Langit sore di hari ke-27 Ramadhan mulai memerah, membiaskan warna oranye keemasan yang memantul di kubah masjid.
Di teras masjid yang sejuk oleh ubin marmer, Alya terduduk lemas. Punggungnya bersandar pada pilar besar yang dingin, mencoba mencari sisa tenaga.
Rasa haus yang mencekik dan perut yang sedari tadi berbunyi seolah menjadi ujian yang semakin berat di penghujung bulan suci ini.
Namun, Alya tahu, ada yang lebih berat dari sekadar rasa lapar yang menguras fisiknya: ada ganjalan besar di hatinya untuk Hana.
Sebuah beban yang selama sebulan ini ia bawa ke mana pun ia pergi, membuat tidurnya tak nyenyak dan ibadahnya terasa hambar.
Hana adalah sahabat karibnya, orang yang tahu rahasia terkecil Alya, hingga kejadian sebulan lalu menghancurkan segalanya.
Hana tidak sengaja menghilangkan buku harian Alya yang berisi draf cerpen untuk perlombaan besar tingkat nasional. Naskah itu bukan sekadar tulisan bagi Alya; itu adalah tumpahan jiwanya, hasil riset berbulan-bulan, dan tiket harapannya untuk masa depan.
Sejak draf itu hilang bersama kecerobohan Hana yang meninggalkannya di angkutan umum, Alya menutup diri rapat-rapat.
Tak ada lagi tawa bersama saat pulang sekolah. Tak ada lagi saling berbagi bekal. Bahkan, saat mereka tak sengaja berpapasan di saf salat tarawih, Alya akan segera mengalihkan pandangan, seolah-olah Hana adalah orang asing yang tak pernah ada dalam hidupnya.
“Puasa itu perisai, Alya. Bukan cuma dari makan dan minum, tapi juga dari amarah dan penyakit hati,”
suara lembut Pak Ustaz dari pengeras suara masjid menyusup ke telinganya, seolah-olah ceramah itu ditujukan khusus untuknya. Kata-kata itu menyentil nuraninya yang selama ini beku oleh ego.
Alya menghela napas panjang, matanya nanar menatap kerumunan orang yang hilir mudik menyiapkan takjil. Ada kebahagiaan di wajah mereka, sesuatu yang Alya rindukan dalam hatinya sendiri.
Tiba-tiba, seorang gadis kecil dengan kuncir kuda mendekatinya. Langkah kakinya yang mungil berhenti tepat di depan Alya.
Ia membawa segelas es sirup merah dengan embun air yang menetes di pinggiran gelas, terlihat sangat segar dan menggoda di tengah cuaca yang gerah. Gadis itu meletakkannya dengan hati-hati di samping Alya.
“Kak, ini buat nanti buka ya. Tadi ada kakak di sana yang titip, tapi dia nggak berani kasih langsung,” ucap si kecil sambil menunjuk ke arah pilar masjid di sudut jauh.
Di balik pilar itu, Alya melihat Hana. Keadaan Hana jauh dari kata baik. Wajahnya tampak sangat pucat, mungkin karena ia juga sedang berpuasa di tengah tekanan batin yang hebat.
Matanya sembab, merah, dan ia terlihat jauh lebih lemas dari Alya. Saat mata mereka bertemu dalam sepersekian detik, Hana segera menunduk.
Bahunya yang ringkih mulai bergetar. Ia menangis tanpa suara.
Melihat sahabatnya seperti itu, benteng amarah di hati Alya mulai retak.
Ia teringat sebuah pesan yang pernah ia baca: Barang siapa yang memaafkan saat ia mampu membalas, ia adalah orang yang mulia di sisi AllahDi bulan yang penuh ampunan ini, Alya tersadar bahwa menyimpan dendam adalah beban yang melelahkan.
Dendam itu seperti meminum racun tapi mengharap orang lain yang mati. Ia menyadari bahwa memaafkan adalah cara terbaik untuk membersihkan hati sebelum gema takbir kemenangan tiba.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Alya berdiri. Langkahnya terasa gontai, kepalanya sedikit pening karena lapar, namun tekadnya sudah bulat.
