Lampu neon di langit-langit apartemen sempit itu berkedip-kedip, seolah ikut lelah dengan kehidupan di Negara A. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mengelupas, tergeletak sebungkus burger dingin dari gerai makanan cepat saji di persimpangan jalan.
Itu adalah menu berbuka puasa Ferdy Sanjaya untuk kesekian kalinya. Di luar jendela, langit senja yang kelabu mulai menggugurkan salju tipis, pemandangan yang sangat kontras dengan ingatan Ferdy tentang aroma kolak pisang atau gorengan hangat yang dijajakan di pinggir jalanan Jakarta.
Sudah empat tahun. Empat kali Ramadan ia lalui dalam kesunyian. Sebagai seorang akuntan di sebuah firma logistik, Ferdy awalnya mengira gelar sarjana luar negeri akan membuatnya menjadi tumpuan keluarga yang kokoh.
Namun, realita di tanah perantauan ternyata jauh lebih tajam dari ekspektasi.
Gaji yang ia terima setiap bulan seperti air yang hanya mampir sebentar di tangannya; mengalir deras untuk membayar sewa kamar yang mencekik, asuransi, biaya hidup yang mahal, dan tentu saja, mengirimkan sebagian besar sisanya ke kampung halaman.
Sejak ayahnya meninggal saat ia masih di bangku kuliah, pundak Ferdy adalah satu-satunya tiang penyangga bagi ibu dan kedua adiknya yang masih sekolah. Baginya, setiap sen adalah doa yang ia kirimkan agar adik-adiknya tak perlu merasakan pahitnya menahan lapar seperti dirinya saat ini.
Keheningan malam itu pecah ketika sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintunya. Bukan tagihan listrik seperti biasanya, melainkan sebuah surat dengan prangko Indonesia yang sudah agak lecek. Ferdy mengernyit. Di zaman di mana pesan singkat bisa terkirim dalam hitungan detik, surat fisik terasa seperti benda purbakala yang asing.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka amplop itu.
"Ibu merindukanmu Ferdy."
Kalimat pertama yang cukup membuat dadanya sesak.
“Ferdy, anakku... Ibu tidak minta uang tambahan bulan ini. Ibu hanya ingin kamu pulang lebaran ini. Ibu ingin melihat wajahmu langsung, bukan cuma lewat layar HP yang sering putus sinyalnya. Ibu rindu suara langkah kakimu di teras rumah kita...”
Ferdy mengusap tulisan tangan ibunya yang mulai miring dan gemetar, tanda bahwa usia tak lagi bisa berbohong. Ia segera meraih ponselnya, menekan nomor ibunya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Bu, kenapa kirim surat? Kan bisa lewat WhatsApp?" suara Ferdy serak, menahan sesuatu yang menyesak di dada.
Di seberang sana, suara lembut ibunya terdengar, "Ibu ingin kamu memegang doa Ibu, Fer. Tulisan tangan itu punya ruh. Kalau lewat HP, Ibu takut doanya terhapus kalau memorinya penuh atau HP-nya rusak. Kalau kertas ini kamu simpan, doanya akan selalu ada di sana."
Ferdy terdiam. Ia menatap saldo tabungannya di aplikasi perbankan, angka yang bahkan tak cukup untuk membeli ban pesawat, apalagi tiket pulang-pergi. "Bu... proyek di kantor lagi padat-padatnya. Ferdy mungkin belum bisa pulang tahun ini. Maafkan Ferdy, ya?"
Kebohongan itu meluncur begitu saja, lebih dingin daripada salju di luar sana. Ibunya hanya menghela napas panjang, sebuah kepasrahan yang lebih menyakitkan daripada omelan bagi Ferdy. "Iya, tidak apa-apa. Jaga kesehatanmu di sana, Nak."
Esok harinya, Ferdy berangkat kerja dengan perasaan yang berantakan. Fokusnya terbelah antara rindu yang menggebu dan angka-angka di layar komputer. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Tuan Miller, atasannya yang selama ini dikenal licin.
Selama beberapa minggu terakhir, Ferdy sebenarnya sudah mencium aroma busuk; aliran dana gelap yang masuk ke rekening pribadi yang disamarkan. Sebagai akuntan yang jujur, Ferdy sudah mulai menyusun folder cadangan berisi bukti-bukti itu, namun ia belum sempat melapor.
Namun, Miller bergerak lebih cepat. Ia menggunakan otoritasnya untuk mengakses akun sistem Ferdy, meninggalkan jejak digital seolah-olah Ferdy-lah yang melakukan penggelapan dana tersebut.
Sore itu, di tengah rasa haus dan lapar yang mendera karena berpuasa, Ferdy dipanggil ke ruang rapat. Wajah-wajah dingin jajaran direksi menyambutnya.
"Kami kecewa, Ferdy. Kamu kami percaya mengelola keuangan, tapi kamu malah mengkhianati kami," ucap salah satu direktur sambil menyodorkan bukti-bukti manipulatif.
