Tiga tahun telah berlalu sejak deru mesin mobil Widya menghilang di ujung aspal, meninggalkan Andra dalam kesunyian yang berdengung. Rumah besar itu kini terasa seperti sebuah makam yang terlalu luas. Bau balsem dan sisa bubur yang tumpah masih menjadi aroma dominan, namun suasana "perang" telah berganti menjadi kesunyian yang pasrah.
Pak Baskoro kini lebih banyak menghabiskan waktu di kursi roda, menatap jendela dengan pandangan yang kian mengeruh. Delusinya tidak lagi meledak-ledak. Ia telah memasuki fase apatis, di mana hantu-hantu di kepalanya mungkin sudah bosan berteriak dan memilih untuk berbisik saja. Andra pun telah berubah; rambutnya memutih di usia yang belum genap empat puluh lima, dan punggungnya sedikit membungkuk, seolah memikul beban tak kasatmata yang ia sebut sebagai bakti.
Suatu sore, seorang kurir mengetuk pagar besi yang sudah mulai berkarat. Sebuah amplop besar dengan stempel pos internasional mendarat di meja ruang tamu—meja yang sama tempat ia menandatangani surat cerai tiga tahun lalu. Dari Alena.
Andra membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat sebuah foto wisuda; Alena tampak luar biasa cantik dengan toga hitam dan latar belakang bangunan Sorbonne yang megah. Di sampingnya, Widya tersenyum dengan raut wajah yang jauh lebih muda, lebih cerah, dan tanpa gurat kelelahan yang dulu menghantuinya.
Ada selembar surat yang terselip.
---
Papa yang Alena cintai,
Mungkin saat Papa membaca ini, salju pertama sudah turun di Paris. Alena baru saja menyelesaikan tesis Alena tentang psikologi sosial. Lucu ya, Pa? Alena memilih bidang ini karena Alena ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi di rumah kita dulu. Alena ingin mengerti mengapa cinta bisa terasa begitu menyakitkan dan mengapa bakti bisa menjadi sebuah racun.
Selama tiga tahun di sini, Alena belajar satu hal penting: Penyakit Eyang bukan hanya skizofrenia, tapi rumah kita dulu menderita "penyakit kebohongan". Kita semua pura-pura kuat, padahal kita hancur. Papa pura-pura bahwa Papa sanggup, padahal Papa sedang sekarat.
Alena sering merasa bersalah karena meninggalkan Papa sendirian dengan Eyang. Tapi, setiap kali Alena melihat Mama tertawa saat kami minum kopi di pinggir jalan Seine, Alena tahu keputusan kami benar. Mama bukan lagi wanita yang hancur di depan meja makan. Dia kembali menjadi arsitek yang hebat. Dia membangun kembali hidupnya dari puing-puing yang Papa biarkan runtuh.
Papa tahu? Di sini Alena sering mengunjungi sebuah taman dekat kampus. Ada seorang lelaki tua yang sering duduk di sana, menderita hal yang sama dengan Eyang. Keluarganya menitipkannya di pusat perawatan terbaik di sana, tapi mereka mengunjunginya setiap hari minggu dengan sukacita, bukan dengan beban. Di sana Alena sadar: Merawat bukan berarti harus ikut hancur. Mencintai bukan berarti harus ikut terpenjara.
Alena rindu Papa. Tapi Alena tidak merindukan rumah itu. Alena ingin Papa tahu bahwa Alena sudah memaafkan Papa atas ketidakmampuan Papa untuk memilih kami saat itu. Tapi Alena mohon satu hal, Pa... Lihatlah ke dalam cermin. Berhentilah menghukum dirimu sendiri.
---
Andra melipat surat itu, dadanya terasa sesak namun ada sesuatu yang cair di sana. Ia menoleh ke arah Pak Baskoro. Ayahnya itu sedang tertawa kecil, menunjuk ke arah taman kosong.
"Andra... lihat, itu ada kereta kencana. Ibumu sudah di sana," gumam Pak Baskoro. Suaranya jernih, seolah-olah tabir di otaknya tersingkap sejenak.
Andra mendekat, berlutut di samping kursi roda ayahnya. "Iya, Yah. Ibu sudah menunggu."
