Langit sore itu menggantung rendah seperti dada yang menahan isak. Hujan belum turun, tetapi udara sudah terasa berat, menempel di kulit, mengendap di paru-paru. Ia berdiri di ambang pintu rumah yang dulu pernah menjadi saksi tawa, dan entah mengapa, setiap kali ia bernapas, yang terasa bukan lega, melainkan sesak yang tak bernama.
Ia masih tinggal di masa lalu.
Bukan karena tak ingin pergi, melainkan karena kenangan memiliki cara yang licik untuk membuat seseorang merasa dibutuhkan. Ia mengingat detak jantungnya yang pernah berlari tak beraturan saat seorang lelaki berdiri di hadapannya, tenang, cerdas, matang dalam cara berbicara. Lelaki itu seperti musim yang tepat pada waktunya. Hangat, sopan, dan seolah tahu kapan harus diam.
Ia jatuh cinta dengan sederhana.
Pada caranya tersenyum, lesung pipit yang muncul malu-malu di pipi kirinya. Pada aroma parfumnya yang samar tertinggal di udara, bahkan setelah ia pergi. Pada percakapan-percakapan kecil yang terasa lebih panjang dari usia semesta.
Namun cinta rupanya tidak selalu datang untuk tinggal.
Suatu hari ia pergi. Tanpa janji untuk kembali, tanpa jejak yang bisa diikuti. Dan sejak itu, perempuan itu selalu duduk di kursi yang sama, di hadapan pintu yang sama, berharap waktu berbaik hati dan mengembalikan langkah yang pernah menjauh. Ia menunggu seperti seseorang menunggu kereta terakhir di stasiun yang sudah lama ditutup.
Sayangnya, waktu tak pernah mengenal kata mundur.
Kenangan mulai rapuh, seperti kertas yang terlalu sering dilipat. Wajah itu perlahan memudar, suara itu tak lagi jernih dalam ingatan. Namun rasa rindunya justru tumbuh, seperti akar yang menembus tanah paling keras. Semakin ia mencoba melupakan, semakin dalam ia terjatuh.
Hingga suatu hari, di sebuah bus yang penuh sesak oleh manusia dan tujuan masing-masing, ia kembali merasakan debar yang serupa.
Lelaki itu berdiri tak jauh darinya. Sederhana, tetapi sorot matanya jujur. Ia melihat cara lelaki itu memegang tiang besi, cara ia tersenyum pada seorang ibu tua yang hampir terjatuh. Hatinya yang pernah retak tiba-tiba berani berdetak lagi.
Perempuan itu tak melakukan apa pun. Ia hanya menatap, diam seperti biasa. Di antara desakan tubuh dan bau jalanan yang lelah, ia membiarkan perasaannya tumbuh perlahan, seperti cahaya tipis di sela tirai.
Namun hidup gemar menyelipkan ironi di saat paling tak terduga.
Ketika akhirnya ia memberanikan diri mengenal lelaki itu lebih jauh, ia mengetahui sesuatu yang membuat dadanya kembali runtuh. Lelaki itu telah dimiliki seseorang. Telah ada tangan lain yang lebih dulu digenggamnya, telah ada nama lain yang lebih dulu dipanggilnya dalam doa.
Dan ia hanyalah orang asing.
Sepersekian detik dalam perjalanan seseorang. Bayangan samar di antara kerumunan. Seseorang yang hanya menumpang rasa, lalu turun di halte yang berbeda. Setiap hari ia melewati tempat lelaki itu turun, seolah rute hidupnya ingin menggodanya. Ia tahu tempat lelaki itu, namun lelaki itu tak pernah tahu di mana ia tinggal. Ia melihat lelaki itu, namun lelaki itu tak pernah benar-benar melihatnya.
Jawabannya selalu sunyi.
Pada akhirnya, ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan. Ia selalu jatuh cinta sendirian.
Malam itu hujan benar-benar turun. Deras, tanpa jeda, seperti langit yang tak lagi sanggup menahan beban. Ia berdiri di bawahnya tanpa payung, membiarkan air membasahi rambut dan wajahnya. Entah itu hujan atau air mata, ia tak lagi peduli.
Tuhan, bisiknya lirih, hampir tenggelam oleh suara rintik yang menghantam tanah, bolehkah sekali saja aku memiliki seseorang. Seseorang yang memilihku. Yang mencintaiku tanpa ragu. Yang tinggal.
Ia lelah menjadi tempat singgah bagi perasaan sendiri. Lelah berdiri tegak ketika dunia terasa terlalu luas untuk dipeluk sendirian. Ia ingin satu bahu untuk bersandar. Satu tangan yang tak dilepaskan saat badai datang.
Namun hingga malam larut dan hujan mereda, tak ada jawaban selain detak jantungnya sendiri.
Ia kembali ke rumah dengan langkah pelan. Basah, tetapi sedikit lebih ringan. Mungkin cinta memang belum selesai menuliskan takdirnya. Mungkin ia masih terjebak dalam bab yang rumit, tanpa akhir yang jelas.
Atau mungkin akhir itu sedang berjalan pelan ke arahnya, hanya saja belum sampai.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak duduk di kursi dekat pintu.
Ia mematikan lampu, menutup jendela, dan membiarkan malam memeluknya.
Karena meski cinta kerap datang dan pergi tanpa izin, harapan sekecil apa pun selalu memilih untuk tinggal.