pulang.
Ramadhan terus berjalan. Hari demi hari berlalu dengan cepat sampai akhirnya malam kedua puluh satu tiba.
Malam itu aku pulang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa suasana rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu ruang tamu memang masih menyala, tetapi tidak ada suara televisi seperti biasanya.
"Ibu?" panggilku pelan sambil melangkah masuk.
Tidak ada jawaban.
Aku mengerutkan kening lalu berjalan menuju dapur. Meja makan masih dipenuhi beberapa piring. Ada sayur bening, ikan goreng, dan sambal kesukaanku. Makanan itu tampak masih utuh.
"Ibu?" panggilku lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Namun tetap tidak ada jawaban. Perasaan aneh mulai merayap di dadaku. Aku berjalan menuju kamar Ibu dan mengetuk pintunya.
Tok. Tok.
"Ibu?"
Sunyi.
Aku membuka pintu perlahan.
Di sana, aku melihat Ibu terbaring di tempat tidur dengan posisi menyamping. Awalnya aku mengira Ibu hanya tertidur.
"Ibu," panggilku sambil mendekat.
Aku menyentuh bahunya pelan. "Ibu, bangun. Aku sudah pulang."
Namun tubuh itu tidak bergerak. Aku menggoyangkan bahunya sedikit lebih keras.
"Ibu..."
Tanganku mulai gemetar saat merasakan kulitnya yang terasa dingin.
"Ibu..."
Panik mulai memenuhi dadaku. Aku mencoba membangunkannya lagi, tetapi tubuh itu tetap diam. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat dunia seolah runtuh di sekelilingku.
"Ibu...?"
Suaraku pecah. Tubuhku lemas saat menyadari bahwa Ibu tidak akan pernah membuka matanya lagi. Tak lama kemudian rumahku dipenuhi tangisan. Para tetangga berdatangan. Seseorang memanggil ambulans, sementara yang lain membaca doa dengan suara pelan.
Semua suara itu terdengar jauh di telingaku. Aku hanya duduk di samping tubuh Ibu yang sudah terbujur kaku, menggenggam tangannya yang dingin. Tangisanku pecah tanpa bisa ditahan.
"Ibu... bangun, Bu," bisikku dengan suara parau. "Aku sudah pulang."
Namun tidak ada jawaban. Barulah saat itu kalimat yang dulu sering kudengar terasa menampar keras hatiku. Hargai selagi masih ada. Setelah seseorang itu pergi, kamu baru akan merasa kehilangan.
Setelah pemakaman selesai, rumahku menjadi begitu sepi. Dadaku terasa sesak. Ingatanku tiba-tiba dipenuhi potongan-potongan kejadian selama Ramadhan ini. Ibu yang berdiri di depan pintu kamarku, Ibu yang memintaku berbuka bersama dan Ibu yang berkata bahwa usianya semakin berkurang.
Namun aku...?
Aku selalu pergi.
Air mataku jatuh tanpa henti. Tanpa sadar aku membuka pintu kulkas. Di sana aku melihat beberapa wadah makanan yang tersusun rapi—masakan Ibu.
Rupanya setiap hari Ibu tetap memasak untukku. Karena hari ini aku tidak berpuasa, aku membuka satu per satu wadah itu lalu memakannya. Setiap suapan terasa pahit di tenggorokanku.
"Ibu... aku belum sempat buka puasa sama Ibu..."
Suaraku pecah di tengah tangis. Aku menunduk sambil menggenggam dadaku yang terasa nyeri.
"Katanya besok..."
Kata-kataku terhenti di tenggorokan. Besok yang selalu kujanjikan ternyata tidak pernah benar-benar ada.
Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan penuh berkah justru menjadi saksi betapa aku telah menyia-nyiakan waktu bersama orang yang paling menyayangiku.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku sujud lama sekali. Air mataku membasahi sajadah.
"Ya Sang Pencipta... andai saja waktu bisa kembali..."
Namun, aku tahu satu hal yang paling menyakitkan. Waktu tidak pernah kembali dan penyesalan selalu datang paling akhir.
Sejak hari itu aku akhirnya mengerti sesuatu yang dulu selalu diucapkan Ibu. Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika kita kehilangan seseorang saat kita belum siap kehilangannya. Dan kebahagiaan yang selama ini kita cari ternyata tidak pernah pergi jauh, ia selalu ada di rumah, menunggu kita pulang.
Cerita ini di dedikasikan untuk GC Rumah menulis
Tema 3 keluarga