Ketika duduk dikereta bersama prince, saya ditraktir semua hotel dan kereta gratis, tiba2 melihat ajeng seperti mummy tanpa kain
Ajeng :" Eh lu kenapa ngelihat gw kayak gitu el"
El:"Sepertinya abdul hadi mengikuti kamu "
Ajeng :" Gw sange nonton netflix mulu, elo yg ngajarin sih "
El: "engga ngajarin, lu ketagihan dimarahin kuya luh "
Kiki:" Nahan nafsu gimana, orang gw aja sama suami jauh, ya gw palakin kuya abdul hadi "
El:" I know you are selir -seelir of him" Karena itu eli langsung cau dari klinik tempat kerja
Dikereta ajek -ajek
Di ajeng diam melihat kelakuan eli yang panik dy berubah wujud
Selalu bersandar sama kuya sih ajeng sama kiki
Li aja gak pernah minta uang setelah setahun kerja dan pulang ke Indonesia
Cerita ajeng
Langit Semarang benar-benar telah berubah gelap ketika mereka kembali ke mobil, udara malam terasa menu suk di kulit.
Maria menutup pintu mobil pelan, lalu menoleh pada sahabatnya.
“ajeng, kita ga bisa lanjut nyari informasi malam-malam begini, lo juga udah kelihatan d rop.”
Ajeng masih menatap lurus ke arah rumah kos itu, lampu terasnya redup, seolah mengejeknya.
“Aku ga mau pulang ke Jakarta malam ini,” gumamnya akhirnya.
Maria mengangguk setuju, “Kita cari pengina pan aja, besok pagi kita balik, dengan hati yang lebih tenang.”
Ajeng tidak menjawab, hanya menyandarkan kepala ke kursi.
Mereka menemukan penginapan kecil tak jauh dari pusat kota. Bangunannya sederhana, tapi cukup bersih dan tenang.
Ajeng bahkan tidak ingat siapa yang menyerahkan KTP, siapa yang membayar saat check-in, Maria yang lebih banyak berbicara.
Ajeng berdiri di tengah ruangan, memandang ranjang berseprai putih itu seolah tak tahu harus berbuat apa, tub uhnya terasa lelah, tapi pikirannya berkeliling entah kemana.
“ajeng,” Maria duduk di tepi ranja ng, “lo mau man di dulu? Atau makan? Kita belum makan dari siang.”
Ajeng menggeleng pelan, “Gue ga lapar.”
Ia duduk perlahan di sisi lain ranj ang, menggeng gam ponsel yang sunyi tanpa notifikasi.
Seolah2 memang sudah menghapus dirinya dari kehidupannya.
“Mar …” suaranya liri h, “kalau dia resign, berarti dia udah rencanain semua ini dari jauh-jauh hari.”
Maria terdiam.
“Resign itu ga mungkin keputusan dadakan. Pindah kos juga nggak mungkin spontan, berarti ... selama ini dia lagi nyiapin jalan buat pergi.”
Kata-kata itu terdengar begitu pahit ketika diucapkan keras-keras.
Maria menghela napas “ajeng, sekarang yang penting kita jangan panik. Besok kita balik Jakarta. Kita cek rumah. Kita cek semuanya. Pelan-pelan.”
Ajeng tertawa kecil, hambar. “Rumah? Rumah yang mungkin bahkan udah bukan rumah lagi buat dia?”
Maria mendekat dan mengg enggam tangannya,“Lo jangan mikir sejauh itu dulu, kita hadapi satu per satu.”
Malam itu ajeng hampir tidak tid ur. Ia memejamkan mata, tapi bayangan-bayangan terus berdatangan.
Pukul tiga dini hari, ia bangun dan duduk di tepi ranja ng. Lampu kota terlihat samar dari balik tirai. Ai r mat anya tidak lagi deras. Hanya sesekali jat uh tanpa suara.
Kem arahan yang tadi menyala kini berubah menjadi tekad.
Kalau Affandi benar-benar berusaha menghilang, ia tidak akan membiarkannya semudah itu.
Pagi datang dengan cepat. Matahari Semarang terasa lebih terik dibanding Jakarta. Ajeng berdiri di dekat jendela, menatap kota itu untuk terakhir kalinya.
“Inilah kota yang kamu pilih,” gumamnya dalam hati.
Maria keluar dari kam ar ma ndi sambil mengeringkan rambut. “Kita check-out sekarang aja ya. Biar ga kena macet panjang.”
Ajeng mengangguk. Kali ini langkahnya lebih mantap.
