Matahari di Negeri Wakanda tidak pernah benar-benar bersinar bagi orang-orang seperti Pak Jaka. Baginya, matahari hanyalah tungku api yang memanggang punggung tuanya setiap hari saat ia mengais rejeki dari sisa-sisan tumpukan sampah atau menjadi buruh panggul di pasar induk. Namun hari itu, tungku itu terasa lebih membara. Di rumah gubuknya yang beratap rumbia bocor, cucunya, bocah laki-laki berusia lima tahun bernama Galang, terbaring lemah. Perutnya kempis, matanya cekung, dan bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi.
"Mbah... lapar," rintih Galang. Suaranya hampir tak terdengar, tertutup oleh deru mobil-mobil mewah yang melintas di jalan raya tak jauh dari gubuk mereka.
Pak Jaka merogoh sakunya. Kosong. Hanya ada debu dan secuil harapan yang nyaris padam. Ia sudah berkeliling mencari pinjaman, namun di Wakanda, kemiskinan adalah penyakit menular yang membuat orang lain menjauh. Putus asa adalah racun yang paling mematikan. Dengan langkah gemetar, ia berjalan menuju pinggiran desa, tempat perkebunan luas milik seorang tuan tanah kaya raya—yang konon juga seorang pejabat tinggi—terbentang hijau.
Di sana, di balik pagar kawat yang angkuh, bergelantungan buah-buah labu siam yang segar. Hijau pucat, mengkilap terkena embun sore. Dalam pikiran Pak Jaka yang kalut, ia tidak melihat itu sebagai curian. Ia melihat itu sebagai nyawa untuk Galang. Hanya dua buah. Cukup untuk direbus dan dijadikan pengganjal perut sang cucu malam ini.
Dengan tangan gemetar, ia menyusup lewat celah pagar yang rusak. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang mencoba mencuri mahkota raja. Begitu tangannya menyentuh kulit dingin labu siam itu, sebuah teriakan menggelegar membelah kesunyian.
"WOI! MALING!"
Pak Jaka tersentak. Dua buah labu siam itu sudah ada di pelukannya. Ia mencoba lari, namun kaki tuanya yang renta tak sanggup bersaing dengan langkah tegap seorang penjaga kebun bernama Baron. Baron bukan sekadar penjaga; ia adalah pria bertubuh besar dengan hati yang telah membatu oleh perintah majikannya: jangan beri ampun pada siapapun yang menyentuh harta ini.
Bugh!
Satu hantaman sepatu lars mendarat tepat di punggung Pak Jaka. Tubuh ringkih itu tersungkur ke tanah yang becek. Dua buah labu siam itu terlepas, menggelinding di atas tanah, kotor oleh lumpur.
"Ampun, Pak... Ampun... Cucuku lapar," rintih Pak Jaka, wajahnya mencium tanah.
Namun, di Wakanda yang sedang sakit, kata "ampun" adalah barang langka yang harganya lebih mahal dari emas. Baron tidak mendengar. Ia hanya melihat seorang pencuri yang harus diberi pelajaran. Baginya, menghajar orang miskin adalah cara menunjukkan loyalitas pada tuannya.
Pukulan demi pukulan mendarat. Bunyi tulang yang retak beradu dengan suara tawa ejekan Baron. Pak Jaka tidak lagi bisa berteriak. Kesadarannya mulai mengabur. Dalam sisa-sisa pandangannya yang berbayang merah karena darah, ia melihat dua buah labu siam itu. Buah yang harganya mungkin tak sampai sepuluh ribu rupiah, namun kini dibayar dengan nyawanya.
"Ini buat kamu yang sudah berani mengotori kebun Tuan Besar!" teriak Baron sembari mengayunkan balok kayu tepat ke arah kepala Pak Jaka.
Hening.
Pak Jaka tidak lagi bergerak. Ia meninggal di atas tanah yang subur, di samping buah yang ia curi demi cinta, di bawah langit Wakanda yang tetap membisu.
---
Kematian Pak Jaka seharusnya menjadi berita duka yang menggetarkan nurani. Namun, di Wakanda, keadilan memiliki timbangan yang unik. Timbangannya tidak mengukur berat kebenaran, melainkan berat kantong pelakunya.
Kasus ini sampai ke meja hijau setelah warga desa yang iba mendesak polisi. Di ruang sidang yang megah, berpendingin udara dingin yang menusuk tulang, drama ketidakadilan dimulai. Baron duduk di kursi terdakwa dengan setelan rapi, didampingi oleh tim pengacara mahal yang disewa oleh sang pemilik kebun.
