Di sebuah sudut kota Hamamatsu yang selalu dideru angin musim dingin, sebuah rumah kayu tradisional berdiri dengan keangkuhan yang mulai rapuh. Di dalamnya, tinggal Nenek Sato, seorang wanita berusia 88 tahun yang punggungnya sudah melengkung menyerupai busur panah. Ia adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu—mantan guru piano yang jemarinya kini kaku, lebih mirip ranting kering daripada alat musik.
Lalu ada Siti. Perempuan berusia 25 tahun asal Indramayu yang datang dengan tas ransel berisi mimpi-mimpi sederhana: melunasi utang sawah orang tuanya dan membelikan adiknya sebuah laptop. Siti adalah "tangan dan kaki" bagi Nenek Sato. Ia yang menyeka tubuh keriput itu setiap pagi, menyuapkan bubur beras lembut, dan memastikan Nenek Sato tidak lupa meminum pil-pil warna-warni yang menjaganya tetap hidup.
Hubungan mereka adalah tarian kesunyian. Nenek Sato jarang bicara. Jika bicara pun, suaranya ketus, penuh dengan kritik tentang bagaimana Siti melipat yukata atau betapa masakan Siti terlalu banyak menggunakan rempah yang aromanya "mengganggu" penciumannya yang puritan.
"Siti-san," panggil Nenek Sato suatu sore, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan guguran daun kering. "Jangan terlalu banyak berdoa di kamarmu. Suara gumamanmu itu membuat hantu-hantu di rumah ini terbangun."
Siti hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman khas pekerja migran yang sudah menelan ribuan kata-kata kasar demi kiriman uang bulanan. "Maaf, Nenek Sato. Saya hanya mendoakan kesehatan Nenek."
"Kesehatan? Aku sudah terlalu lama hidup," sahut Nenek Sato sinis. "Hidup tanpa anak-anak yang berkunjung adalah hukuman, bukan anugerah. Kamu di sini karena dibayar. Jangan berpura-pura peduli."
Kalimat itu menancap di hati Siti, tapi ia tidak melepas pelukannya saat harus menggendong tubuh ringan Nenek Sato ke tempat tidur. Siti sering bertanya-tanya, mengapa wanita sekaya Nenek Sato, dengan rumah sebesar ini dan koleksi keramik antik yang mahal, bisa begitu kesepian? Mengapa tiga anaknya yang sukses di Tokyo dan Osaka hanya mengirimkan kartu ucapan saat tahun baru, tanpa pernah sekali pun menginjakkan kaki di lantai kayu yang mulai berderit.
Suatu hari, saat sedang membersihkan gudang bawah tanah yang pengap, Siti menemukan sebuah album foto bersampul hitam dengan lambang matahari terbit yang sudah memudar. Di dalamnya, tidak ada foto-foto piano atau konser megah. Sebaliknya, album itu penuh dengan foto-foto hitam putih yang diambil di daerah tropis.
Siti tertegun. Ada foto Nenek Sato saat muda, mengenakan seragam perawat, berdiri di depan sebuah bangunan yang tampak sangat akrab di mata Siti. Bangunan itu bergaya kolonial, dengan pohon jati besar di sampingnya.
Semarang, 1944.
Tulisan tangan di bawah foto itu membuat Siti merinding. Nenek Sato pernah di Indonesia? Mengapa ia tidak pernah menceritakannya? Mengapa ia selalu bersikap seolah-olah Siti adalah makhluk dari planet asing yang bahasa dan aromanya ia benci?
Rasa penasaran Siti memuncak. Ia mulai memperhatikan detail kecil di rumah itu. Nenek Sato sering kali menghabiskan waktu berjam-jam menatap sebuah kotak kayu kecil yang terkunci di atas rak buku. Setiap kali Siti mendekat, Nenek Sato akan menutupinya dengan selimut.
Ketegangan mencapai puncaknya di suatu malam musim dingin yang sangat mencekam. Listrik padam karena badai salju. Suhu ruangan merosot tajam. Nenek Sato mulai menggigil hebat dalam tidurnya, meracau dalam bahasa yang tidak dimengerti Siti—tapi sesekali, sebuah kata meluncur dari bibir keriput itu yang membuat Siti membeku.
"Melati... maafkan... Melati..."
Itu bukan bahasa Jepang. Itu bahasa Indonesia.
