Karya:Rowwr🙎♀️
Hai nama aku Alea, aku yatim piatu sejak umurku 10 thn aku memiliki adik yang bernama Arsya. Alea dan Arsya hanya selisih 2 thn.
15/07/2018
Kini usia ku 18 thn, aku dan adikku bekerja di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah kita..
18.00
"Kak.. Aku pusing Aku pulang dulu ya? " ucap lirih Arsya yang ingin pulang. Awalnya Aku ragu untuk mengizinkannya karena dirumah juga tidak ada siapa-siapa tetangga pun semua nya sedang bepergian, namun Aku berpikir lagi mau bagaimana pun arsya seorang laki-laki dan dia sudah dewasa harusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa waktu berlama-lama aku pun mengizinkannya dan Arsya pun pergi dengan motor sport milik armahum ayahnya dulu
00.00
Aku pulang agak larut karena hari ini waktunya Aku piket membersihkan restoran, namun sebelum Aku pulang Aku mengecek HP dan melihat banyak notif Aku
pun melihat nya dan melihat Arsya yang mencoba menghubungi ku.
📱"kak tolong ada orang di depan pintu, dia bawa pisau kak! "
Pesan terakhir adikku, Aku baru ingat bahwa adikku sangat penakut dan Aku langsung bergegas pulang untuk mengecek.
Sesampainya dirumah Aku melihat pintu terbuka dan melihat darah yang berceceran di depan pintu, Aku terkejut dan langsung masuk kedalam rumah, Aku melihat adikku yang sedang bermain HP dengan santai.. Awalnya aku sempat berpikir jika dia disini lalu darah diluar darah siapa? Lalu aku langsung bertanya kepadanya "Apa ada orang masuk?" Tanya ku
"Tidak ada, ada apa kak? Memangnya siapa yang masuk? Tanya kembali adikku, ini aneh.. Dan aku berkata " Kamu bukan adikku dimana adikku kamu sembunyikan?" Tanya ku..Arsya terdiam dan menatap ku, tatapannya aneh dan menakutkan lalu dia berkata "sudah ketahuan ya? ". Tubuhku terasa kaku tak bisa bergerak, mulutku tak bisa bersuara, namun pikiranku sibuk " lalu, siapa dia? dimana adikku? apa dia adalah orang yang disebut adikku sebelumnya? " pikirku. Aku mencoba kabur namun seperti ada yang menahanku. "Oh Tuhan apakah ini akhir hidupku?" Batinku.
Tatapannya… bukan tatapan Arsya yang kukenal sejak kecil. Itu bukanlah adikku. Dingin, Kosong. Seperti menatapku tanpa jiwa.
Aku mencoba berteriak, tapi suaraku seperti tertelan udara malam.
“Di mana Arsya?!” batinku menjerit.
Tiba-tiba lampu rumah berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu mati.
Gelap.
Hanya cahaya layar ponsel dari tangannya yang menerangi wajahnya. Wajah itu perlahan tersenyum… terlalu lebar.
BRAKK!
Suara pintu kamar belakang terbuka sendiri.
Dan dari arah sana… terdengar suara yang sangat kukenal.
“Kak…”
Itu suara Arsya.
Aku menoleh perlahan. Di ujung lorong gelap… berdiri sosok Arsya. Wajahnya pucat. Bajunya penuh noda merah gelap. Tangannya gemetar.
“Jangan percaya dia…” bisiknya lirih.
Aku menatap kembali ke arah “Arsya” yang duduk di sofa.
Kosong.
Sofa itu kosong.
HP tergeletak di atas meja.
Aku mundur perlahan. Jantungku berdegup sangat kencang.
“Dia masuk setelah aku pulang…” suara Arsya terdengar lagi. “Dia bukan manusia…”
Tiba-tiba suhu ruangan terasa sangat dingin. Nafasku terlihat seperti uap.
Dari balik dinding… terdengar suara goresan. Seperti sesuatu yang berjalan mengitari rumah.
“Kak…” Arsya mendekat pelan. “Dia suka meniru… Dia suka mengambil tempat orang…”
SREEETTTT…
Dari langit-langit ruang tamu, terdengar suara retakan.
Dan tepat di atas kami… muncul bayangan panjang… seperti seseorang yang merayap di plafon.
Aku spontan menarik tangan Arsya dan berlari ke luar rumah.
Begitu sampai di halaman… aku menoleh.
Rumah kami gelap total.
Tapi di jendela ruang tamu… ada seseorang berdiri.Itu aku, tapi bukan aku
Dia tersenyum.
Dan melambaikan tangan.
