Menjadi seorang wanita sangat tidak mudah, kenapa karena butuh perhatian extra termasuk biaya baju yang lucu, penik yang lucu, boneka yang lucu, segala keinginannya
Tepat di September ceria malaikat kecil bapak lahir dy teramat imut saking imutnya seperti botol
Bukan tuyul tapi emang prematur seaneh itu
Dy sekarang sudah besar awal tinggal di bandung, Jiung mengikuti ajaran untuk berpindah tempat
Percakapan ibu, bapak dan kiya
Kiya:"kiya udah berapa kali pulang dari taman kanak-kanak kerumah mas Yossi terus pak sama mama"
Bapak:"yaudah yg penting ditemani mama"
Lola ambil pohon jambu dibelakang
Dy diam loh mama jadi nemenin, hayuk
“Aku dokter koas miskin… dan hidupku berubah dalam satu malam berda rah.”
Bab 1
“Dok … tolong buka pintunya, cepat!”
Suara gebukan keras menggema dari luar klinik kecil yang hampir sepi pasien malam itu. Kiya yang baru saja membereskan meja kerja terlonjak kaget. Jarum suntik di tangannya jatuh, berputar di lantai.
Ia mendekati pintu pelan-pelan.
“Sudah malam, klinik tutup! Besok pagi saja kalau mau periksa!” serunya dengan suara dibuat setegar mungkin.
Brak! Satu tendangan membuat daun pintu bergetar hebat. Kiya terhuyung mundur, jantungnya berdetak gila.
“Cepat buka, atau kami dobrak! Nyawa seseorang sedang dipertaruhkan!” suara lelaki berat, kasar, tapi panik.
Kiya menelan ludah. Tangannya gemetar meraih gagang pintu. Begitu terbuka, empat pria berjas hitam langsung menerobos masuk. Wajah mereka keras, mata liar, penuh keringat dan noda da rah.
“Ya Allah …” desah Kiya, tu buhnya otomatis mundur beberapa langkah.
Di antara mereka, seorang pria bertu buh tinggi digotong dengan tu buh penuh da rah. Baju putihnya koyak, kulit dadanya robek-robek, bercak merah pekat menetes deras ke lantai.
“Letakkan di sini!” salah satu lelaki berambut cepak mendorong meja periksa Kiya hingga bergeser menimbulkan decit nyaring. Mereka menghempaskan tubuh pria itu di sana.
“Dok, cepat lakukan sesuatu! Dia harus hidup!” suara ancaman terdengar jelas.
Kiya berdiri kaku. Tu buh pasien itu nyaris tak bergerak, hanya napasnya tersengal, wajah pucat, dan matanya setengah terbuka—mata tajam, dingin, seperti mata harimau yang menunggu mangsa. Seketika bulu kuduk Kiya meremang.
“Apa-apaan ini? Kalian pikir di sini rumah sakit besar? Fasilitas di sini terbatas!” Kiya berusaha mengatur napas.
“Kami tidak peduli. Kau dokter, kan? Dokter atau apa pun, kau harus bisa. Kalau sampai dia mati di meja ini, kau ikut ma ti.” Suara berat itu seperti palu menghantam dadanya.
Kiya menelan ludah. “Aku … aku butuh alat, butuh jahitan steril, ini …”
Pria berambut cepak mendekat, mencengkeram bahu Kiya kasar. “Kami sudah sediakan semuanya. Lakukan. Sekarang.”
Tangannya didorong ke atas meja. Kiya menatap tubuh penuh luka tusukan itu. Jumlahnya belasan, mungkin puluhan. Da rah mengalir deras dari sisi perut, menghitamkan kain sprei putih klinik. Bau besi menusuk hidung.
“Ya Allah …” gumam Kiya lirih, tangannya bergetar.
Tiba-tiba pria di meja itu bergerak. Bibirnya berda rah, tapi ia berusaha tersenyum samar. “Tenang … aku … nggak akan ma ti semudah itu …” suaranya rendah, serak, namun ada wibawa dingin yang membuat Kiya tak mampu berpaling.
