Di Sektor Bawah, rasa sakit adalah satu-satunya mata uang yang tidak pernah mengalami inflasi.
Bram mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang berlumuran darah kering. Di depannya, di atas meja operasi berkarat yang diterangi lampu neon berkedip, seorang pria dewasa mengerang tertahan. Rahang pria itu diikat dengan sabuk kulit agar ia tidak menggigit lidahnya sendiri.
Sejak Hari Nol, hari di mana konsep kematian lenyap dari muka bumi lima abad yang lalu, profesi dokter secara teknis sudah punah. Umat manusia dikutuk dengan sel yang menolak untuk mati, penyakit lenyap, luka separah apa pun akan sembuh, dan daging yang terkoyak akan merajut kembali dalam hitungan detik.
Namun, di situlah letak kengeriannya. Jika tulangmu patah dan kau tidak memosisikannya dengan benar sebelum sel-sel super itu bekerja, tulangmu akan menyatu dalam posisi bengkok... selamanya.
Di situlah orang-orang seperti Bram dibutuhkan. Ia adalah seorang Penjahit Daging ilegal.
"Tahan," bisik Bram dingin, ia mengangkat sebuah palu besi dan pahat medis. "Aku harus menghancurkan lututmu lagi agar sel-mu bisa menyambungnya dengan lurus."
Sebelum palu itu mengayun, pintu klinik bawah tanah Bram didobrak terbuka.
Engsel besi menjerit saat pintu itu terpelanting menghantam dinding beton. Bram langsung memutar tubuhnya, menyambar pistol rakitan dari laci meja. Pasien di atas meja operasi membelalakkan mata, panik namun tak bisa lari karena kakinya yang bengkok.
Seorang gadis remaja berusia belasan tahun berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah, wajahnya cemong oleh oli dan debu vulkanik dari kota. Di punggungnya, ia menggendong seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang terus menangis histeris.
"Tolong..." isak gadis itu, kakinya gemetar menahan beban. "Tolong adikku."
Bram menurunkan pistolnya. Insting kewaspadaannya berubah menjadi rasa muak saat melihat kondisi anak laki-laki itu.
Kaki kiri anak itu hancur. Bukan sekadar patah, tetapi remuk redam dari paha hingga pergelangan kaki.
Dagingnya telah beregenerasi secara brutal, memaksa pecahan-pecahan tulang untuk tumbuh saling silang menembus kulit. Kaki itu kini lebih terlihat seperti gumpalan akar pohon berdarah daripada anggota tubuh manusia.
Sang anak tidak bisa mati karena pendarahan, tetapi otak kecilnya disiksa oleh rasa sakit tanpa akhir dari serabut saraf yang terus-menerus terjepit di antara tulang yang salah tempat.
"Baringkan dia di lantai," perintah Bram, menendang tumpukan kain kotor untuk membuat alas. "Apa yang terjadi?"
"Kami... kami mencoba memulung kabel tembaga di perbatasan Sektor Menengah," jawab gadis itu sambil membaringkan adiknya dengan hati-hati. Air matanya menetes jatuh ke wajah sang adik. "Prajurit Inkuisisi memergoki kami. Mereka... mereka tidak menangkap Tomi. Prajurit itu hanya mengambil palu godam, menghancurkan kaki Tomi, dan membiarkan kami pergi."
Bram mengertakkan giginya.
Inkuisisi.
Pasukan elite berjubah putih dari Sinode yang menguasai kota ini. Mereka tahu kematian tidak lagi bisa dijadikan hukuman. Jadi, mereka menggunakan mutilasi dan membiarkan korban sembuh dalam kecacatan sebagai bentuk teror. Sebuah peringatan berjalan bagi warga Sektor Bawah.
"Siapa namamu?" tanya Bram, berlutut di samping Tomi, mengambil gergaji tulang bertenaga baterai dari tas perkakasnya.
"Sari, dan ini adikku, Tomi."
