Aku tahu ini konyol. Terlalu konyol buat diceritakan ke siapa pun.
Aku cuma cewek biasa, tinggal di gang sempit, bangun pagi karena suara motor tetangga, bukan karena lampu panggung. Tapi tiap malam, aku tidur ditemani satu hal yang sama: video J-Hope yang muter ulang.
Awalnya biasa aja. Cuma kagum sama energinya. Cara dia ketawa, cara dia lompat seolah dunia ini ringan banget buat dipikul. Tapi lama-lama, kagum berubah jadi… perhatian.
Aku hafal jam dia upload konten. Hafal ekspresi mukanya pas latihan. Bahkan hafal kebiasaan kecil: mengerutkan hidung waktu malu.
Aku nggak pernah bilang ke siapa pun.
Teman-temanku ngomel, “Ngapain sih ngefans lebay? Dia nggak kenal lo.”
Dan itu benar. Fakta paling kejam sekaligus paling waras.
Tapi perasaan nggak selalu nurut logika.
Setiap kali aku capek sama hidup—nilai turun, orang tua ribut, masa depan kayak kabut—aku nonton dia nari.
Aneh ya? Orang yang nggak tahu aku ada, justru bikin aku ngerasa ditemani.
Aku nggak mimpi bakal ketemu dia.
Aku nggak delusi bakal jadi siapa-siapa buat dia.
Aku cuma… suka. Diam-diam. Aman. Dari jauh.
Dan mungkin, justru karena itu perasaanku nggak rusak.
Nggak ditolak.
Nggak disakiti.
Cuma disimpan.
Suatu malam aku nulis di buku:
“Aku suka kamu bukan karena berharap kamu milikku,
tapi karena kamu bikin hari-hariku nggak kosong.”
Besoknya, aku tetap sekolah.
Tetap ribut sama dunia nyata.
Tapi di sudut kecil hatiku, ada satu rahasia yang bikin aku kuat jalan lagi.
Namanya: J-Hope.
Dan dia nggak perlu tahu aku ada…
karena aku sudah cukup tahu, aku hidup karena terinspirasi olehnya.