"Kenapa kamu masih di sini, Ndra?" Pak Baskoro menatap anaknya. Kali ini, sorot matanya benar-benar jernih. Begitu jernih hingga Andra merasa jiwanya telanjang. "Kamu sudah memberikan seluruh hidupmu untuk orang gila ini. Cukup. Kamu sudah lunas."
Pak Baskoro menggenggam tangan Andra dengan sisa kekuatannya yang lemah. "Jangan tunggu sampai aku benar-benar lupa namamu. Masukkan aku ke tempat yang seharusnya. Pergilah ke anakmu. Dia butuh ayahnya yang masih hidup, bukan ayah yang sudah jadi mayat di rumah ini."
Malam itu, Andra mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya—kali ini bukan karena paksaan Widya, tapi karena kasih sayang ayahnya yang tersisa di celah-celah kewarasan yang singkat.
---
Sebulan kemudian, Andra berdiri di depan gerbang sebuah fasilitas perawatan kesehatan mental terbaik di pinggiran kota. Ia baru saja mengantar Pak Baskoro masuk. Ayahnya tidak berontak; ia justru tersenyum saat melihat taman luas dan beberapa pasien lain yang sedang duduk tenang.
Andra merasa dunianya terbalik. Selama ini ia mengira ayahnya akan merasa "dibuang", namun ia baru menyadari bahwa selama ini ayahnya justru merasa "terperangkap" di rumah itu, melihat anaknya perlahan hancur karenanya. Dengan berada di fasilitas medis, Pak Baskoro justru mendapatkan perawatan profesional yang tidak bisa diberikan Andra secara amatir di rumah.
Andra kembali ke rumahnya yang kini benar-benar kosong. Ia mulai mengepak barang-barangnya. Ia akan menjual rumah itu. Ia akan menyisihkan sebagian besar uangnya untuk biaya perawatan ayahnya seumur hidup, dan sisanya? Ia akan membeli tiket ke London. Bukan untuk meminta Widya kembali—karena ia tahu mereka sudah selesai secara hukum dan rasa—tapi untuk memeluk Alena sebagai ayah yang merdeka.
Saat ia sedang membereskan laci meja kerja ayahnya, ia menemukan sebuah amplop cokelat tua yang tersegel rapi. Di depannya tertulis: "Untuk Istriku, Widya."
Andra membukanya. Ternyata itu adalah surat yang ditulis ayahnya bertahun-tahun lalu, tepat sebelum skizofrenianya mencapai puncak.
"Widya, menantuku yang baik. Jika suatu saat anakku, Andra, menjadi terlalu keras kepala untuk melepaskan aku, tunjukkan surat ini padanya. Katakan padanya bahwa aku telah menyiapkan dana asuransi rahasia di bank ini (terlampir nomor rekeningnya). Dana ini cukup untuk membiayai panti jompo terbaik dan juga untuk biaya kuliah Alena sampai doktor. Aku tidak ingin satu sen pun dari keringat Andra habis untuk penyakitku. Aku ingin dia hidup untukmu, bukan untukku."
Andra jatuh terduduk di lantai yang dingin. Ternyata selama sepuluh tahun ini, ia berjuang melawan hantu yang sebenarnya ingin membantunya. Ayahnya sudah menyiapkan jalan keluar, ibunya sudah memberikan tanda, dan istrinya sudah memohon. Namun, ego Andra yang dibungkus dengan label "bakti tanpa logika" telah membutakan segalanya.
Ia menyadari bahwa kejutan terbesar dalam hidupnya bukanlah penyakit ayahnya, melainkan kebodohannya sendiri yang menganggap diri sebagai pahlawan, padahal ia adalah sipir penjara bagi keluarganya sendiri.
Esok paginya, Andra berdiri di bandara. Dengan satu tas ransel dan foto wisuda Alena di saku kemejanya, ia melangkah menuju gerbang keberangkatan. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, napasnya terasa ringan. Ia tidak lagi berlari dari kenyataan; ia sedang menuju masa depan, membawa kepingan hati yang sudah pecah namun telah direkatkan kembali oleh pengampunan.
Di balik kaca pesawat, ia melihat langit yang luas. Di bawah sana, di suatu tempat di fasilitas medis, ayahnya mungkin sedang berbicara dengan bayangan, tapi Andra tahu, ayahnya telah tenang karena anaknya akhirnya belajar cara untuk melepaskan.
---