"Dengar Sari, proses ini akan sangat mengerikan," Bram menatap lurus ke mata gadis itu. "Sel-sel di kaki adikmu membelah terlalu cepat. Aku harus menggergaji tulang-tulang yang tumbuh menyilang ini, mengembalikannya ke posisi lurus, dan menahannya dengan pelat baja sebelum dagingnya merajut kembali. Adikmu akan merasakan sakit seolah kakinya diamputasi hidup-hidup."
"Lakukan," suara Sari bergetar, namun ada tekad baja di sana. "Dia sudah disiksa selama tiga jam, dia butuh kakinya kembali."
Bram menyalakan gergaji tulang, suara dengungan mesinnya membuat Tomi semakin histeris. Sari memeluk erat kepala adiknya, menutup telinga dan mata anak itu.
"Satu... dua..."
Bram menekan mata gergaji ke gumpalan tulang yang menyimpang. Darah segar langsung menyembur, mengenai kacamata pelindung Bram. Tomi menjerit parau, suaranya cukup keras untuk merobek pita suaranya sendiri yang kemudian sembuh dan robek lagi karena ia terus menjerit.
Sambil memotong jaringan yang salah, Bram harus berpacu dengan waktu. Setiap kali ia memotong tulang, sulur-sulur daging berwarna merah muda langsung muncul dari ujung luka, mencoba menyatukan kembali tulang itu.
Bram menggunakan penjepit besi untuk menahan daging yang menggeliat itu terbuka, tangannya yang lain memasang pelat penyangga.
"Pegang kakinya! Jangan biarkan dia menendang!" teriak Bram.
Namun, di tengah kekacauan operasi berdarah itu, sebuah suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari arah lorong di luar pintu klinik.
Klang. Klang. Klang.
Bunyi sepatu bot berlapis magnet yang menapak di lantai besi.
Bram membeku, Sari menoleh ke arah pintu dengan wajah pucat pasi.
Seseorang melangkah masuk dari balik bayang-bayang pintu yang hancur. Ia mengenakan zirah komposit berwarna putih bersih yang sangat kontras dengan lingkungan Sektor Bawah yang kumuh. Helm visor hitamnya menutupi wajahnya, memancarkan aura otoritas absolut, seorang Inkuisitor Sinode.
"Ternyata tikus kecil ini merangkak ke tempat pembuangan medis," suara Inkuisitor itu terdengar mekanis dan dingin dari balik helmnya.
Ia melirik jejak tetesan darah di lantai yang mengarah tepat ke arah Sari dan Tomi.
Prajurit itu sengaja membiarkan mereka pergi hanya untuk mengikuti jejak darahnya. Ia tidak hanya ingin menghukum dua anak pemulung, ia sedang mencari sarang pemberontak atau klinik ilegal.
"Kau melanggar hukum Tembok dengan merekonstruksi hukuman Sinode, Penjahit Daging," kata Inkuisitor itu, mengarahkan senapan laras pendeknya ke arah Bram.
"Kau menghancurkan kaki anak kecil sebagai hukuman?!" geram Bram, bangkit berdiri sambil menggenggam erat gergaji tulang yang masih menyala di tangannya.
Inkuisitor itu tertawa pelan, ia menarik pelatuknya.
BANG!
Peluru berkaliber besar menghantam dada Bram, kekuatan kinetiknya melempar Bram ke belakang hingga menabrak rak obat-obatan.
Botol-botol kaca pecah berantakan, dada Bram berlubang seukuran kepalan tangan orang dewasa.
Namun, dunia ini tidak mengenal kematian.
Bram terbatuk, meludahkan gumpalan darah. Ia menunduk menatap dadanya yang berlubang. Daging di sekitar luka itu mulai mendidih, asap putih mengepul dari reaksi eksotermik saat mitokondria di dalam selnya bekerja jutaan kali lebih cepat.
Otot-otot merajut, tulang rusuk yang hancur terdorong keluar dan digantikan dengan kalsium baru. Dalam sepuluh detik, lubang di dadanya menutup tanpa bekas.
"Peluru tidak membunuh kami, Bung," desis Bram, perlahan bangkit berdiri. Kemejanya robek, namun tubuhnya utuh.