Aku terpaku.
Di jendela itu… “aku” masih berdiri. Senyumannya terlalu lebar. Matanya tak berkedip.
Arsya menggenggam tanganku erat.
“Kak… jangan lihat matanya…” bisiknya gemetar.
Tapi sudah terlambat.
Bayangan di jendela itu tiba-tiba menghilang.
Lalu…
KREKK…
Pintu rumah terbuka perlahan sendiri.
Angin malam berhembus dingin. Lampu jalan di depan rumah tiba-tiba padam.
Suasana jadi sunyi. Terlalu sunyi.
“Kita nggak boleh masuk lagi…” kata Arsya pelan. “Dia kuat di dalam rumah.”
Aku menelan ludah. “Kuat? Maksud kamu apa, Sya?”
Arsya terdiam beberapa detik, lalu berkata lirih, “Sejak ayah meninggal… rumah ini tidak pernah benar-benar kosong, Kak.”
Jantungku seperti berhenti.
“Apa maksud kamu?”
“Aku sering dengar langkah kaki tengah malam. Kadang ada yang berdiri di depan pintu kamar. Aku pikir cuma perasaan…”
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari dalam rumah.
📱 Ting!
Aku refleks melihat HP-ku.
Pesan masuk.
Dari… Arsya.
📱 “Kak aku di kamar… jangan buka pintu untuk siapa pun.”
Tanganku gemetar.
Aku menoleh ke Arsya yang berdiri di sampingku.
Dia juga melihat layar HP-ku.
Wajahnya pucat.
“Itu bukan aku…”
Kami perlahan mundur.
Lalu dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki. Pelan… menyeret.
SRET… SRET…
Dan suara itu berhenti tepat di balik pintu.
Kemudian terdengar suara yang sama persis dengan suaraku.
“Sya… masuklah. Kakak di sini.”
Arsya langsung memelukku.
“Itu dia… dia bisa meniru siapa saja…”
Aku berpikir cepat. Kalau dia meniru suara dan wajah… berarti dia butuh sesuatu untuk meniru.
“Ingat nggak, Sya… waktu kamu bilang ada orang di depan pintu?”
Arsya mengangguk.
“Dia mungkin nggak pernah benar-benar pergi…”
Tiba-tiba lampu jalan menyala kembali.
Dan saat cahaya menerangi halaman…
Aku melihat sesuatu di depan pintu rumah.
Bercak darah itu… bukan bercak biasa.
Itu seperti… tanda.
Seperti simbol yang digambar dengan darah.
Dan tepat di tengah simbol itu… ada foto keluarga kami.
Foto lama.
Foto saat aku, Arsya, ayah, dan ibu masih lengkap.
Tapi…
Wajahku di foto itu sudah tercoret.
Dan di bawahnya tertulis:
“Satu akan tinggal.”
Angin berhembus kencang.
Arsya berbisik pelan, “Kak… dia nggak cuma mau rumah ini…”
Aku menatap simbol itu dengan napas tercekat.
“Dia mau salah satu dari kita.”
Aku menatap tulisan itu.
“Satu akan tinggal.”
Arsya menggenggam tanganku lebih erat. Tangannya dingin.
“Kak… mungkin dia nggak bisa keluar dari rumah,” bisiknya.
Aku menatap pintu yang masih terbuka sedikit. Gelap pekat di dalam, seperti menunggu.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Motor ayah…” kataku pelan.
Motor sport peninggalan ayah masih terparkir di samping rumah. Arsya tadi pulang pakai itu. Kalau kita bisa pergi sekarang…
“Kita pergi dari sini,” kataku tegas.
Kami berlari ke arah motor. Arsya mencoba menyalakannya.
Starter pertama… gagal.
Starter kedua…
Dari dalam rumah terdengar suara langkah cepat.
BRAKK!
Pintu rumah terbanting keras.
Starter ketiga—
Mesin menyala.
Aku langsung naik ke belakang Arsya. Tanpa menoleh lagi, kami melaju meninggalkan rumah.
Angin malam terasa menusuk wajahku. Aku menoleh sekilas ke belakang.
Rumah kami tampak biasa saja.
Lampu menyala.
Tenang.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Kami berhenti di ujung jalan. Napas kami masih terengah.
“Apa kita kembali lagi?” tanya Arsya.
Aku ragu.
Rumah itu satu-satunya tempat yang kami punya.
Tapi kalau benar ada sesuatu di dalam…
Tiba-tiba HP-ku berbunyi lagi.
📱 Pesan dari nomor tak dikenal.
“Alea… kamu lupa sesuatu.”
Aku membeku.