---
Pagi harinya, saat salju mulai mereda, Nenek Sato memanggil Siti ke kamarnya. Kali ini, sorot matanya tidak tajam. Matanya basah. Ia memegang kotak kayu kecil yang selalu ia sembunyikan.
"Siti-san," suara Nenek Sato bergetar. "Aku tahu kamu menemukan album itu. Aku tahu kamu melihat Semarang."
Siti terdiam, tidak berani menyela.
"Dulu, saat perang, aku dikirim ke sana sebagai perawat militer. Aku masih sangat muda, mungkin seusiamu. Aku ditugaskan di sebuah rumah sakit lapangan. Di sana, aku bertemu dengan seorang perempuan lokal bernama Melati. Dia bukan pasien, dia adalah pelayan di sana. Kami berteman diam-diam."
Nenek Sato menarik napas panjang, seolah-olah setiap kata adalah beban yang amat berat.
"Melati memberiku makanan saat persediaan kami habis. Dia mengajariku kata-kata sederhana dalam bahasamu. Dia adalah satu-satunya manusia yang memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti alat perang. Tapi suatu malam, saat penarikan pasukan terjadi... terjadi kekacauan. Pasukanku melakukan sesuatu yang mengerikan. Aku melihat Melati diseret, dan aku... aku hanya diam. Aku takut. Aku masuk ke truk dan membiarkan satu-satunya sahabatku hilang dalam kegelapan."
Nenek Sato membuka kotak kayu itu. Di dalamnya ada sebuah tusuk konde perak bermotif bunga melati, khas kerajinan Jawa kuno.
"Aku membawa ini sebagai pengingat akan kepengecutanku. Selama 80 tahun, aku membenci aroma rempahmu, membenci doamu, karena semuanya mengingatkanku pada Melati. Mengingatkanku bahwa aku berutang nyawa pada bangsamu, tapi aku membalasnya dengan diam."
Nenek Sato menatap Siti dengan penuh penyesalan. "Alasan anak-anakku tidak mengunjungiku bukan karena mereka sibuk, Siti. Tapi karena aku mengusir mereka. Aku tidak ingin mereka mewarisi dosa masa laluku. Aku ingin mati dalam kesepian sebagai hukuman."
---
Siti mengambil tusuk konde itu. Jemarinya gemetar hebat. Ia mengeluarkan dompetnya yang lusuh, mengambil sebuah foto tua yang selalu ia bawa dari kampung halaman. Foto nenek buyutnya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
"Nenek Sato," bisik Siti, suaranya pecah oleh isak tangis. "Nama nenek buyut saya adalah Melati. Dia selalu bercerita tentang seorang perawat Jepang yang baik hati, yang diam-diam memberinya obat saat dia sakit paru-paru di barak."
Nenek Sato terbelalak. Waktunya seolah berhenti.
"Nenek buyut saya selamat, Nek. Dia berhasil lari malam itu. Dia selalu berkata bahwa tusuk konde peraknya hilang, mungkin terjatuh saat dia dikejar. Tapi dia selalu mendoakan perawat itu agar panjang umur dan bisa bertemu lagi."
Ternyata, Siti tidak dikirim ke Jepang hanya untuk mencari uang. Takdir—atau mungkin Tuhan yang doanya selalu diprotes Nenek Sato—telah membawanya melintasi samudra untuk menyelesaikan lingkaran penyesalan yang sudah terbuka selama delapan dekade.
Nenek Sato menangis sejadi-jadinya, sebuah tangisan pembebasan yang telah ia tahan hampir seabad. Ia memeluk Siti, bukan sebagai majikan dan pelayan, tapi sebagai dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Siti tidak memasak bubur hambar. Ia membuatkan sup hangat dengan aroma bawang putih dan jahe. Dan Nenek Sato, untuk pertama kalinya, menghirup aroma itu dalam-dalam, tersenyum, dan berkata, "Ini... aromanya seperti pengampunan."
Di tengah dinginnya musim dingin Jepang, sebuah rumah kayu tua itu akhirnya terasa hangat. Bukan karena pemanas ruangan, tapi karena sebuah utang masa lalu telah dibayar lunas dengan kasih sayang seorang pekerja migran yang ternyata adalah cucu dari sahabat yang pernah ia khianati.
---