Di sudut lain, Galang, sang cucu, duduk termenung dengan baju yang kebesaran. Ia tidak mengerti kenapa kakeknya harus pergi selamanya hanya karena dua buah sayuran hijau.
Jaksa penuntut umum membacakan tuntutan dengan nada yang datar, seolah-olah ia sedang membacakan menu restoran. "Terdakwa Baron melakukan pembelaan diri terhadap pencuri yang mencoba melakukan perlawanan."
Saksi-saksi yang dihadirkan adalah sesama penjaga kebun. Mereka semua memberikan kesaksian yang sama, sebuah skenario yang telah disusun rapi: Pak Jaka membawa senjata tajam (padahal hanya sebilah pisau kecil pengupas bawang yang sudah karatan), Pak Jaka menyerang duluan, Baron hanya membela diri.
"Tapi kakek saya tidak pernah berkelahi!" teriak seorang tetangga Pak Jaka dari kursi penonton.
Tok! Tok! Tok!
"Harap tenang! Ini ruang sidang yang mulia!" bentak Hakim Ketua dengan wajah ketus.
Pengacara Baron berdiri dengan angkuh. "Yang Mulia, kita harus melihat ini dari sudut pandang hukum properti. Pencurian adalah tindak pidana serius. Klien saya hanya menjalankan tugas untuk melindungi aset milik warga negara yang terhormat. Jika setiap pencuri dibiarkan, maka hancurlah tatanan ekonomi negeri ini."
Ironi yang menyesakkan dada: hidup seorang kakek tua dianggap lebih murah daripada "tatanan ekonomi" yang diwakili oleh dua buah labu siam.
Satu bulan kemudian, putusan dijatuhkan. Ruang sidang penuh sesak oleh aroma parfum mahal dari pihak pemilik kebun dan aroma keringat serta air mata dari warga miskin yang berharap pada secercah mukjizat.
"Menimbang bahwa terdakwa tidak berniat membunuh dan hanya melakukan pembelaan diri yang berlebihan, serta adanya perdamaian secara sepihak dengan pemberian uang santunan..." Hakim berhenti sejenak, membetulkan kacamatanya. "...Maka, mengadili: Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Baron selama 6 bulan masa percobaan."
Hening sejenak, lalu riuh rendah suara kekecewaan meledak.
Enam bulan masa percobaan. Artinya, Baron tidak akan pernah masuk penjara. Ia bebas melenggang pulang, kembali menjaga kebun, kembali menghirup udara segar seolah-olah darah Pak Jaka yang tumpah hanyalah noda teh yang bisa dilap.
Sementara itu, di sebuah sudut kota yang kumuh, seorang pejabat tinggi yang juga pemilik kebun itu sedang bersulang sampanye dengan para koleganya. Di hari yang sama, ada berita tentang seorang koruptor yang mencuri uang rakyat triliunan rupiah hanya divonis penjara satu tahun di sel mewah dengan fasilitas bak hotel berbintang.
Di Wakanda, hukum adalah jaring laba-laba. Ia hanya mampu menangkap lalat-lalat kecil, namun hancur berantakan saat ditabrak oleh burung-burung besar.
Galang pulang ke gubuknya sendirian sore itu. Di tangannya, ia memegang sebuah bungkusan plastik berisi nasi pemberian tetangga. Ia berjalan melewati makam kakeknya yang hanya berupa gundukan tanah tanpa nisan.
Bocah itu berhenti sejenak. Ia melihat ke arah perkebunan labu siam yang masih berdiri angkuh di kejauhan. Dengan polosnya, Galang bertanya pada angin, "Kenapa labu itu lebih mahal dari nyawa Simbah, ya?"
Angin tidak menjawab. Langit Wakanda tetap gelap, menelan pertanyaan seorang yatim piatu yang kini harus tumbuh besar di sebuah negeri di mana keadilan hanyalah sebuah dongeng yang dibacakan sebelum tidur oleh orang-orang kaya untuk menenangkan hati mereka sendiri.
Pak Jaka telah tiada. Labu siam itu mungkin sudah busuk atau sudah dimakan oleh orang lain. Namun, bau busuk dari ketidakadilan hukum di Wakanda akan tetap tercium, menyengat hingga ke tulang sumsum, mengingatkan siapa saja bahwa di negeri ini: lebih baik menjadi penjahat besar daripada menjadi orang miskin yang lapar.
---