Nara jatuh cinta pada orang yang salah:
Raka.
Bukan karena Raka jahat.
Tapi karena Raka dingin, manipulatif, dan suka bikin Nara merasa kecil.
Awalnya manis.
Pesan tiap pagi.
Telepon tiap malam.
Janji-janji soal masa depan.
Lalu pelan-pelan berubah.
Raka mulai ngilang tanpa kabar.
Kalau Nara nanya, jawabannya selalu sama:
“Kamu lebay.”
“Kamu kebanyakan mikir.”
“Kamu terlalu posesif.”
Padahal Nara cuma minta satu hal: kejelasan.
Setiap kali Nara marah, Raka muter balik situasi.
Dia bikin Nara merasa bersalah karena punya perasaan.
“Kalau kamu percaya sama aku, gak akan ribut gini.”
Dan Nara percaya.
Bukan karena yakin.
Tapi karena takut kehilangan.
Cinta mereka bukan lagi soal bahagia.
Isinya cuma:
takut ditinggal
nangis sendirian
nunggu pesan yang gak datang
berharap orang berubah
Suatu malam, Nara sadar sesuatu.
Dia capek nangis tapi tetap bertahan.
Capek disakiti tapi tetap membela.
Capek mencintai orang yang gak pernah benar-benar peduli.
Saat Raka bilang:
“Kalau gak kuat, pergi aja.”
Untuk pertama kalinya, Nara gak nangis.
Dia jawab:
“Iya. Aku pergi.”
Bukan karena gak cinta.
Tapi karena akhirnya sadar:
Cinta yang bikin hancur diri sendiri
bukan cinta.
Itu penjara.
Dan Raka?
Baru sadar saat Nara gak balik lagi.
Itulah Cruwel Love:
bukan cinta yang kejam karena memukul,
tapi karena pelan-pelan membunuh harga diri.