Matahari terbenam di ufuk Samudra Pasifik, menyisuhkan warna jingga yang memantul di atas atap-atap vila mewah milik keluarga besar High Chief Tufuga. Di Kepulauan Savai’i—sebuah negeri fiksi yang tanahnya subur namun rakyatnya kerdil karena kemiskinan—Tufuga bukan sekadar Bupati atau pemimpin daerah; ia adalah hukum itu sendiri.
Tiga belas tahun Tufuga berkuasa, dan selama itu pula, urat nadi ekonomi Savai’i telah dibajak. Ia tidak merampok bank dengan senjata; ia merampok masa depan rakyatnya dengan pulpen, stempel dinas, dan kartu keluarga.
---
Semua bermula dari sebuah entitas hantu bernama "Vaitupu Prosperity Group" (VPG). Di atas kertas, VPG adalah perusahaan konsultan konstruksi dan pengadaan barang kelas dunia. Namun, jika seseorang cukup berani menyelinap ke kantor pusatnya di Funafuti Road, mereka hanya akan menemukan sebuah rumah tua dengan satu komputer dan seorang sekretaris yang tak lain adalah keponakan kandung Tufuga, Losa.
Trik Tufuga sangat rapi, sistematis, dan membuat siapa pun yang memiliki nurani akan merasa mual. Strateginya disebut sebagai "Lingkaran Suci Savai’i".
Setiap tahun, pemerintah pusat mengucurkan dana hibah jutaan Tala untuk pembangunan infrastruktur: jalan raya, jembatan, hingga pengadaan alat medis di puskesmas-puskesmas terpencil. Di sinilah mesin KKN Tufuga bekerja. Melalui Sione, adik kandung Tufuga yang menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah, seluruh spesifikasi lelang proyek didesain agar hanya bisa dipenuhi oleh VPG.
"Sione," bisik Tufuga dalam rapat keluarga di meja makan yang penuh dengan lobster dan anggur impor, sementara di luar sana rakyatnya antre beras raskin. "Pastikan syarat lelang pembangunan dermaga baru mencantumkan sertifikasi alat berat 'Samoa-X'. Hanya perusahaan Mika, anakmu, yang punya lisensi itu."
Mika, pemuda berusia 24 tahun yang hobi memamerkan mobil sport di media sosial, ditunjuk sebagai Direktur Operasional VPG. Ia tidak tahu apa-apa tentang beton atau aspal. Yang ia tahu hanyalah menandatangani kuitansi kosong dan memastikan kickback sebesar 40% masuk ke rekening penampungan di luar negeri atas nama nenek mereka yang sudah pikun.
---
Kebusukan ini mencapai puncaknya saat proyek "Rumah Sakit Persahabatan Tuvalu-Samoa" dicanangkan. Ini adalah proyek prestisius senilai 500 miliar Tala. Tufuga tidak ingin setetes pun uang itu jatuh ke tangan kontraktor luar yang jujur.
Ia memerintahkan Fia, istrinya yang menjabat sebagai Ketua Penggerak PKK sekaligus "Bendahara Bayangan" dinasti, untuk mendirikan lima perusahaan cangkang baru dalam semalam. Perusahaan-perusahaan ini diberi nama-nama yang terdengar agung: Pacific Guardian, Coral Reef Works, dan Oceanic Trust.
Saat tender dibuka, kelima perusahaan ini mendaftar. Publik melihat adanya kompetisi, namun kenyataannya, itu adalah sandiwara meja makan. Perusahaan A mengajukan harga tinggi, Perusahaan B lebih tinggi lagi, dan akhirnya VPG milik keluarga Tufuga muncul sebagai "pemenang" dengan harga yang seolah-olah paling rasional—padahal sudah digelembungkan (mark-up) hingga 300%.
"Bagaimana dengan pengawasannya, Ayah?" tanya Mika saat mereka bersantai di kolam renang pribadi.
Tufuga tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang. "Siapa yang mau mengawasi? Kepala Inspektorat adalah sepupumu, Patu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum adalah Talo, iparku. Mereka semua makan dari piring yang sama. Jika ada LSM yang berisik, suruh Viliamu, komandan satpol PP yang juga keponakan jauh kita, untuk 'mengajak mereka bicara' di hutan bakau."
Inilah akutnya KKN di Savai’i. Kekuasaan itu tidak lagi berbentuk piramida, tapi lingkaran setan. Tidak ada pintu masuk bagi kebenaran karena semua lubang kunci telah disumpal dengan uang hasil keringat rakyat.
---
Trik money laundering (pencucian uang) yang dilakukan keluarga Tufuga jauh lebih canggih daripada sekadar menumpuk uang di bawah kasur. Fia, sang istri, memiliki hobi baru: mengoleksi tanah adat dan properti di ibu kota.