Nomor itu mengirim foto.
Foto ruang tamu rumah kami.
Dan di sofa… duduk seseorang.
Aku.
Memegang pigura foto keluarga.
Tapi yang membuatku lebih dingin dari angin malam adalah—
Di foto yang kupegang… hanya ada ayah dan ibu.
Tidak ada Arsya.
Tidak ada aku.
Aku menatap Arsya perlahan.
“Foto keluarga… yang tadi kamu lihat… ada kita berdua kan?” tanyaku pelan.
Arsya mengangguk cepat. “Ada, Kak.”
Aku menunjukkan foto di HP.
Arsya terdiam lama.
Wajahnya berubah.
“Kak…” suaranya mengecil. “Itu foto asli.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Apa maksud kamu?”
Arsya menatapku… tatapan yang tiba-tiba terasa asing.
“Kak… waktu kecelakaan itu…”
Napasnya gemetar.
“Yang meninggal bukan cuma ayah dan ibu.”
Dunia terasa berputar.
“Apa yang kamu bicarakan?”
Arsya menelan ludah.
“Kak… yang selamat cuma aku.”
Sunyi.
Suara jangkrik malam tiba-tiba hilang.
HP-ku bergetar lagi.
📱 “Sudah waktunya kamu pulang.”
Dan perlahan…
Ingatan itu datang.
Kilatan cahaya.
Suara benturan.
Jeritan.
Dan gelap.
Aku mundur satu langkah.
“Sya… kamu bercanda kan?”
Arsya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Kak… selama ini… yang tinggal di rumah itu bukan aku yang ditemani kamu…”
Suaranya pecah.
“Aku yang menemani kamu.”
Mesin motor mati sendiri.
Lampu jalan kembali padam.
Dan dari arah rumah…
Terlihat satu sosok berdiri di tengah jalan.
Wajahnya mirip denganku.
Tersenyum.
Menunggu.
Sosok itu berdiri di tengah jalan.
Wajahnya… wajahku. Tapi lebih pucat. Lebih kosong.
Arsya turun dari motor perlahan.
“Kak… sekarang aku ingat semuanya,” ucapnya lirih.
Aku merasa langkahku berat. Seperti ada sesuatu yang menarikku kembali.
“Waktu kecelakaan itu… kamu duduk di sebelah ayah,” lanjut Arsya. “Benturannya paling keras di sisi itu…”
Potongan ingatan menghantamku.
Cahaya lampu dari arah berlawanan.
Suara rem panjang.
Lalu hening.
Air mataku jatuh tanpa terasa.
“Aku… meninggal?” suaraku hampir tak terdengar.
Arsya menangis. Untuk pertama kalinya sejak kecil, aku melihat dia menangis seperti anak kecil lagi.
“Iya, Kak… Tapi kamu nggak pernah pergi. Kamu tetap ada di rumah. Kamu bangunin aku buat sekolah. Kamu kerja bareng aku. Kamu selalu bilang kita harus kuat…”
Dadaku terasa sesak.
Jadi selama ini… aku bukan yang bertahan.
Aku yang tertinggal.
Sosok di tengah jalan itu mendekat perlahan. Wajahnya tidak lagi tersenyum. Tatapannya lembut.
Bukan ancaman.
Tapi panggilan.
“Dia bukan mau ambil siapa-siapa,” bisik Arsya. “Dia cuma mau kamu pulang.”
Angin malam terasa hangat sekarang. Tidak lagi dingin.
Aku mengusap air mata Arsya.
“Maaf ya… Kakak ninggalin kamu duluan,” ucapku pelan.
Arsya menggeleng cepat. “Jangan pergi… Aku masih butuh Kakak…”
Hatiku hancur.
“Aku nggak pernah benar-benar ninggalin kamu, Sya,” kataku sambil tersenyum tipis. “Selama kamu kuat… aku selalu ada di doa kamu.”
Sosok itu kini berdiri tepat di sampingku.
Aku merasa ringan.
Sangat ringan.
Aku menatap Arsya untuk terakhir kalinya.
“Jangan tinggal di masa lalu. Hidup yang baik. Cari kebahagiaan kamu sendiri.”
Air mata Arsya jatuh deras.
“Kak…”
Perlahan, tubuhku mulai terasa seperti cahaya yang tertiup angin.
Tidak sakit.
Tidak menakutkan.
Hanya… perpisahan.
Pandangan terakhirku adalah Arsya yang berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang kembali menyala.
Untuk pertama kalinya sejak delapan tahun…
Dia benar-benar sendirian.
#Sad ending #horor #Sad #Misteri