Darah memenuhi ruang itu. Kini ia memiliki hak lebih daripada udara. Bau hanyir merayap ke paru-paruku, mengakar, enggan terusir walau aku cuba bernapas pendek-pendek.
Sia-sia.
Napas kini kemewahan yang tak lagi mampu kubeli.
Lelaki tua itu terbaring di lantai. Perutnya menganga. Wajahnya berkerut seperti kain perah yang diperas terlalu lama oleh tangan yang tak terlihat.
Kecil.
Mereka semua jadi kecil ketika maut mulai mengukur.
Darah panas yang membasahi lantai itu bukan miliknya.
Dan sebentar lagi, ia akan menjadi milikku.
Dua bangkai dalam satu bilik.
Hanya satu yang masih mampu berpikir.
Aku.
Ironi yang hampir lucu—jika masih ada ruang untuk tertawa di tengah semua ini.
Di luar, derap kaki mulai terdengar. Teratur. Berat. Pasti.
Mereka tak pernah lambat.
Begitu bau pengkhianatan sampai ke hidung mereka, mereka datang seperti kutukan yang menagih janji.
Seseorang membocorkan.
Pengkhianat.
Dan pengkhianatan tak pernah datang dari musuh. Ia selalu datang dari tangan yang pernah kau genggam erat, dari mulut yang pernah berbisik setia, dari mata yang pernah menatapmu seolah kau pahlawan.
Tiada jalan keluar.
Dan aku tak cukup bodoh untuk hidup dalam sangkar mereka.
Jadi aku memotong leherku sendiri.
Tak seperti bayanganku. Tak ada jerit. Tak ada tangis.
Hanya kehangatan yang merambat perlahan… dan dunia yang mengendur sedikit demi sedikit, seolah simpul tali dilepaskan satu per satu.
Sebelum gelap menelan semuanya—
Langkah.
Berat. Teratur. Yakin.
Seorang lelaki muncul di ambang pintu. Tubuhnya besar, seolah dosa kolektif manusia dipahat menjadi daging. Wajahnya tersembunyi dalam bayang-bayang, seakan cahaya pun enggan menyentuhnya.
“Kerja bagus.”
Pujian di ambang maut.
Jika aku masih mampu, mungkin aku akan tertawa.
Gelap.
---
Aku membuka mata.
Itu kesilapan pertama.
Atau mungkin kesilapan terakhir—bergantung dari sisi mana kau melihatnya.
Aku berbaring di atas anyaman daun kering dan rumput. Bau tanah basah. Bau kayu lapuk. Bau kehidupan—yang seharusnya sudah kutinggalkan.
Tanganku naik menyentuh leher.
Tiada luka.
Tiada darah.
Tiada parut.
Napasku masih ada.
Aku masih ada.
Neraka tak seharusnya setenang ini.
Neraka tak seharusnya berbau harapan.
Pintu kayu berderit.
Lelaki yang sama melangkah masuk—jubah hitam, wajah tersembunyi, kehadiran yang membuat udara di bilik ini terasa enggan bergerak.
Semangkuk bubur di tangannya.
Aku menangkupkan tangan pada mangkuk itu, tapi tak terus menyentuhnya.
Dia menyuap sendiri dahulu. Mengunyah perlahan, seolah waktu adalah miliknya.
“Pahit,” katanya tenang.
“Kau lihat? Aku tak mati.”
Demonstrasi. Sindiran. Atau sekadar permainan.
Kerana orang seperti dia jarang melakukan sesuatu tanpa alasan.
Aku mengambil mangkuk itu. Tanganku tidak gemetar.
Itulah yang paling menakutkan—betapa cepatnya aku kembali ke kulit lama.
“Kenapa aku hidup?”
Dia tak menjawab. Hanya berdiri di sana seperti hakim yang sedang menimbang—bukan perbuatan, tetapi nilai jiwa.
“Selain itu,” katanya akhirnya, suaranya berat seperti batu nisan, “kau tak ingin tahu bagaimana kau bisa terkepung begitu cepat?”
Darahku terasa membeku.
“Kau bekerja dengan mereka?”
Dia menghela napas panjang.
“Sudah habis tuduhanmu?”
Aku diam.
Lalu dia berkata dengan nada setenang membaca daftar harga nyawa:
“Bagaimana kalau orang yang paling kau percaya yang menjualmu?”
Kalimat itu tidak menjerit.
Ia berbisik.
Dan bisikan selalu lebih dalam menikam.
Wajah-wajah melintas di kepalaku. Senyuman. Tepukan bahu. Janji yang diucapkan dengan mata jujur—atau yang kukira jujur.
Retak.
Satu demi satu.
“Aku tak berniat memusnahkanmu,” katanya.
“Aku menyelamatkanmu.”
“Untuk apa?”