Perjalanan pulang ke Jakarta terasa berbeda dari kemarin. Jika kemarin dipenuhi harapan dan kecem asan, hari ini hanya ada keheningan.
Maria beberapa kali melirik ajeng “Lo ga apa-apa?”
“Gue ca pek,” jawabnya jujur. “
Jalan tol membentang panjang. Truk-truk besar melintas. Radio mobil sengaja dimatikan. Mereka tengge lam dalam pikiran masing-masing.
Beberapa kali ajeng membuka ponsel, tapi tetap nihil.
Menjelang sore, mereka memasuki Jakarta, lalu lintas mulai padat.
Jan tung Risa tidak lagi berde bar seperti kemarin. Ia justru merasa sedikit tenang.
Mobil berhenti di depan rumahnya.
Rumah itu tampak sama seperti biasa.
Maria mema tikan mesin. “Siap?”
Ajeng mengangguk dan turun.
Saat kunci diputar di lubang pintu, terbuka dengan mudah.
Rumah itu … sunyi.
Ajeng melangkah masuk perlahan.
Ruang tamu rapi seperti terakhir kali ia tinggalkan. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru pulang atau baru pergi.
Maria ikut masuk, menutup pintu di belakangnya.
“Kita cek kam ar,” ucapnya pelan.
Ajeng berjalan menuju kamar tid ur. Tangannya sempat geme tar saat memutar gagang pintu.
Kam ar itu kosong.
Lemari terbuka sedikit. Beberapa pakaian Affandi masih tergantung.
Ajeng menghembuskan napas panjang.
“Dia ga pernah balik ke sini,” katanya datar.
Maria mengangguk pelan. “Kayaknya iya.”
Tidak ada jejak barang baru dipindahkan secara tergesa-gesa. Semua terasa seperti sudah disiapkan sejak lama.
Ajeng duduk di tepi ran jang.
“Jadi waktu kita ke Semarang…” suaranya pelan, “dia mungkin bahkan ga tinggal di sana lagi.”
Maria menyandarkan tubuh di dinding, “ajeng … ini bukan tindakan tiba-tiba, ini terencana.”
Kalimat itu menusuk, tapi justru membuat semuanya terasa jelas.
Maria mendekat, “Lo mau gimana sekarang?”
Ajeng terdiam beberapa detik.
“Aku capek jadi orang yang ditinggal tanpa penjelasan,” lanjut Risa, “Kalau dia pikir bisa menghilang gitu aja … dia salah.”
Ada ketegasan yang belum pernah Maria lihat sebelumnya di mata sahabatnya itu.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu diperiksa, Maria mengambil tasnya.
“Ajeng, gue harus balik dulu. Lo istirahat. Jangan ambil keputusan besar malam ini.”
Ajeng mengangguk.
Maria mem eluknya erat, “Apa pun yang lo butuhin, telepon gue.
Maria menatapnya beberapa detik lagi, memastikan ajeng baik-baik saja, lalu berjalan keluar rumah.
Pintu tertutup.
Sunyi kembali menyelimuti.
Ajeng berdiri sendirian di ruang tamu, menatap rumah yang kini terasa asing.
Ia berjalan ke ruang tengah, meja kerja Affandi ada di sudut ruangan.
Perlahan, ia menarik kursi itu dan duduk.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, ia tidak menan gis.
Ia hanya menatap kosong ke depan, menyusun ulang hid upnya di dalam ke pala.
Jika Affandi memang merencanakan untuk lenyap, berarti ia juga harus merencanakan sesuatu.
Ponselnya kembali ia buka. Ia melihat foto pernikahan mereka di galeri. Senyum yang dulu terasa tulus kini terasa seperti teka-teki.
“Kalau ini permainanmu,” bisiknya pelan, “aku tak akan jadi korb an.”
Sesuatu tiba-tiba menyergap pikirannya, mungkinkah selama ini ia tak pernah benar-benar mengenal pria yang menikahinya.
Perlahan, Ajeng membungkuk ... membuka laci paling bawah meja Affandi. Penemuan foto tempo hari membuat laci meja paling bawah ini luput dari perhatiannya.
Sebuah map cokelat ada di sana, perlahan diambilnya map tersebut dan dibukanya, di dalamnya tersusun rapi lembararan dokumen, ia terus membuka lembaran tersebut, hingga ... tatapannya membeku, kedua alisnya bertaut.
Diraihnya ponsel, ditekannya tombol panggilan.
"Mar! Gue nemuin sesuatu!”
Akhirnya Affandi, membuka mata kunang-kunang nya princess lewat Ajeng dan maria
Ajeng bikin lu error Mar