Kiya terpaku. “Anda masih sadar?”
“Ya iyalah …” Pria itu mencoba menoleh, menatapnya lekat. “Buktikan kalau kau memang dokter … jangan biarkan aku ma ti.”
Deg. Ada sesuatu pada tatapan itu—tajam, menusuk, penuh rahasia. Seolah mata itu menyingkap isi pikirannya.
Kiya buru-buru meraih sarung tangan. “Oke, aku akan coba … tapi jangan ganggu aku!” katanya keras, lebih pada dirinya sendiri daripada orang lain.
Ia membersihkan luka dengan cairan antiseptik, tangannya gemetar. Da rah terus keluar, meski ia tekan kuat dengan kasa.
“Dia butuh transfusi da rah, ini berbahaya,” kata Kiya.
“Lakukan apa pun yang bisa kau lakukan,” ujar salah satu pengawal. “Kalau dia ma ti, habis riwayatmu.”
“Jangan—jangan ancam aku saat aku sedang berusaha!” Kiya membentak tak sadar. Suaranya memantul di ruangan sempit itu. Para pria berjas saling pandang, heran seorang gadis kurus bisa berani membentak mereka.
Pria di meja itu terkekeh lemah, batuk da rah. “Wah keren … kau bukan gadis biasa.”
“Diam! Anda harus menghemat energi kalau mau selamat,” Kiya mendekatkan jarum jahit pada luka di dadanya. Tangannya kaku, tapi ia paksa fokus.
Jarum menusuk kulit. Pria itu hanya meringis sebentar, lalu kembali menatapnya dalam diam. Tidak ada teriakan, tidak ada rengekan. Hanya tatapan dingin penuh misteri.
Kiya mendesah pelan, menyeka keringat di dahi. ‘Siapa sebenarnya orang ini?’ batinnya.
Salah satu pria berjas menjawab seolah membaca pikirannya. “Jaga mulutmu, Dok. Jangan tanya macam-macam.”
“Aku berhak tahu siapa pasienku,” Kiya menatap tajam.
Sunyi sesaat. Hanya suara gunting kecil dan tarikan napas berat yang terdengar. Lalu pria berambut cepak menunduk, suaranya berat.
“Dia … orang yang nggak boleh ma ti malam ini. Itu saja.”
Kiya menahan napas, merasakan hawa asing menyusup. Jantungnya berdebar tak karuan. Bukan hanya karena ketakutan, tapi juga karena firasat buruk.
Jarum terakhir ditarik, benang dipotong. Kiya menekan luka dengan kasa, memastikan da rah berhenti.
“Untuk sementara … selesai.”
Pria itu membuka mata lagi, menatapnya. Senyum samar terukir di wajah pucatnya. “Kau berhasil, gadis cantik …”
Kiya melempar sarung tangan ke tempat sampah. “Anda harus istirahat total. Kalau penda rahan dalam nggak berhenti, aku nggak bisa menjanjikan apa pun.”
“Udah … aku percaya sama kamu,” katanya lirih.
Percaya? Kata itu membuat Kiya tercekat. Orang asing, penuh luka, dengan aura berbahaya, justru mempercayainya?
Belum sempat ia berpikir, salah satu pengawal menyodorkan amplop tebal di meja. “Untuk jasamu malam ini. Jangan berani cerita ke siapa pun.”
Kiya menatap amplop itu dengan jijik. “Aku bukan dokter gampangan. Aku lakukan ini karena kewajiban.”
Pria di meja itu tertawa kecil meski da rah masih menetes di sudut bibir. “Wow menarik juga ya kamu …” katanya sebelum matanya terpejam.
Kiya menatapnya lekat-lekat. Hatinya bergetar aneh.
“Hei, kau apakan bos kami!” bentak salah satu pengawal melangkah maju menarik kerah baju Kiya.
Gadis itu diam membeku, ketak utan.
Bersambung ...