Ia berjalan perlahan mendekati Hana yang masih terisak di balik pilar. Hana yang mendengar langkah kaki mendekat tampak ketakutan. Ia mendongak dengan wajah penuh air mata, mengira Alya akan memuntahkan kemarahannya lagi di depan umum.
Namun, di luar dugaan, Alya justru mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar. Ia mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kering.
"Han, es sirupnya kelihatannya enak. Tapi bakal lebih enak kalau kita minum bareng pas buka nanti. Aku nggak mau minum sendirian," ucap Alya pelan dengan suara serak yang tulus.
Hana tertegun. Matanya membulat tak percaya. Detik berikutnya, tangisnya pecah lebih keras, namun kali ini bukan tangis ketakutan.
Ia menghambur dan memeluk Alya erat-erat. "Maafkan aku, Alya... aku benar-benar merasa berdosa.
Setiap kali aku makan atau minum, aku teringat betapa aku telah menghancurkan mimpimu. Aku merasa tidak layak mendapatkan kebahagiaan Ramadhan tahun ini."
Alya mengusap punggung Hana, merasakan betapa kurusnya sahabatnya itu sekarang. Ia ikut menitikkan air mata.
"Aku sudah memaafkanmu, Han. Sungguh. Ramadhan ini mengajarkanku bahwa menahan lapar itu mudah, tapi menahan ego untuk tidak memaafkan itu yang luar biasa sulitnya.
Aku tidak mau Idul Fitri tiba sementara hatiku masih terkunci oleh benci. Sekarang, hatiku jauh lebih ringan dari perutku yang lapar."
Mereka duduk bersimpuh di lantai masjid, saling bercerita tentang betapa tersiksanya satu bulan terakhir dalam diam.
Alya baru tahu kalau Hana telah mencoba mencari buku itu ke terminal setiap hari selama seminggu penuh tanpa memberitahunya.
Hana bahkan mencoba menulis ulang poin-poin yang ia ingat dari cerita Alya, meski hasilnya tentu tak sama.
"Aku punya sesuatu untukmu nanti setelah lebaran," bisik Hana.
"Aku sudah menabung untuk membelikanmu laptop bekas supaya kamu bisa menulis lebih aman dan tidak hanya di buku harian lagi."
Alya terharu. Ia menyadari bahwa persahabatan mereka jauh lebih berharga daripada naskah mana pun.
Saat azan magrib akhirnya berkumandang, membelah kesunyian senja, mereka membatalkan puasa bersama. Segelas sirup merah itu dibagi dua.
Rasanya begitu manis, melebihi rasa sirup mana pun, karena ada rasa ikhlas yang menyertainya. Keikhlasan di hati Alya terasa jauh lebih menyegarkan daripada air dingin yang mengalir di tenggorokannya.
Sore itu, di bawah lindungan atap rumah Tuhan, Alya belajar satu hal penting: keindahan memaafkan bukan hanya melegakan orang yang bersalah, tapi menyembuhkan jiwa mereka yang bersedia membuka pintu maaf.
Keindahan Ramadhan bukan terletak pada hidangan berbuka yang mewah atau baju baru yang mahal, melainkan pada lapangnya hati yang bersedia membuang duri dendam dan kembali menyambung tali silaturahmi yang sempat terputus.
Alya dan Hana kini tahu, bahwa embun pemaafan telah membasahi jiwa mereka yang sempat gersang, menjadikan akhir Ramadhan kali ini sebagai kemenangan yang sesungguhnya.
Dan Alya Harus mengingat satu hal penting: keindahan memaafkan bukan hanya melegakan orang yang bersalah, tapi menyembuhkan jiwa mereka yang bersedia membuka pintu maaf di bulan yang penuh berkah.
Dan juga keindahan Ramadhan bukan terletak pada hidangan berbuka yang mewah, melainkan pada lapangnya hati yang bersedia memaafkan dan kembali menyambung silaturahmi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~..... Event GC RUMAH MENULIS..... ~~