Malam di pinggiran kota terasa lebih dingin dari biasanya, namun bagi Rohaye, hawa panas justru membakar dadanya setiap kali melirik suaminya, Matori. Lelaki itu duduk di lincak bambu depan rumah, masih mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos dalam putih yang mulai menguning di bagian ketiak. Matanya tak lepas dari layar ponsel. Jempolnya menari lincah, sesekali bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tak pernah lagi Rohaye lihat saat mereka makan malam berdua.
"Lagi liat apa, Cak? Kok kayaknya asyik bener," tegur Rohaye sambil meletakkan segelas kopi pahit di samping suaminya.
Matori tersentak. Tangannya dengan gerakan refleks yang sangat terlatih segera membalikkan ponsel itu hingga layarnya mencium kayu lincak. "Eh, ini... anu, Ye. Grup WA paguyuban sate. Biasa, lagi bahas harga arang yang mau naik lagi. Pusing Cak-mu ini kalau arang naik terus, untung jualan makin tipis."
Rohaye terdiam. Dia bukan perempuan kemarin sore yang bisa dikelabui dengan alasan klise. Sudah tiga bulan Matori berubah. Uang setoran hasil berjualan sate yang biasanya ajek, kini sering berkurang dengan alasan sepi pelanggan atau daging yang mahal. Padahal, setiap Rohaye lewat di depan pangkalan sate suaminya, kepulan asapnya selalu tebal dan pembelinya antre hingga ke pinggir jalan. Belum lagi kebiasaan baru Matori yang selalu mengunci ponselnya dengan pola rumit, padahal dulu ponsel itu tergeletak sembarangan di atas kasur.
Kecurigaan Rohaye memuncak saat seminggu lalu ia menemukan selembar nota toko perhiasan di saku sarung Matori yang hendak dicuci. Sebuah kalung emas seberat lima gram. Rohaye meraba lehernya sendiri yang polos. Tidak ada kado, tidak ada perayaan. Jika bukan untuknya, lalu untuk leher siapa emas itu melingkar?
Keesokan harinya, Rohaye memutuskan untuk mencari kebenaran. Setelah Matori pamit berangkat ke pasar untuk belanja daging subuh-subuh, Rohaye tidak kembali tidur. Ia meminjam motor sepupunya, memakai jaket lebar dan helm cakil yang menutupi seluruh wajahnya. Ia membuntuti motor bebek suaminya dari kejauhan.
Namun, kejutan pertama menghantamnya. Matori tidak berhenti di pasar daging. Lelaki itu justru memarkir motornya di sebuah gudang ekspedisi besar di pinggiran pelabuhan. Di sana, Rohaye melihat suaminya berganti pakaian. Sarung dan baju kokonya dilepas, diganti dengan seragam kuli panggul yang lusuh. Selama berjam-jam di bawah terik matahari yang mulai merangkak naik, Rohaye menyaksikan Matori memanggul karung-karung beras yang beratnya mungkin menyamai beban hidup mereka. Keringat bercucuran membasahi punggung suaminya yang mulai membungkuk.
Rohaye terduduk lemas di balik tembok gudang. Air matanya jatuh tanpa permisi. "Ya Allah, Cak Matori... teganya aku berburuk sangka," bisiknya lirih. Ternyata alasan uang setoran yang menipis adalah karena modal usaha sate mereka sebenarnya sedang goyah, dan Matori tidak ingin istrinya cemas. Dia bekerja dua kali lipat lebih keras, menjadi kuli panggul di pagi hari dan membakar sate di malam hari, hanya agar Rohaye tetap bisa membeli beras dan membayar sekolah anak mereka di Madura. Nota emas itu? Mungkin itu adalah tabungan rahasia Matori yang ingin ia berikan sebagai kejutan di hari ulang tahun pernikahan mereka bulan depan. Rohaye merasa menjadi istri paling berdosa di dunia.
Malam itu, saat Matori pulang dengan wajah yang tampak amat lelah, Rohaye menyambutnya dengan pijatan di bahu dan masakan kesukaan suaminya, nasi jagung dengan penyet tongkol. Ia tidak bertanya apa-apa, ia hanya ingin melayani suaminya dengan lebih baik sebagai penebus rasa bersalahnya.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa jam. Saat Matori sudah mendengkur halus karena kelelahan, ponselnya yang tergeletak di samping bantal bergetar hebat. Ada panggilan masuk bertubi-tubi. Rohaye melirik layar yang menyala. Nama kontaknya: "Haji Somad Suplier Daging".
Rohaye ragu, tapi hatinya berbisik untuk memastikan. Siapa tahu ada urusan mendesak soal dagangan suaminya. Saat panggilan itu mati, muncul sebuah pesan singkat yang terpampang di layar kunci karena setelan notifikasinya lupa disembunyikan.
"Mat, gimana? Slot yang tadi siang sudah cair? Bandarnya bilang lo menang telak tapi saldo lo malah ditarik semua buat bayar utang yang minggu lalu. Kalung emas bini lo yang lo gadai kemarin belum cukup buat nutupi bunga pinjol yang gue talangin. Kalau besok nggak ada setoran lagi, orang-orang penagih itu bakal datang ke rumah lo. Jangan sampai bini lo tahu kalau lo habiskan modal sate buat muter di situs itu."
Tangan Rohaye gemetar hebat. Ponsel itu hampir jatuh dari genggamannya. Seluruh bayangan tentang suami pahlawan yang bekerja keras menjadi kuli panggul mendadak hancur berkeping-keping. Matori memang bekerja jadi kuli, tapi bukan untuk keluarga. Dia bekerja kasar hanya untuk menutupi lubang hitam akibat kecanduannya pada judi online yang telah menguras habis tabungan dan modal usaha mereka. Bahkan kalung emas yang dikira Rohaye adalah kado, ternyata adalah perhiasan miliknya sendiri yang diam-diam dicuri Matori dari kotak penyimpanan untuk dijadikan taruhan.
Dunia seolah runtuh. Rohaye menatap punggung suaminya yang masih terlelap. Sosok yang tadi siang ia tangisi karena rasa haru, kini tampak seperti orang asing yang mengerikan. Di balik sarung dan peluh keringatnya, Matori bukan sedang membangun masa depan, melainkan sedang membakar rumah mereka sendiri dalam diam. Rohaye meletakkan kembali ponsel itu dengan tangan dingin, lalu ia berjalan menuju dapur, mengambil tas belanja besarnya, dan mulai memasukkan baju-bajunya satu per satu. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah. Hanya ada kesunyian yang mencekam saat ia melangkah keluar pintu rumah, meninggalkan Matori yang masih terbuai dalam mimpi tentang kemenangan judi yang takkan pernah datang.