Semua orang bilang aku beruntung punya pacar setampan Arka. Tinggi, dingin, dan jarang senyum—tipe cowok yang bikin cewek-cewek lain cuma bisa ngelirik dari jauh.
Masalahnya, Arka punya saudara kembar: Ares.
Dan Ares… kebalikannya. Cerewet, suka bercanda, dan senyumnya gampang banget keluar.
Awalnya aku yakin bisa bedain mereka. Arka selalu pakai jaket hitam. Ares lebih suka hoodie abu-abu.
Sampai suatu hari aku nyamperin “Arka” di kantin.
“Aku kangen,” kataku sambil narik lengannya.
Dia kaget. “Eh… lo salah orang.”
Aku menatap wajahnya lebih dekat. Senyumnya terlalu lebar.
Bukan Arka.
Itu Ares.
Sejak hari itu, kejadian aneh mulai sering.
Kadang Arka jadi hangat dan bercanda seperti Ares.
Kadang Ares mendadak dingin seperti Arka.
Sampai malam itu, Arka ngomong jujur.
“Kita sering tukeran tempat.”
Aku terdiam. “Kenapa?”
Ares muncul dari balik pintu. “Karena… gue suka lo juga.”
Hening.
Arka menatap lantai. “Dan gue takut kehilangan lo kalau lo tahu.”
Dadaku sesak.
Bukan karena mereka kembar.
Tapi karena aku sadar… selama ini aku jatuh cinta ke dua orang dalam satu wajah.
Aku melangkah mundur.
“Kalian bukan masalahnya,” kataku pelan.
“Masalahnya, kalian bohong bareng-bareng.”
Dan malam itu, aku pergi — meninggalkan dua orang yang wajahnya sama,
tapi hatinya sama-sama salah.