Dia mendekat. Cukup dekat hingga bayangnya menelan tubuhku sepenuhnya.
“Untuk melihat apakah kau bisa menjadi lebih dari sekadar alat.”
Sunyi menggantung di antara kami.
Lilin kecil di sudut bilik bergetar, seolah ragu untuk terus hidup.
“Mereka tak pernah menghargaimu,” katanya lagi.
“Mereka menjualmu kepada dewa-dewa palsu.”
Aku tertawa kecil.
Bukan kerana lucu.
Tetapi kerana akhirnya semuanya masuk akal.
Dan masuk akal adalah hal paling menyakitkan yang pernah kurasakan.
---
Kata-katanya terus mengiang di kepalaku.
Perlahan, ingatan tentang pemimpinku merayap masuk.
Berikan segalanya untukku.
Pengorbanan tanpa pamrih.
Bersatu kita menghadapi ancaman yang sama.
Keluar dari kepompong kegelapan.
Begitulah katanya.
Pemimpinku.
Guruku.
Pengkhianatku.
Kata-kata indah, seperti filsuf yang lidahnya lebih tajam daripada pedang.
Nyawa adalah hadiah Tuhan.
Kita harus menjaganya dari nalar pendek.
Bersama kita di jalan lurus.
Hadiah.
Ya, hadiah.
Aku pembunuh upahan yang menjaga rahasia hingga titik darah terakhir—dan rahasia itu akhirnya dibocorkan oleh mulut yang paling sering mengucapkan kata setia.
Aku menarik napas panjang, lalu menatap lelaki berjubah hitam itu.
“Apa tujuanmu menyelamatkanku?” tanyaku.
Setelah hening beberapa saat, aku menambahkan,
“Aku bersedia mengorbankan nyawaku untukmu, jika itu yang kau minta.”
Dia terdiam.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa kemenangan.
Bukan tawa ejekan.
Tawa lelah—seperti orang yang terlalu lama melihat kebodohan berulang.
“Bukankah sudah kukatakan?” katanya.
“Nyawa adalah hadiah.”
“Apa maksudmu?”
Dia menatapku. Untuk pertama kalinya, tatapannya terasa menembus, bukan sekadar mengamati.
“Jika harga perdamaian adalah nyawa, maka berkorbanlah. Tapi jika ada jalan lain—jalan yang lebih baik—mengapa kau memilih mati untuk mereka yang menjualmu?”
Aku tak menjawab.
Kerana tiada jawapan.
Hanya pertanyaan-pertanyaan baru yang mulai menggerogoti.
Lelaki itu berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, dia berkata tanpa menoleh:
“Kau pikir kau sudah mati tadi?”
Dia berhenti sejenak.
“Itu baru permulaan. Hidup yang sebenarnya—hidup yang kau pilih sendiri—belum dimulai.”
Pintu tertutup.
Aku duduk di atas anyaman daun dan rumput, memegang leherku yang utuh, merasakan napas yang masih setia di dadaku.
Di luar, mungkin dunia masih sama.
Tapi di dalam diriku—
sesuatu telah robek.
Sesuatu yang tak mungkin dijahit kembali.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak tahu apakah aku harus bersyukur… atau menyesal masih bernapas.
Mungkin itulah hadiahnya.
Atau mungkin itu kutukan yang baru saja dimulai.
---
Saat fajar merangkak naik, membawa cahaya pucat yang enggan menyapa dunia, aku bangkit.
Rasa nyeri di leher yang seharusnya ada kini digantikan oleh denyut nadi yang terasa asing. Bukan lagi darah lama yang mengabdi pada tuan yang salah—melainkan darah yang mengalir dengan agendanya sendiri.
Darah yang menuntut untuk digunakan.
Aku tak punya waktu meratapi sisa trauma.
Di pagi yang masih muda ini, setiap detik adalah kesempatan untuk memastikan bahawa kematian yang tadi malam gagal menjemputku… tidak akan memiliki alasan untuk datang kembali.
Aku mulai bergerak.
Pemanasan.
Pukulan-pukulan tajam membelah udara. Tendangan menghantam bayang-bayang.
Tubuhku segera basah oleh peluh yang bercampur embun pagi.
Lelah mulai menyergap.
Namun keraguan jauh lebih mematikan.
Bagaimana jika pengkhianat itu muncul sekarang?
Aku memejamkan mata.
Bayangan wajah orang yang menjualku muncul di balik kelopak mata. Setiap ototku menegang—bukan kerana takut.
Tetapi kerana haus.
Haus akan jawapan.
Dan mungkin… haus akan pembalasan.
Dalam sunyi yang mencekam, aku bukan lagi alat yang dibuang.
Aku adalah pedang yang baru ditempa di atas api neraka.
Dan pedang yang baru ditempa…
tak akan pernah diam.
hingga ia menemukan apa yang harus ia tebas.