Setiap kali uang proyek cair, Sione akan mengirimkan dana tersebut ke perusahaan logistik milik Loto—saudara kandung Fia. Uang itu dicatat sebagai "biaya sewa alat berat" yang fiktif. Dari Loto, uang dikirim lagi ke yayasan sosial "Cahaya Savai’i" yang dikelola oleh anak perempuan Tufuga, Sina. Yayasan ini sering mengadakan acara amal yang tampak mulia, padahal itu hanyalah kedok untuk mencuci uang haram menjadi uang "donasi" yang bersih.
Rakyat melihat Sina sebagai malaikat yang sering membagikan sembako, tanpa sadar bahwa sembako itu dibeli dengan uang yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah anak-anak mereka yang atapnya bocor.
Muak adalah kata yang terlalu lembut untuk menggambarkan perasaan para pegawai rendahan di kantor bupati. Mereka melihat bagaimana Talo (sang Kepala Dinas) memaksa setiap kontraktor kecil untuk membeli aspal dan semen hanya dari toko bangunan milik istri Talo sendiri. Jika tidak, izin usaha mereka akan dipersulit hingga bangkrut. Monopoli ini terjadi di segala lini, dari urusan aspal hingga pengadaan seragam sekolah.
Suatu sore, seorang jurnalis muda bernama Taufa mencoba menelusuri aliran dana proyek jembatan yang ambruk hanya dalam enam bulan setelah diresmikan. Jembatan itu adalah hasil kerja VPG. Investigasi Taufa menemukan bahwa semen yang digunakan berkualitas rendah, jauh dari spesifikasi, karena anggarannya telah habis dikorupsi oleh Mika dan Sione untuk membeli apartemen di Sydney.
Namun, sebelum berita itu terbit, Taufa mendapati rumahnya dikepung. Bukan oleh pencuri, tapi oleh preman berseragam atas perintah Viliamu. Kamera dan laptopnya disita. Keesokan harinya, Taufa dituduh melakukan pencemaran nama baik sang High Chief. Di negeri Savai’i, mengkritik Tufuga adalah dosa besar yang lebih berat daripada mencuri.
---
Pesta pora keluarga Tufuga seolah tak ada habisnya. Saat ulang tahun pernikahan Tufuga dan Fia, mereka menutup jalan utama selama tiga hari. Artis-artis dari luar negeri didatangkan. Makanan sisa dari pesta itu bisa memberi makan satu desa selama sebulan, namun semuanya dibuang ke tempat sampah sementara pengemis di luar pagar hanya bisa menghirup aroma daging panggang.
"Kita abadi, Tufuga," bisik Fia sambil mengenakan kalung berlian yang harganya setara dengan biaya operasional sepuluh puskesmas selama setahun.
"Selama keluarga kita memegang kunci brankas dan kunci penjara, tidak akan ada yang bisa menyentuh kita," jawab Tufuga penuh percaya diri.
Namun, sejarah punya cara sendiri untuk meruntuhkan menara gading yang dibangun dari lumpur dosa. Sebuah lembaga antikorupsi tingkat pusat—yang selama ini disuap oleh Tufuga—ternyata telah disusupi oleh agen-agen baru yang jujur. Mereka diam-diam menyadap pembicaraan di meja makan keluarga itu. Mereka merekam setiap instruksi penggelembungan dana, setiap tawa saat membahas jembatan yang ambruk, dan setiap transaksi mencurigakan ke rekening para keponakan.
Operasi senyap itu dimulai pada subuh yang tenang. Ketika Tufuga masih mendengkur di balik selimut sutranya, dan Mika masih teler setelah pesta di kelab malam, sirine menderu memecah kesunyian Savai’i.
Satu per satu anggota dinasti itu digelandang. Sione yang sedang menghitung uang haram di ruang kerjanya, Patu yang sedang memalsukan laporan inspektorat, hingga Sina yang sedang bersiap melakukan pencitraan di yayasannya.
Saat Tufuga dibawa keluar dari vilanya dengan tangan terborgol, ia masih sempat berteriak, "Kalian tahu siapa saya? Saya adalah Savai’i! Tanpa saya, negeri ini tidak punya apa-apa!"
Seorang warga tua yang sedang menyapu jalan di depan vila itu berhenti. Ia menatap Tufuga dengan mata yang lelah namun penuh kemenangan. Ia meludah ke tanah dan berkata pelan, "Tanpamu, negeri ini akhirnya bisa bernapas, Tufuga."
Gajah-gajah korupsi itu akhirnya tumbang. Namun, luka yang mereka tinggalkan di Savai’i terlalu dalam. Butuh puluhan tahun untuk memperbaiki jembatan yang ambruk, sekolah yang rusak, dan hati rakyat yang telah dikhianati oleh mereka yang seharusnya melayani.
Cerita tentang Dinasti Tufuga menjadi legenda hitam di Pasifik—sebuah peringatan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas KKN keluarga mungkin bisa membeli kemewahan, tetapi ia tidak akan pernah bisa membeli kehormatan. Dan pada akhirnya, penjara adalah satu-satunya rumah yang layak bagi mereka yang memakan hak-hak orang miskin demi memperkaya garis keturunan mereka sendiri.
---