"Memang tidak," jawab Inkuisitor itu dengan santai. "Tapi itu cukup sakit untuk membuatmu patuh."
Ia melangkah maju, mengangkat popor senapannya untuk menghancurkan tengkorak Bram. Namun, Inkuisitor itu meremehkan keputusasaan penghuni Sektor Bawah.
Saat Inkuisitor itu melewatiku Sari, gadis remaja itu bertindak. Ia tidak melarikan diri, sari meraih sebotol asam hidroklorida pekat berbahan kimia kelas industri yang digunakan Bram untuk mensterilkan peralatan berkarat dari meja terdekat, dan menyiramkannya tepat ke celah leher zirah Inkuisitor tersebut.
Asam itu merembes masuk ke dalam pakaian pelindungnya.
Inkuisitor itu meraung keras, senapannya terlepas, ia jatuh berlutut sambil menggapai-gapai lehernya. Asam itu memakan daging aslinya hingga ke tulang.
Kengerian sejati dari keabadian kembali terjadi, sel-sel Inkuisitor itu memaksa dagingnya untuk tumbuh merajut lehernya, namun cairan asam itu langsung membakarnya kembali. Sebuah siklus pembusukan dan regenerasi instan yang menciptakan rasa sakit setara dengan dibakar hidup-hidup tanpa henti.
"Bram! Sekarang!" teriak Sari, menarik adiknya menjauh.
Bram tidak membuang kesempatan, ia menerjang ke depan dengan gergaji tulang yang mengaum. Ia tidak mengarahkan gergajinya ke tubuh Inkuisitor itu karena itu sia-sia. Bram mengayunkan gergajinya ke arah pilar beton penyangga yang rapuh di samping Inkuisitor tersebut.
Mesin gergaji itu menghantam beton dan besi rebar yang berkarat, memotong struktur penyangga tua itu.
KRAK! RUUUB!
Atap beton di atas Inkuisitor itu runtuh. Sebongkah beton seberat dua ton jatuh menghantam tubuh prajurit berzirah putih itu, menjepitnya rata dengan lantai. Tulang punggung dan kakinya hancur berkeping-keping di bawah beban masif tersebut.
Inkuisitor itu terperangkap, ia tidak bisa mati. Tubuhnya akan terus mencoba menyembuhkan diri di bawah tekanan beton seberat dua ton, menghancurkan tulangnya sendiri setiap kali ia mencoba bergerak untuk merangkak keluar.
Ia telah menjadi monumen penderitaannya sendiri.
Klinik itu dipenuhi oleh debu beton yang mencekik dan rintihan tertahan dari bawah reruntuhan.
Bram terengah-engah, melempar gergaji tulangnya yang rusak ke sudut ruangan. Ia menoleh ke arah Sari dan Tomi. Tomi sudah pingsan karena syok, namun kakinya yang sempat diluruskan oleh Bram kini mulai merajut kembali dalam posisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Kalian harus pergi," kata Bram, mengambil sebuah ransel tua dan memasukkan sisa obat penahan sakit serta perban. Ia melemparkan ransel itu pada Sari. "Bawa dia jauh ke distrik industri. Jika Inkuisisi lain menemukan tempat ini, mereka akan mengubur kita semua ke dalam semen."
Sari menangkap ransel itu, matanya yang basah menatap Bram dengan penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan. Ia kembali menggendong adiknya yang pingsan, menguatkan langkahnya yang gemetar.
"Bagaimana denganmu, Paman?" tanya Sari pelan di ambang pintu.
Bram menatap Inkuisitor yang terjepit di bawah beton, ia membakar sebatang rokok sintetis dan mengisapnya dalam-dalam.
"Aku harus mencari tempat praktik baru," jawab Bram sinis. "Di dunia tanpa akhir ini, tulang akan selalu patah. Dan seseorang harus memastikan mereka tidak patah untuk tunduk pada Sinode."
Sari mengangguk, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang lorong Sektor Bawah, ditelan oleh lautan manusia abadi yang terus mencari alasan untuk tetap hidup di esok hari.