Aku Juga Ingin Didengar,ayah dan ibu lihat aku, dengarkan aku. Aku hanya ingin di dengar walau sebentar saja.
Meja makan malam itu riuh, seperti biasa. Ayah sedang bersemangat menceritakan target proyek kantornya yang baru saja tembus, sementara Ibu sibuk menimpali dengan keluhan tentang harga daging yang melonjak dan rencana arisan minggu depan. Kak Raka, si atlet kebanggaan keluarga, mendominasi sisa ruang udara dengan cerita kemenangannya di pertandingan basket tadi sore.
Di ujung meja, Widya memegang sendoknya erat-erat. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, lebih besar dari sekadar suapan nasi goreng di piringnya.
"Yah, Bu..." suara Widya mencicit, nyaris tenggelam dalam tawa Kak Raka.
"Terus ya, Yah, pelatih bilang aku punya peluang besar buat ikut seleksi provinsi!" seru Kak Raka bangga. Ayah menepuk bahu Kak Raka keras-keras, wajahnya berseri-seri. "Itu baru anak Ayah! Nanti kita beli sepatu baru buat seleksi."
Widya menarik napas panjang. "Yah, tadi di sekolah ada pengumuman lomba menulis cerpen..."
"Oh, bagus itu, Wid," potong Ibu tanpa menoleh, tangannya lincah menuangkan air ke gelas Ayah. "Eh, Yah, tadi Ibu bilang belum soal keramik kamar mandi yang pecah?"
Dialog pun bergeser. Widya terdiam. Kalimatnya menggantung di udara, layu sebelum sempat mekar. Padahal, ia ingin bercerita bahwa naskahnya terpilih sebagai lima terbaik di sekolah. Ia ingin bercerita betapa gemetar tangannya saat namanya dipanggil di depan aula. Ia ingin bercerita bahwa untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki "suara" lewat tulisan.
Setelah makan selesai, keriuhan berpindah ke ruang tengah. Widya menyelinap ke kamarnya, menutup pintu pelan. Ia duduk di meja belajar, menatap piala kecil dari plastik—penghargaan juara harapan yang ia dapatkan tadi siang.
Ia mengambil sebuah buku harian lusuh dan menulis satu kalimat di halaman paling baru: "Aku hadir di sini, tapi kenapa rasanya aku transparan?"
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ibu masuk membawa tumpukan baju bersih.
"Widya, kok lampu belajarnya redup? Ganti yang terang, nanti matamu rusak."
"Bu," panggil Widya. Kali ini suaranya lebih tegas, meski ada getaran ketakutan di sana.
Ibu berhenti melipat baju. "Ya, sayang?"
"Tadi di meja makan, aku mau bilang kalau aku menang lomba menulis. Aku... aku ingin Ibu dan Ayah tahu kalau aku juga bisa melakukan sesuatu yang hebat, walau bukan basket."
Hening sejenak. Ibu menatap Widya, lalu matanya turun ke piala plastik di atas meja. Ada kilat penyesalan yang melintas di wajah Ibu. Ia meletakkan tumpukan baju, lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Widya.
"Tadi Ibu terlalu berisik ya?" tanya Ibu lembut.
Widya mengangguk pelan. "Kadang rasanya semua orang punya cerita yang lebih penting buat didengar daripada ceritaku."
Ibu menarik Widya ke dalam pelukan. "Maafkan Ibu, Widya. Kadang orang dewasa terlalu sibuk dengan dunianya sampai lupa kalau telinga mereka punya tugas untuk mendengar, bukan cuma mulut untuk bicara. Coba, ceritakan dari awal. Ibu janji, Ibu akan dengar sampai titik terakhir."
Malam itu, di kamar yang tenang, Widya akhirnya bicara. Ia bercerita tentang tokoh-tokoh dalam cerpennya, tentang kesulitan mencari ide, dan tentang betapa senangnya ia saat gurunya memuji imajinasinya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Widya merasa tidak lagi transparan atau tidak di anggap. Ternyata, didengar bukan soal seberapa keras kita berteriak, tapi tentang menemukan seseorang yang bersedia menyediakan ruang di hatinya untuk menyimak.