Judul: Tiga Tatapan di Koridor
Aku cuma mau cepat sampai kelas, bukan jadi pusat drama. Tapi pagi itu, tiga cowok ganteng berdiri di ujung koridor—seperti jebakan.
Yang pertama, Raka, kapten basket. Senyumnya gampang bikin orang lupa tujuan hidup.
Yang kedua, Dion, anak olimpiade sains, kacamata tipis, tatapannya dingin tapi tajam.
Yang ketiga, Arga, gitaris band sekolah, rambut sedikit berantakan, wangi kopi.
Mereka semua menatapku. Bukan kebetulan.
Raka mendekat duluan. “Nanti pulang bareng, ya?” katanya, seolah itu sudah keputusan bersama.
Dion menyela, datar, “Kamu belum jawab pesanku semalam. Kita perlu bicara.”
Arga cuma nyengir. “Aku nunggu di taman. Kalau kamu mau dengar lagu baru.”
Sekolah tiba-tiba jadi sempit.
Aku berdiri di tengah, sadar satu hal: ini bukan soal mereka. Ini soal aku yang selama ini terlalu ramah, terlalu nggak tegas, bikin orang salah paham.
Aku tarik napas.
“Raka, Dion, Arga… kalian semua baik. Tapi aku nggak mau pilih siapa-siapa sekarang.”
Raka terdiam. Dion mengernyit. Arga mengangkat bahu.
Aku lanjut, lebih tegas, “Aku mau tenang dulu. Kalau kalian serius, hargai itu.”
Aku melangkah pergi, ninggalin tiga cowok ganteng dan satu koridor penuh bisik-bisik.
Hari itu aku belajar:
disukai banyak orang itu menyenangkan,
tapi memilih diri sendiri jauh lebih penting.