"Saya tidak melakukannya! Ini fitnah! Saya bisa buktikan kalau-"
"Cukup," Miller memotong dengan nada sinis. "Kami tahu kamu punya beban keluarga besar di Indonesia. Motivasi finansialmu sangat jelas. Kami tidak akan melaporkan ini ke polisi demi reputasi firma, tapi kamu dipecat saat ini juga. Tanpa pesangon."
Ferdy terpaku. Langit seolah runtuh menimpanya. Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang staf HRD yang selama ini tahu integritas Ferdy secara diam-diam menyelipkan sebuah amplop saat Ferdy mengemasi barang-barangnya.
"Ini gaji terakhirmu dan sedikit sisa jatah cuti yang diuangkan. Hanya ini yang bisa aku bantu sebelum sistem dikunci oleh Miller," bisik rekan kerjanya itu.
Di dalam bus menuju apartemennya, Ferdy menghitung uang itu. Jumlahnya ganjil, namun saat ia mengecek harga tiket pesawat sekali jalan ke Jakarta di aplikasi, matanya membelalak.
Jumlahnya pas.
Tidak kurang satu sen pun. Uang itu cukup untuk membawanya pulang, meski itu berarti ia tidak akan punya uang sepeser pun untuk kembali ke Negara A.
"Ya Allah," gumam Ferdy dengan air mata yang akhirnya tumpah. "Engkau menutup pintu pekerjaanku, tapi Engkau membukakan pintu untuk menemui ibuku."
Perjalanan pulang itu terasa seperti mimpi. Ferdy mendarat di Jakarta tepat dua hari sebelum Idulfitri. Dengan sisa uang yang hanya cukup untuk ongkos bus ke kampung halaman, ia sampai di depan pagar rumahnya saat gema takbir mulai berkumandang dari masjid desa.
Ibu Ferdy yang sedang menyapu teras langsung menjatuhkan sapunya. Tangis haru pecah. Tidak ada pertanyaan tentang pekerjaan, tidak ada pertanyaan tentang harta. Baginya, kehadiran Ferdy adalah mukjizat Ramadan yang paling nyata.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Ferdy tetap menyimpan kecemasan. Ia adalah seorang pengangguran sekarang. Bagaimana dengan biaya sekolah adik-adiknya bulan depan? Ia terus berdoa di setiap sujudnya, memohon jalan keluar atas kejujuran yang sempat dirampas darinya.
Hari kedua Lebaran, saat rumah masih ramai dengan aroma opor ayam, ponsel Ferdy bergetar. Sebuah nomor internasional muncul. Itu adalah direktur pusat firma tempatnya bekerja, atasan dari Tuan Miller.
"Ferdy, saya minta maaf secara pribadi," suara berat di telepon itu terdengar penuh penyesalan.
"Audit internal yang dilakukan oleh pihak ketiga setelah pemecatanmu menemukan kejanggalan pada laporan Miller. Dia tidak cukup rapi menyembunyikan jejak aslinya. Miller sudah kami serahkan ke pihak berwajib pagi ini."
Ferdy menarik napas panjang, merasa sebuah beban raksasa baru saja diangkat dari dadanya.
“Kami ingin kamu kembali, Ferdy. Kami akan memulihkan namamu dan memberikan kompensasi atas kerugianmu,” lanjut sang Direktur.
Ferdy menatap ibunya yang sedang mengajar adiknya membaca di dalam rumah. Ia menatap hijaunya sawah di depan rumahnya. “Terima kasih, Pak. Tapi saya tidak bisa kembali bekerja jauh dari keluarga saya lagi. Saya menyadari bahwa kemuliaan hidup saya bukan di sana.”
"Kebetulan sekali. Kami baru saja mengakuisisi perusahaan cabang di Jakarta dan membutuhkan Direktur Keuangan yang bisa kami percaya sepenuhnya, orang yang sangat berintegritas dan sudah paham sistem kami untuk memimpin di sana. Apakah kamu bersedia memimpin kantor cabang kami di sana?"
Ferdy tertegun. Tawaran itu bukan hanya mengembalikan kehormatannya, tapi juga menempatkannya pada posisi yang jauh lebih baik daripada yang pernah ia bayangkan, tanpa harus terpisah ribuan mil dari orang yang ia cintai.
"Saya bersedia, Sir. Sangat bersedia."
Ferdy menutup telepon, menatap surat tulisan tangan ibunya yang ia simpan di saku baju kokonya. Benar kata ibunya, tulisan tangan itu punya ruh. Dan di antara guratan tinta itu, doa seorang ibu telah menembus langit, membawa anaknya pulang ke jalan yang jauh lebih indah.
Sekian dari Lily. Cerita ini dibuat dalam rangka lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh GC Ruang Menulis.
Tema 3: Keluarga.