Arika Salsadila tidak akan pernah lupa bau itu. Bau campuran antara keringat masam, semen murah, dan sisa rokok kretek yang menempel di napas Reno. Baginya, itu adalah aroma kematian. Lima tahun lalu, Arika hanyalah seorang istri yang terkurung dalam rumah petak sempit. Reno, suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan, memperlakukannya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek pelampiasan amarah dan syahwat yang sakit.
Setiap kali Reno pulang dengan tangan yang kasar dan pecah-pecah karena mengaduk semen, Arika tahu neraka akan dimulai. Reno gemar menyiksanya saat berhubungan—sebuah cara untuk merasa berkuasa karena di tempat kerja dia hanyalah bawahan yang diinjak-injak. Reno akan mencengkeram rahang Arika hingga memar, membisikkan kata-kata kotor, dan memastikan Arika menangis sebelum dia merasa puas. Tanpa anak, tanpa perlindungan keluarga, Arika sendirian.
Hingga suatu malam, setelah Reno memukulnya hingga pingsan karena kopi yang kurang manis, Arika melarikan diri hanya dengan pakaian di badan. Dia bersumpah: Semen yang kau aduk akan menjadi nisanmu sendiri, Reno.
Lima tahun berlalu. Arika Salsadila yang lama sudah mati. Melalui kerja keras yang gila di perantauan, tabungan yang ketat, dan keberuntungan di dunia investasi properti, dia kini dikenal sebagai Salsa, seorang pengembang real estate yang dingin dan misterius. Wajahnya telah berubah berkat prosedur kosmetik yang halus; hidungnya lebih tegas, matanya lebih tajam, menutupi bekas luka di pelipis yang dulu diakibatkan oleh hantaman palu Reno.
Dia tidak pernah lupa tujuannya. Dia menyewa detektif swasta untuk menemukan Reno. Mantan suaminya itu masih sama: kuli bangunan lepas yang sering mabuk, berjudi, dan kini tinggal di bedeng-bedeng proyek pinggiran kota. Reno tidak maju sedikit pun, sementara Arika sudah berada di puncak piramida.
Arika menyusun rencana. Dia membeli sebuah lahan tua di daerah terpencil yang dikelilingi tembok tinggi—sebuah bekas gudang kimia. Dia ingin membangun "proyek pribadi" di sana. Dan dia butuh kuli. Kuli yang paling kuat, paling kasar, dan paling tidak punya masa depan.
Reno tidak mengenali wanita yang turun dari mobil SUV hitam mengkilap itu. Baginya, wanita di depannya adalah "Bos Salsa", majikan kaya raya yang menawarkan upah sepuluh kali lipat untuk proyek renovasi gudang rahasia.
"Namamu Reno?" tanya Arika, suaranya kini berat dan berwibawa, sangat berbeda dengan suara gemetar yang dulu memohon ampun.
"Benar, Bu Bos. Apa saja yang perlu saya hancurkan?" jawab Reno dengan seringai yang masih sama menjijikkannya.
Selama satu bulan, Arika membiarkan Reno bekerja di bawah pengawasannya. Dia menikmati pemandangan itu: Reno yang kepanasan, Reno yang memikul beban berat, Reno yang membungkuk di kakinya untuk menerima upah harian. Arika sering memberi Reno minuman keras setelah kerja, memancingnya untuk bercerita tentang masa lalunya.
"Dulu saya punya istri, Bu," kata Reno suatu malam saat mabuk. "Wanita lemah. Enak sekali disiksa. Sayang dia kabur. Kalau ketemu, akan saya patahkan kakinya."
Arika tersenyum di balik kegelapan. Gelasnya berdenting pelan. "Oh, begitu? Mari kita lihat siapa yang kakinya akan patah kali ini."
Malam itu, hujan turun deras. Proyek "Gudang" itu sudah hampir selesai. Bagian tengah gudang itu memiliki sebuah ruangan kedap suara dengan lantai yang sengaja dibiarkan berlubang, siap untuk dicor.
Arika memanggil Reno ke ruangan itu dengan alasan ada kebocoran pipa bawah tanah. Saat Reno membungkuk memeriksa lubang di lantai, sebuah alat kejut listrik menghantam tengkuknya. Reno tersungkur, lumpuh seketika.
Saat Reno terbangun, dia mendapati dirinya terikat di kursi besi yang dipaku ke lantai beton. Lampu sorot tunggal menghantam wajahnya. Di depannya, Arika berdiri, memegang palu besar—palu yang sama yang dulu digunakan Reno untuk menghancurkan barang-barang di rumah mereka.
"Siapa kau?!" teriak Reno panik.
Arika mendekat, melepaskan lensa kontaknya dan menghapus sedikit riasannya, menunjukkan bekas luka samar yang sengaja dia simpan sebagai pengingat. "Kau bilang kau ingin mematahkan kakiku, Reno? Ini aku. Arika. 'Wanita lemah' yang kau injak-injak dulu."
Wajah Reno memucat. Ketakutan yang murni terpancar dari matanya.
"A... Arika? Tolong, maafkan aku! Itu masa lalu!"
"Masa lalu bagimu adalah napas hidupku setiap hari," bisik Arika.
Arika tidak membunuhnya dengan cepat. Dia memulai dengan apa yang Reno lakukan padanya. Dengan presisi yang dingin, dia menghancurkan jari-jari tangan Reno satu per satu menggunakan palu. Setiap jeritan Reno diredam oleh dinding kedap suara yang dibangun oleh tangan Reno sendiri.
"Dulu kau suka menyiksaku saat kita 'berhubungan', bukan? Kau bilang itu seni," kata Arika sambil menyalakan mesin pengaduk semen (molen) di sudut ruangan. "Sekarang, aku akan menunjukkan padamu seni konstruksi yang sesungguhnya."
Arika mengarahkan pipa molen itu tepat ke arah lubang tempat kursi Reno berada. Semen basah mulai mengalir perlahan, menelan kaki Reno.
"Semen ini akan mengeras, Reno. Sama seperti hatiku yang kau buat membatu."
Reno memohon, menangis, dan mengutuk hingga suaranya habis. Semen itu naik ke lututnya, ke pinggangnya, lalu ke dadanya. Arika berdiri di sana, menonton dengan tenang, menyesap air mineral seolah sedang menonton pertunjukan teater.
"Kau tahu kenapa kita tidak punya anak, Reno?" Arika berbisik di telinga Reno saat semen mencapai leher pria itu. "Karena Tuhan tidak ingin darah iblis sepertimu mengalir di rahim siapa pun. Aku sudah mengangkat rahimku setahun setelah kabur darimu. Kau tidak hanya menghancurkan tubuhku, kau menghancurkan masa depanku sebagai ibu. Jadi, ini adalah bayaran yang adil."
Saat semen mulai menutupi mulut Reno, Arika meletakkan nisan kecil di atas adukan semen yang masih basah. Nisan itu bertuliskan: "DI SINI TERKUBUR SEORANG PENGECUT."
Arika berjalan keluar dari gudang itu. Dia mengganti pakaiannya dengan gaun sutra yang bersih, membakar baju kerjanya, dan masuk ke dalam mobil. Dia tidak menoleh ke belakang. Proyek gudang itu akan segera ditutup secara permanen dengan beton masif setebal dua meter. Reno akan menjadi bagian dari fondasi bangunan itu selamanya—tak ditemukan, tak diingat.
Dendam itu telah terbalas tuntas. Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Arika Salsadila tidur dengan sangat nyenyak tanpa mimpi buruk tentang bau semen.
---