Kelas 12. Masa-masa penuh tekanan sekaligus harapan. Di tengah hiruk pikuk persiapan ujian, benakku justru dipenuhi pertanyaan: bagaimana caranya menghasilkan uang sendiri? Bapak sering mengeluh soal pengeluaran, dan aku muak mendengar pertengkaran dengan saudara karena masalah yang sama.
Suatu hari, iseng kubuka aplikasi novel di ponsel Redmi S2 bututku. Mataku tertumbuk pada platform bernama Novel Toon. "Kenapa tidak mencoba menulis saja?" pikirku. Ide itu tiba-tiba muncul, bagai oase di padang gurun.
Namun, masalah baru muncul. Aku tidak tahu aplikasi apa yang bisa digunakan untuk menulis novel di ponsel. Dulu, jangankan memikirkan menulis, memegang buku pelajaran saja sudah membuatku mengantuk. Tapi, kali ini berbeda. Ada dorongan kuat yang membuatku ingin mencoba.
Maka, dimulailah petualanganku di dunia tulis-menulis. Dengan segala keterbatasan dan kebingungan, aku mulai merangkai kata demi kata. Sebuah novel kecil, lahir dari keresahan dan keinginan untuk mandiri.Oke, ini draf cerpennya dengan fokus pada perasaan tidak berguna dan keseharian yang monoton:
Nada Sumbang Keseharian
Jari-jariku menari di atas layar ponsel, menciptakan kalimat demi kalimat yang entah akan bermuara ke mana. Novel kecilku terbengkalai, ide-ide menguap bagai embun pagi. Aku merasa seperti mesin tik rusak, menghasilkan kata-kata tanpa makna.
Di luar sana, kehidupan berdenyut. Namun, duniaku sebatas kamar sempit yang pengap. Keseharianku diisi dengan menulis sesuatu yang tak pernah selesai, tak pernah membuahkan apa pun. Hanya ada frustrasi dan perasaan tidak berguna yang menggerogoti.
Lagu-lagu tetangga menjadi latar suara kehidupanku yang monoton. Bukan lagu-lagu populer yang riang, melainkan nada-nada elektronik yang aneh, yang kudengar dari balik dinding tipis. Aku tahu, itu bukan musik untuk dinikmati, melainkan frekuensi yang berfungsi untuk keperluan medis. Ironis. Bahkan suara-suara "penyembuh" itu pun terdengar menyakitkan di telingaku.
Aku terdampar di sini, di antara kata-kata yang tak berarti dan nada sumbang keseharian. Entah kapan aku bisa menemukan jalan keluar dari labirin ini.Baik, ini draf cerpen yang sudah direvisi dengan memasukkan detail suara mesin rontgen:
Radiasi dalam Nada
Jari-jariku menari di atas layar ponsel, menciptakan kalimat demi kalimat yang terasa hampa. Novel kecilku terbengkalai, ide-ide menguap bersamaan dengan semangatku. Aku merasa seperti penulis tanpa pembaca, pencipta tanpa penikmat.
Di luar sana, kehidupan mungkin saja sedang bergulir dengan riang. Namun, duniaku terkurung dalam kamar sempit yang pengap, diisi dengan rutinitas menulis yang tak kunjung membuahkan hasil. Hanya ada frustrasi dan perasaan tidak berguna yang semakin menggerogoti.
Dinding kamarku seolah berdenyut, memancarkan suara yang aneh. Bukan alunan musik yang menenangkan, melainkan deru dan desis yang monoton. Awalnya, aku mengira itu hanya gangguan suara biasa. Namun, lama kelamaan aku menyadari, itu adalah suara mesin rontgen dari klinik di sebelah rumah.
Ironisnya, suara yang seharusnya digunakan untuk mendiagnosis penyakit itu justru terasa seperti radiasi yang merusak kewarasanku. Setiap kali suara itu berdenyut, aku merasa semakin kecil dan tidak berarti. Kata-kata yang kutulis terasa semakin hambar, kehilangan daya hidupnya.
Aku terdampar di sini, di antara kalimat-kalimat yang tak berujung dan radiasi dalam nada. Entah kapan aku bisa keluar dari lingkaran setan ini, menemukan makna di balik suara mesin yang terus berdengung.