Aku menatap bayangan di cermin, wajahku pucat tapi mata tetap menyala. Tuan muda itu—Daren—muncul lagi di depan pintuku, seperti badai yang menunggu waktu untuk menghancurkan segalanya. Balas dendamnya bukan sekadar rumor; aku bisa merasakannya di udara, di setiap langkahnya yang tenang tapi mematikan.
“Kau pikir bisa lolos begitu saja?” suaranya rendah, tapi dingin seperti besi.
Aku tersenyum tipis, menyembunyikan ketakutan. “Aku nggak pernah lari, Daren. Jadi kenapa harus takut padamu?”
Ia berhenti sejenak, menatapku, menilai setiap kemungkinan. Aku tahu, itu adalah tarian berbahaya: satu langkah salah, dan aku bisa hancur. Tapi aku juga tahu kelemahannya—kesombongannya.
Selama seminggu terakhir, aku diam-diam mengumpulkan bukti tentang kesalahan-kesalahannya sendiri, langkah-langkah yang akan membuat rencana balas dendamnya berbalik padanya. Dan hari ini, aku sudah siap.
Daren maju, dan aku menahan napas. Tapi saat ia mengangkat tangan untuk menghukum, aku menekan tombol ponsel—rekaman semua tindakannya yang salah kini terdengar di ruangan. Suara itu mengguncang, wajahnya berubah—marah, bingung, tak berdaya.
Aku menatapnya, bukan sebagai korban, tapi sebagai pengendali permainan. “Sekarang giliranmu merasakan ketakutan, Daren,” kataku, tenang.
Ia diam, akhirnya sadar bahwa permainan ini tak lagi hanya miliknya.