(:
Aku pertama kali ketemu Jimin bukan di konser, bukan juga di fan meeting. Tapi di tempat yang sama sekali gak romantis: bandara, jam tiga pagi, saat aku lagi duduk di lantai sambil peluk ransel karena delay penerbangan.
Dia pakai hoodie hitam, topi ditarik rendah, masker nutup setengah wajah. Tapi matanya… gak bisa bohong. Itu mata yang pernah aku lihat ribuan kali di layar HP.
Aku beku.
“Ini mimpi atau aku kurang tidur?” gumamku.
Jimin duduk dua kursi dari aku. Dia kelihatan capek, bahunya jatuh, matanya kosong. Bukan idol di panggung. Ini manusia yang kelelahan.
Aku gak langsung nyamperin. Otakku jalan dulu:
Kalau aku teriak, aku norak.
Kalau aku foto diam-diam, aku gak sopan.
Kalau aku nyapa biasa, mungkin masih ada martabat.
Jadi aku pilih opsi ketiga.
“Excuse me… you’re… Jimin, right?”
Dia kaget sedikit, terus matanya menyipit senyum. “…Yes. Please don’t shout.”
Aku angguk cepat. “Tenang. Aku juga capek.”
Itu jawaban paling bodoh yang bisa aku kasih, tapi entah kenapa dia ketawa kecil.
Sejak itu, kami ngobrol. Tentang delay pesawat. Tentang kopi bandara yang rasanya kayak air sedih. Tentang betapa capeknya hidup kalau selalu ditonton orang.
Aku bilang aku cuma cewek biasa. Kuliah. Suka nulis cerita.
Dia bilang, “I wish I could be ordinary sometimes.”
Kalimat itu nempel di kepalaku.
Kami tukeran nomor. Bukan karena cinta. Tapi karena… nyaman.
Hari-hari berikutnya, dia sering chat.
“Are you eating?”
“Don’t skip meals.”
“Did you write today?”
Ironis. Idol yang ngejagain cewek random dari bandara.
Aku juga gak lebay. Aku gak minta foto. Gak pamer ke siapa-siapa. Aku tau: kalau aku bocor, dia habis.
Sebulan kemudian, dia ke Indonesia buat jadwal kerja. Kami ketemu lagi, kali ini di kafe kecil yang sepi.
Dia pakai kacamata. Tangannya gemetar dikit pas pegang cangkir.
“I’m nervous,” katanya.
“Kenapa?”
“Because you look at me like I’m not special. And I like that.”
Aku diem.
Aku sadar satu hal:
Aku bukan jatuh cinta ke Park Jimin, idol dunia.
Aku jatuh ke Jimin yang capek, yang pengen jadi manusia biasa.
Beberapa minggu kemudian, dia bilang langsung:
“I think… I like you. Not as a fan. As a person.”
Logikaku teriak: Ini gila.
Ini gak realistis.
Ini bakal sakit.
Tapi hatiku jawab: “Terus kenapa kalau sakit?”
Aku bilang iya.
Pacaran sama Jimin itu bukan kayak drama Korea.
Bukan pegangan tangan di taman.
Bukan foto couple di IG.
Bukan pamer status.
Pacaran kami itu: – Video call jam 2 pagi.
– Dia latihan, aku ngetik tugas.
– Dia cerita betapa dia takut bikin fans kecewa.
– Aku cerita betapa aku takut jadi gak berarti buat siapa-siapa.
Dia pernah bilang,
“You don’t see me as a product. That’s why I love you.”
Tapi justru di situ masalahnya.
Semakin aku sayang, semakin aku sadar: Aku harus berbagi dia dengan dunia.
Dan dunia gak tau aku ada.
Aku gak bisa iri ke fans.
Aku gak bisa marah kalau dia senyum ke kamera.
Aku gak bisa nuntut waktu.
Cinta kami hidup di celah-celah jadwalnya.
Suatu malam, dia bilang, “If someday I can’t choose you… will you hate me?”
Aku jawab jujur, “Enggak. Tapi aku bakal sakit.”
Dia diem lama.
“Aku juga.”
Dan di situ aku ngerti: Ini bukan kisah bahagia tanpa harga.
Ini kisah yang indah karena… gak mudah.
Sekarang, aku masih pacaran sama Jimin.
Bukan di depan kamera.
Bukan di depan dunia.
Tapi di antara chat singkat dan janji yang belum tentu bisa ditepati.
Kalau orang bilang: “Mana mungkin cewek biasa pacaran sama idol?”
Aku gak bantah.
Aku cuma mikir: Yang gak mungkin itu bukan pacaran.
Yang gak mungkin itu… mempertahankannya tanpa kehilangan diri sendiri.
Dan setiap hari, aku nanya ke diriku: “Aku cinta dia…
atau aku cuma jatuh ke mimpiku sendiri?”
Belum ada jawaban.
Yang ada cuma satu hal pasti:
Aku bukan fans lagi.
Aku… seseorang yang pernah dicintai Jimin sebagai manusia, bukan penonton.
—