Tokoh Utama: Arka dan Senja
Gerimis sore itu membawa Arka menepi ke sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Ia sebenarnya tidak terlalu suka kopi, tapi aroma buku tua dan kayu manis dari dalam kedai itu seolah memanggilnya untuk masuk. Di sana, di meja pojok dekat jendela, ia melihat seorang perempuan yang tampak sibuk dengan sketsa di bukunya.
Perempuan itu adalah Senja.
Arka mengenalnya. Bukan sebagai teman, melainkan sebagai sosok yang selalu ia perhatikan diam-diam setiap kali mereka berpapasan di perpustakaan kampus setahun yang lalu. Senja selalu memiliki aura yang tenang, seolah dunia yang bising ini tak mampu menyentuhnya.
"Boleh duduk di sini? Kursi lain penuh," tanya Arka memberanikan diri, meski sebenarnya masih ada satu kursi kosong di dekat pintu yang agak bocor.
Senja mendongak. Matanya yang jernih menatap Arka sejenak sebelum ia tersenyum tipis. "Silakan, Arka."
Arka tertegun. "Kau... tahu namaku?"
Senja tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas kristal. "Kita pernah satu kelas di mata kuliah Sejarah Sastra, ingat? Kau selalu duduk di barisan paling belakang dan sering lupa membawa pulpen."
Wajah Arka memanas. Ternyata, selama ini bukan hanya dia yang memperhatikan.
Sore itu, percakapan mengalir begitu saja. Mereka bicara tentang banyak hal; tentang kopi yang terlalu pahit, tentang mimpi Senja menjadi ilustrator, hingga tentang ketakutan Arka akan masa depan. Di tengah riuh rendah suara hujan yang menghantam atap seng, ada sebuah resonansi yang tercipta di antara mereka.
"Kenapa namamu Senja?" tanya Arka tiba-tiba.
Senja menutup buku sketsanya. "Karena ibuku bilang, senja itu singkat tapi ia selalu memberikan warna yang paling indah sebelum semuanya menjadi gelap. Ia mengajarkan kita bahwa yang indah tak harus selamanya ada."
Arka menatap mata Senja dalam-dalam. "Tapi bagiku, Senja kali ini berbeda. Aku ingin melihat warna ini lebih lama dari sekadar sebelum malam tiba."
Senja terdiam, namun rona merah di pipinya tak bisa berbohong. Di kedai kopi yang remang itu, Arka menyadari satu hal: cinta tidak selalu datang dengan ledakan besar. Kadang, ia datang seperti gerimis—pelan, membasahi bumi tanpa suara, namun mampu menumbuhkan benih-benih perasaan yang selama ini tersembunyi.